Pengangkutan Kopi dari Bandung ke Batavia (1)

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SEBELUM jalan raya pos dibangun tahun 1810, hasil bumi dari Priangan, seperti kopi, diangkut dengan cara dipikul atau dimuat di punggung kerbau melalui jalan tanah sejauh 60-70 km dari Bandung ke dermaga sungai di Cikaobandung, di pinggir Ci Tarum, sekarang termasuk Kabupaten Purwakarta. Mengapa tidak melalui jalur sungai sejak dari Bandung? Bukankah ada Ci Tarum yang bermuara di Ujungkarawang, di Muaragembong sekarang? Bukankah Karapyak sebagai ibu Kota Kabupaten Bandung berada di sekitar tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum?

Pada tahun 2006, saya melakukan perjalanan menyusuri Ci Tarum setelah ada Danau Saguling, yang beroperasi pemakaiannya pada tahun 1985. Perjalanan mulai dari bendungan Saguling ke arah hilir sampai Bantarcaringin. Perjalanan dimulai dari bendungan Saguling kea rah hilir melewati  Leuwi Budah – Leuwi Eretan – Cukangbingin (sekarang terkenal dengan nama Cikahuripan) – Cukangrahong – Curug Hawu – Curug Halimun – Sanghyangheuleut – Sanghyangpoek – Sanghyangtikoro - Bantarcaringin.

Dari perjalanan itu dapat dimengerti mengapa di lintasan sungai di daerah ini tidak mungkin dilalui dengan cara menggunakan perahu atau rakit, karena: 1. Terdapatnya bongkah-bongkah batu berukuran bus, mini bus, elf, dengan bentuknya yang runcing dan mencuat. 2. Adanya jeram, parung, air terjun, seperti Curug Halimun yang tidak mungkin dapat dilalui perahu. 3. Di beberapa titik adanya penyempitan sungai, dari lebar sungai 60-80 meter menjadi hanya 10-14 meter, menjadi leherbotol, seperti di Cukangbingbin dan di Cikangrahong, tempat ini akan menjadi tempat yang sangat berbahaya saat berperahu, dan 4. Adanya lubuk, leuwi, dengan pusaran dan arus balik yang sangat kuat.

Dari bendungan Saguling ke arah hulu, sebetulnya masih ada beberapa lubuk dan air terjun, seperti dituturkan oleh pak Harun (56 tahun), yaitu: Leuwi Barah (menjadi tempat dibendungnya Saguling), Leuwi Batukarut, dan Leuwi Bedog, yang semuanya sudah terendam Danau Saguling.

Bagaimana keadaan lintasan Ci Tarum dari Dayeuhkolot sampai Parung Saguling/Leuwi Barah sebelum adanya bendungan Saguling, dituturkan oleh Iwan Bungsu, yang menjadi Ketua-2 Citarum Rally 1 - 1975, anggota tim survei Citarum Rally – 1975, dan Bidang Operasi Dewan Pengurus-6 Wanadri. Dalam Lomba Arung Sungai Citarum-2 – 1977, Iwan Bungsu menjadi ketua panita pelaksana, dan juga wakil ketua umum DP-7 Wanadri.

Pada tahun 1975, tim survei Wanadri untuk Citarum Rally 1 – 1975, mengarungi Ci Tarum dari Dayeuhkolot. Di lintasan Dayeuhkolot – Rajamandala ada dua parung/jeram yang besar dan berbahaya pada saat itu, yaitu Curug Jompong dan di Parung Saguling/Leuwi Barah, yang sekarang sudah menjadi bendungan Saguling. “Perahu kami angkat, lalu jalan darat melewati Curug Jompong. Pengarungan dilanjutkan dengan perahu dan rakit. Perahu terbalik di Parung Saguling/Leuwi Barah,” Iwan mengenang saat-saat survei 42 tahun yang lalu. Di Parung Saguling itu ada dua bongkah batu sebesar bis kota menyumbat aliran Ci Tarum, sehingga sungai menyempit membentuk turunan (drop). Setelah penyempitan dan turunan itu ada parung (jeram) dengan gelombang besar dan deras sejauh 50 meter. Waktu survei, kami memakai dua perahu karet dan satu getek. Kedua perahu karet terbalik dan getek hancur. Beruntung tidak ada korban, karena setelah 50 meter, aliran sungai relatif tenang, sehingga semua anggota tim dapat mendarat dengan baik dan selamat.

Setelah mengadakan pengamatan dari darat, diputuskan pengarungan lintasan antara Parung Saguling/Leuwi Barah – Rajamandala tidak dilanjutkan, kerana memperlihatkan arus dan medan yang dapat dikategorikan sangat membahayakan.

Survei dimulai lagi dari Rajamandala sampai Bayabang, di lintasan ini ada beberapa parung yang berbahaya, yang sekarang semua parung di lintasan ini beserta desa-desa di tepian Ci Tarum-nya sudah tenggelam di bawah Danau Cirata. Di lintasan Bayabang - Warungjeruk ada jeram besar, yaitu Parung Tonjong, parung yang sangat berbahaya. Karena itu lintasan ini tidak pernah dipakai dalam di Citarum Rally I - 1975 maupun yang kedua pada tahun 1977. Sekarang Parung Tonjong pun sudah tenggelam di dalam Danau Cirata.

Dari hasil penelusuran yang saya lakukan antara bendungan Saguling sampai Bantarcaringin, dan hasil survei dan pelaksanaan Citarum Rally 1 dan 2 yang dilaksanakan oleh Wanadri, dapat disimpulkan bahwa di Ci Tarum antara Curug Jompong – Rajamandala – Parung Tonjong tidak memungkinkan dapat dilintasi menggunakan perahu atau rakit bermuatan hasil bumi seperti kopi. Kenyataan morfologi sungai itulah yang menyebabkan, kopi dipikul dan dibawa di atas punggung kerbau melintasi medan bergunung-gunung antara Bandung ke Cikaobandung.

Panjang aliran Ci Tarum dari Bandung (+ 660 m dpl) sampai Cikaobandung (+ 40 m dpl), ada selisih kemiringan 620 meter sepanjang 125 km. Dengan ronabumi yang bergunung-gunung, pastilah aliran sungainya akan sangat deras dengan dasar sungai berbongkah batu sangat besar, serta adanya badan sungai yang menyempit di beberapa tempat.

Setelah sampai di Cikaobandung, kopi Priangan diangkut dengan perahu menuju Batavia.*