Botram atau Mayor

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

DALAM lagu kebangsaan Indonesia Raya sudah jelas bahwa pembangunan itu harus didasari dengan membangun jiwa rakyatnya. 

Kepesatan teknologi komunikasi yang tidak terpikirkan sebelumnya telah menyeret-nyeret pikiran dan perasaan penggunanya karena kelebihan berita yang masuk ke alat yang berada di genggamannya, baik berita yang benar maupun berita bohong, yang direkayasa sedemikian rupa untuk membangkitkan amarah, kebencian, dan permusuhan. 

Percikan api itu dengan cepat menyulut sekam kering dengan kayu bakar kemiskinan, kesenjangan sosial, ketiadaan teladan dari kalangan pemimpin, dari alim ulama yang berpolitik praktis, serta dari para guru yang terlalu disibukan dengan urusan administrasi ketimbang mengajar dan mendidik para siswanya. 

Maka, kobarlah api ketika kebencian memercik, menjadi kebakaran sosial yang bisa meluas ke mana-mana.

Berita televisi tentang korupsi di lembaga eksekutif, legislatif, pimpinan partai, mafia kehutanan, mafia migas, mafia beras, mafia daging, mafia garam, mafia kedelai, dan lain-lain, dengan penuh kesadaran, mereka telah membegal uang negara, uang rakyat juga, bermiliar-miliar, bertriliun-triliun jumlahnya. 

Vidio tentang begal-membegal kekayaan negara itu kemudian diunggah di televisi, kemudian dibagi-bagikan dengan mudah di media sosial oleh yang melihatnya. Sehingga, hanya dalam hitungan detik, berita itu sudah tmenyebar ke mana-mana. 

Sementara rakyat kebanyakan, untuk mendapatkan uang Rp 50.000,00 sehari, susahnya setengah mati, berangkat subuh pulang menjelang petang, kadang tak mendapat uang dalam jumlah itu.

Kebencian kepada para koruptor, kepada para politisi busuk, kepada mereka yang seharusnya menjadi teladan, kepada mereka yang seharusnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan semakin berkecambah dalam lingkungan masyarakat perkotaan yang lingkungan tempat mereka tinggal semakin sesak, bising, panas, tidak aman, tidak nyaman, dan bau dari berbagai kotoran kendaraan, limbah pabrik, rumah potong hewan, dan sampah rumah tangga.

Keadaan yang menyesakkan itu harus dicari jalan keluarnya agar hidup dan berkehidupan di perkotaan menjadi lebih nyaman dan aman. Tata ruang kota harus dirancang akrab lingkungan, hijau karena tumbuh pohon peneduh, banyak ruang terbuka hijau, taman kota yang benar-benar teduh dengan pohon dan bangku-bangku yang dapat digunakan untuk saling bertegur sapa dalam suasana yang nyaman. 

Kompleks perumahan harus dirancang dan dikontrol pembangunannya agar sesuai dengan rancangan adanya ruang terbuka hijau dengan pohon peneduh.

Apartemen, rumah susun, rumah deret, rumah petak, rumah lapis, apapun namanya, harus menyediakan lahan di bawah, walau hanya 300 meter persegi, untuk warganya berkebun, menanam cengek dan sayuran, disertai ruangan terbuka untuk berkumpul.

Membangun kenyamanan, keamanan bermasyarakat di tengah kehidupan perkotaan yang hiruk-pikuk, inilah hal yang disebut sistem senjata sosial. 

Upaya penanganan masalah perkotaan secara sosiologis, antropologis, psikologis perlu terus diusahakan secara berkesinambungan. Perlu adanya kebijakan dan keinginan semua pihak yang harus dilaksanakan dengan azas kesukarelaan dan kegembiraan untuk berlangsungnya suatu kegiatan, mulai dari yang paling pucuk di setiap daerah sampai ketua RT. 

Bila sudah berjalan dengan baik, bergerak dengan sendirinya, rasakan perubahan itu dalam beberapa bulan berikutnya, akan ada gagasan-gagasan positif lainnya untuk memperbaiki tatanan kemasyarakatan di lingkungan mereka tinggal.

Sistem senjata sosial yang sering dilakukan masyarakat adalah botram atau mayor, istilah yang dipakai di Pameungpeuk, Garut, yaitu berupa gerakan masyarakat satu RT untuk berkumpul pada suatu waktu yang telah disepakati, bertempat di lingkungan mereka tinggal, bahkan ada yang digelar di jalan atau gang. 

Acaranya tunggal: makan bersama. Tidak perlu ada ceramah itu-ini, dengan berkumpul dan bercengkerama saja sudah lebih dari ceramah motivasi. 

Berkumpul, saling berbagi, saling merasakan lalap dan sambal yang beragam jenis, lauk pauk dengan bumbu yang beragam merupakan kegembiraan yang terbangun di satu RT. 

Dua atau tiga bulan berikutnya kegitan serupa dilaksanakan berulang. Tidak perlu jauh-jauh, cukup di lingkungan sendiri, agar semua bisa hadir untuk saling bercengkerama sambil makan.

Kegiatan itu harus menjadi gerakan masyarakat di lingkungan paling kecil. Tidaklah perlu menjadi program pemerintah kota atau kabupaten yang ditingkatkan menjadi program nasional, yang biasanya hanya arak-arakan setengah hari mobil hias yang memajang berbagai sumber bahan pangan, yang menghabiskan anggaran bermiliar-miliar. 

Acara botram atau mayor harus tetap menjadi gerakan masyarakat di tingkat paling bawah. Kalau wali kota atau bupatinya berkenan datang, masyarakat pasti akan bersyukur. 

Dengan ketentuan tak tertulis yang harus dipatuhi, siapapun yang datang wajib membawa rantang sendiri dan makanan tambahan untuk berbagi dengan warga lainnya.

Inilah sistem senjata sosial yang nyata dan sering dilakukan secara tidak disadari oleh masyarakatnya. Bila hal ini terus dilangsungkan, akan terjadi perubahan yang baik di lingkungannya. Ada kecenderungan, bila hanya dilakukan oleh negara, biaya untuk pembinaan sistem senjata sosial akan jauh lebih mahal daripada membangun sistem senjata teknologi karena cakupan sistem senjata sosial ini meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosbud, psikologi, HAM, dan metafisika. 

Inisiatif warga melalui acara botram atau mayor dua bulanan di lingkungan terkecilnya akan membawa dampak rentetan kebaikan yang panjang yang bermuara pada rasa kekeluargaan, ketentraman bermasyarakat, ketertiban, dan keamanan warga kota sebagai anggota masyarakat Indonesia yang majemuk dan multibudaya.***