Sungai Sebagai Pembatas

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

"Pada zaman dahulu, Tuhan telah menciptakan sungai untuk memisahkan Pulau Jawa dari Kerajaan Sunda, dan begitu pula sebaliknya." - Tome Pires, Suma Oriental.

Pastilah bukan karena alasan itu, melainkan hanya karena alasan kemudahan. Sungai dengan alirannya yang panjang, lebar, dan mudah dikontrol batasnya.

Begitu pun dalam sejarah perjalanan sejarah Kerajaan Sunda yang menjadikan sungai sebagai pembatas kekuasaan. Sungai-sungai besar di Tatar Sunda, seperti Ci Sadane, Ci Tarum, Ci Manuk, mengalir dari rangkaian pegunungan selatan ke utara, bermuara di Laut Jawa.

Pada saat itu, muara-muara sungai di Laut Jawa yang lebih tenang keadaan yang dapat disinggahi perahu-perahu dari berbagai negara dengan mudah, kemudian berkembang menjadi bandar-bandar yang ramai. Tome Pires melaporkan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Kerajaan Sunda, semuanya berada di muara sungai di laut utara, yaitu:

  1. Pelabuhan Banten (Bantam)
  2. Pontang (Pomdag)
  3. Cigede (Chegujde)
  4. Tangerang (Tamgara)
  5. Sundakalapa (Calapa)
  6. Pelabuhan Cimanuk (Chemano). 

Dalam laporan Tom Pires, batas Kerajaan Sunda itu sampai aliran Ci Manuk: "Batas kerajaan ini mencapai Ci Manuk. Sungai ini ditumbuhi pohon di sepanjang aliran, dan kabarnya, pohon-pohon di masing-masing sisi nemiliki cabang yang menyentuh tanah dan condong ke arah masing-masing negeri. Pohon-pohon ini berukuran besar dan menjulang tinggi dengan cantik." 

Contoh lain, ketika Raja Tarumanagara ke 13, Tarusbawa, mengganti nama kerajaannya menjadi Kerajaan Sunda pada tahun 670 M, tentu Kerajaan Galuh yang masih setia kepada Tarumanagara tidak setuju, dan menjadi alas an untuk memisahkan diri dari kekuasaan Tarusbawa. Galuh memberikan pilihan, Wilayah Kerajaan Tarumanagara harus dibagi dua, dengan batasnya Ci Tarum. Dari sungai ini ke sebelah barat menjadi wilayah Kerajaan Sunda, dan sebelah timur Ci Tarum menjadi wilayah Kerajaan Galuh.

DAERAH aliran Sungai Citarum yang tercemar limbah industri dan pendangkalan memisahkan Kecamatan Katapang dan Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Rabu (15/8).

Tiga prasasti

Berbeda dengan yang dilaporkan Tome Pires, batas Kerajaan Sunda dalam catatan putra mahkota Kerajaan Sunda Bujangga Manik, berada lebih ke sebelah timur dari Ci Manuk, yaitu di Ci Pamali (J Noorduyn dan A Teuw, 2009): Pelabuhan yang ramai di muara Ci Sadane, dilaporkan Tome Pires, "Pelabuhan ini bernama Chegujde (Ci Gede). Di pelabuhan ini terdapat kota yang bagus. Orang-orang yang melakukan perdagangan di sini berasal dari Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung, dan tempat lainnya. Jung-jung merapat di pelabuhan. Di pelabuhan ada seorang kapten yang sangat penting. Kawasan ini menghasilkan beras, sayuran, merica, dan banyak bahan makanan."

Ci Sadane dan anak-anak sungainya sangat penting dalam perjalanan sejarah di Tatar Sunda, karena di tempuran Ci Anten dan Ci Aruteun dengan Ci Sadane, di sana terdapat tiga prasasti peninggalan Maharaja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara, yaitu Prasasti Pasir Muara, Prasasti Telapak Gajah atau disebut juga Prasasti Kebonkopi dan Prasasti Ciaruteun.

Ketika terjadi pengaruh yang sangat kuat dari Kesultanan Banten atas Kerajaan Sunda, maka ada sebagian wilayah Kerajaan Sunda yang diserahkan kepada Kesultanan Banten, dengan kesepakatan Ci Sadane menjadi batas wilayahnya. Sebelah barat Ci Sadane menjadi wilayah Kesultanan Banten, dan dari Ci Sadane ke sebelah timur menjadi wilayah Kerajaan Sunda.

Karena sungai yang dijadikan pembatas kerajaan, maka ada bagian dari wilayah yang tidak termasuk ke dalam Kerajaan mana pun, tak bertuan, karena berada di luar batas itu. Sungai yang dijadikan contoh semua hulunya berada di pegunungan selatan dan bermuara di utara di Laut Jawa.

Kawasan merdeka

Ci Tarum, hulunya di Gunung Wayang (2.181 m dpl), Kabupaten Bandung, mengalir ke utara-barat, bermuara di Muaragembong, Ujungkarawang, panjangnya hampir 300 km. Ci Sadane, sungai yang hulunya di Gunung Pangrango dan Gunung Salak, Kabupaten Bogor, dengan panjang sungai 126 km bermuara di sekitar Tanjungburung. Demikian juga Ci Manuk, sungai yang hulunya di Gunung Mandalagiri dan di kaki Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, mengalir sepanjang 180 km, bermuara di Laut Jawa, di Kabupaten Indramayu.

Di selatan Gunung Wayang, Gunung Pangrango, Gunung Salak, Gunung Mandalagiri Gunung Papandayan, yang termasuk ke dalam rangkaian pegunungan selatan yang berarah barat-timur, tidak termasuk dalam kesepakatan antara kerajaan-kerajaan yang membagi-bagi wilayah kekuasaannya. Kawasan itulah yang menjadi kawasan yang merdeka. Tak ada raja di sana, semua warganya adalah warga yang merdeka.

Inilah sesungguhnya jawaban atas pertanyaan mengapa kampung-kampung adat yang masih tersisa sampai sekarang berada di lembah dalam rangkaian pegunungan selatan tersebut. Secara fisik, kawasan itu relatif sulit ditembus, sehingga bila ada warga di kerajaan manapun di utara rangkaian puncak-puncak gunung yang menjadi titik awal batas kerajaan tidak setuju terhadap rajanya, atau kalah dalam berperang karena lemah dalam sistem senjata teknologi dan sistem senjata sosialnya, maka mereka yang tidak mau tunduk pada penguasa baru akan lari ke arah selatan.***