Luar-léor

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SEWAKTU melintas di Jalan Setiabudhi, dekat gerbang kampus UPI, tiba-tiba saya merasakan ban belakang sepeda saya menggerinjal. Saya berhenti dan menoleh ke belakang. Baru saya sadari bahwa sepeda saya telah melindas seekor ular kecil, kira-kira seukuran kelingking, berwarna hitam. Saya bergidik dan terus pulang dengan rasa bersalah.

Bukan kali itu saja. Sudah beberapa kali saya melihat bangkai ular sejenis di tempat yang sama. Binatang-binatang kecil itu tewas di tengah keramaian lalu lintas. Kulitnya mengering dan melekat pada permukaan aspal.

Pengetahuan saya mengenai kerajaan ular benar-benar nihil. Saya juga bukan penonton yang loyal buat program Nat Geo Wild yang menampilkan sepasang pawang ular dengan tubuh berhiaskan tattoo.

Saya hanya bisa menduga-duga. Mungkin ular-ular kecil itu berasal dari rerimbun perdu di lingkungan kampus. Mungkin juga mereka muncul dari selokan di tepi jalan. Saya tidak tahu.

Segera saya sampaikan berita ular kepada Gilang, juga kepada ibunya. Anak kami masih belajar di sekolah dasar di lingkungan kampus UPI. Hampir tiap hari, mau panas atau hujan, dia dan beberapa teman sekelasnya bermain bola di halaman rumput UPI sepulang sekolah.

 “Jangan pernah kamu main bola tanpa sepatu, Jang! Ayah sudah beberapa kali ngeliat ular kecil di sekitar situ,” kata saya.

 “Temenku juga pernah ngeliat ular hitam kecil di dekat Museum Pendidikan,” ujar Gilang menimpali.

Saya ingat-ingat lagi pengalaman lain menyangkut ular. Sekali pernah, ketika Lulu, anak sulung kami, masih duduk di SMA, ada seekor ular kecil masuk ke rumah kami. Kami sekeluarga pagi itu panik betul dibuatnya. Tamu asing itu juga bersisik hitam dengan bagian bawah kuning gading.

Ukuran tubuhnya juga lebih kurang sebesar kelingking tangan saya. Hanya Mang Abo, pengangkut sampah di lingkungan kami, yang berani memindahkan heman kecil itu ke luar rumah. 

Dalam urusan ular, saya tidak seberani sahabat saya, Tata. Beberapa kali saya berkunjung ke rumahnya di Ciharalang. Beberapa kali saya ikut mendirikan salat magrib di kamar anaknya, Osa. Belakangan Tata dan Osa memberi tahu saya bahwa di rumah itu bukan hanya ada kucing dan anjing. Mereka juga memelihara seekor ular. Sejak itulah saya jadi tambah yakin bahwa sebaiknya saya menunaikan salat di masjid, bukan di kamar Osa.

Reinkarnasi

Entah kenapa saya jadi teringat pada sebuah buku tentang Sai Baba, orang suci dari India. Dalam buku yang ditulis oleh seorang pengikutnya, yang berasal dari Australia, ada cerita tentang penampakan ruh orang suci dalam wujud seekor ular.

Also Sai Baba of Shirdi had, it was said, on several occasions appeared to his followers in the form of a cobra (Juga Sai Baba dari Shirdi, konon, pernah dalam berbagai kesempatan menampakkan diri kepada para pengikutnya dalam wujud seekor kobra),” ujar Howard Murphet dalam Man of Miracles, buku tentang Sai Baba dari Puttaparti yang diyakini sebagai reinkarnasi Sai Baba dari Shirdi. (1971).

Rasa-rasanya, saya tidak termasuk ke dalam golongan orang yang percaya kepada reinkarnasi.

Pasti repot sekali jadinya jika ular kecil yang terlindas sepeda saya merupakan perwujudan dari, katakanlah, ruh seorang penulis kolom yang pada zaman kolonial mungkin suka keluar-masuk villa Meneer Beretty. Buat saya sendiri, gagasan tentang reinkarnasi bisa dijadikan alegori tentang kehidupan yang abadi.

Anak-anak ular pun, tentu, punya hak hidup. Adapun anak-anak manusia, pada masa kecil saya, pernah menjadikan oray (ular) sebagai idiom penting dalam salah satu permainan yang sangat populer. Itulah oray-orayan, permainan kanak-kanak yang merayakan kebersamaan dalam suasana penuh nyanyian. “Oray-orayan, luar-léor mapay sawah...

Sungguh, saya tidak mau melindas ular lagi, baik di Jalan Setiabudhi maupun di jalan lainnya.***