Ratatouille dan Snowball

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

KEPEMIMPINAN bukan hak ekslusif suatu kaum. Tidak pula menjadi hak istimewa sebuah kalangan, atau jatah khusus sebuah profesi. Pemimpin bisa datang dari kalangan pengusaha, tentara, polisi, ulama, guru, pedagang, artis, dan profesi lainnya.

Meski tidak semua orang bisa menjadi pemimpin hebat, faktanya pemimpin hebat bisa datang dari mana saja. Keragaman latar belakang Presiden Indonesia, seperti juga asal usul presiden di negara lain, membenarkan klaim ini.

Tidak sedikit orang yang melupakan realitas ini. Bahkan tak jarang, seorang pejabat yang berwenang mengangkat seorang pemimpin terkecoh, dan mengira seorang pemimpin hebat hanya datang dari kalangan tertentu. 

Adalah Remy, seekor tikus dari Paris, yang berjuang melawan stigma bahwa kaumnya tidak akan bisa menjadi koki hebat (baca: pemimpin). Meski Remy memiliki bakat memasak, tidak seorang pun memercayainya bahwa dia bisa menjadi koki hebat. Niat Remy menjadi koki hebat tidak pudar meski cemoohan datang bertubi-tubi. Tekadnya menjadi koki hebat kian berlipat ketika mendapat inspirasi dari perjuangan Auguste Gusteau, seorang koki hebat, pengusaha restoran sukses, sekaligus penulis buku Anyone Can Cook.

Keyakinan Remy berbuah manis. Orang-orang bukan saja mengakui kehebatan hidangan racikannya, namun juga tak menyangka jika Remy sejatinya binatang pengerat. Kisah Remy disuguhkan dengan apik dalam film animasi garapan Pixar Animation Studios, 2007.

Jika Remy sukses menjadi koki hebat berkat bakat, tekad kuat, dan kemaun belajar dari pengalaman orang lain, Snowball menjadi pemimpin yang amat disegani komunitas binatang berkat kecerdasannya. Kisah Snowball dan kawan-kawan memerdekakan diri dari penindasan manusia dilukiskan dengan satir oleh George Orwell dalam Animal Farm, yang diterbitkan Longman Group Limited pertama kali pada 1945. 

Para binatang bukan hanya melakukan upacara bendera, tetapi juga menyusun undang-undang, membangun angkatan perang, dan tak lupa menggulirkan program baca tulis. Untuk meningkatkan taraf kesejahteraan warganya, mereka pun melakukan percepatan pembangunan infrastruktur, termasuk membuat kincir angin untuk menjamin ketersediaan pasokan tenaga listrik. Singkatnya, apa pun yang bisa dilakukan manusia, komunitas binatang ini bisa mewujudkannya, kecuali melakukan pertimbangan etis.

Pesan

Kisah Remy dan Snowball sekurang-kurangnya mengirim dua pesan berikut. Kesatu, lebih dari sekadar persoalan silsilah dan golongan darah, kepemimpinan adalah kemampuan unjuk kerja. Seorang pemimpin berpengaruh dan diikuti warganya karena kemampuan yang dia miliki. Kehadirannya seperti dokter yang bisa menyembuhkan orang sakit, penghibur mereka yang lara, dan datang menawarkan bantuan dan solusi. Kemampuan pemimpinlah yang membedakannya dengan pengikut, bukan semata-mata takdir menggariskan nasib yang berbeda.

Kedua, kepemimpinan lahir dari proses belajar menjadi pemimpin. Kepemimpinan tidak dibawa sejak lahir. Seperti Remy yang belajar dari Gusteau atau Snowball yang mendulang pengalaman dari puluhan buku, seperti itulah seorang pemimpin dilahirkan.

Alih-alih melihat silsilah dan golongan darah, pengalaman menangani urusan publik harus diletakkan sebagai poin pertama dalam menilai kelayakan seorang pemimpin. Warisan yang ditinggalkan adalah rapor paling sahih untuk menilai keberhasilan seorang pemimpin.

Kini nama-nama calon pemimpin sudah terdedah di depan mata. Tinggal dipilih kelirnya, diacak coraknya. Inilah "berkah" demokrasi yang harus dijaga, pemimpin datang dari mana saja.

Kebebasan setiap orang untuk mencalonkan diri gayung bersambut dengan hak warga untuk memilih. Itulah sebabnya, kartu suara lebih bertenaga ketimbang mesiu sekalipun. Dengan kartu suara pemilih bukan hanya memajumundurkan calon, tetapi juga menggaris nasibnya sendiri.***