Telaah Cetak Miring

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SAYA baru selesai membaca buku Teori Budaya Kontemporer: Penjelajahan Tanda & Makna karya Yasraf Amir Piliang dan Jejen Jaelani (2018). Buku ini terbit beberapa waktu lalu dan disawalakan di kampus ITB, Selasa 13 Februari 2018 sore.

Bersama Acep Iwan Saidi, saya ikut nimbrung membicarakan buku terbitan Aurora dari Yogyakarta dalam forum tersebut. Kami berdua mendampingi Mang Jejen di hadapan puluhan hadirin. Adapun Pak Yasraf, saat itu, sedang mencari ilmu hingga ke negeri Tiongkok.

Kalau saya tidak salah baca, buku ini memperkenalkan apa yang disebut cultural studies kepada khalayak umum di Indonesia. Penulisnya membentangkan wawasan konseptual dan pendekatan teoretis, serta membahas sejumlah tema yang selama ini dikaji dalam kerangka disiplin tersebut. Uraiannya dipungkas dengan menyarankan pendekatan atau metode semiotik dalam kegiatan cultural studies.

Sebagai orang awam yang berminat pada kata-kata, saya melihat bahwa semiotika sudah tegak dalam bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah menyerapnya.

KBBI menerangkan "semiotika" sebagai kata benda yang artinya adalah "ilmu (teori) tentang lambang dan tanda (dalam bahasa, lalu lintas, kode morse, dan sebagainya)". Adapun "semiologi", menurut kamus yang sama, adalah "ilmu tentang semiotik". 

Tak tahulah saya soal tepat atau tidaknya penjelasan tersebut. Biarlah itu jadi urusan Pak Yasraf dan Mang Jejen. Yang pasti, sebagaimana strukturalisme, semiotika sudah jadi istilah Indonesia. Itulah sebabnya, dalam teks berbahasa Indonesia, semiotika dicetak tegak.

Cultural studies

Nasib yang berbeda terjadi pada cultural studies. Ia masih miring sebagai istilah asing. Menurut aturannya selama ini, tindakan cetak miring dikenakan antara lain terhadap istilah-istilah yang datang dari luar lingkungan bahasa Indonesia dan belum dianggap istilah setempat, mungkin seperti pemain sepak bola dari luar negeri yang belum mengalami naturalisasi. 

Di dalam teks berbahasa Indonesia, cultural studies tampak lain sendiri, terlihat menonjol, seperti minta diperhatikan, bagai sebatang rumput yang doyong tertiup angin. Seringkali istilah miring terasa mengganggu arus pembacaan, terlebih-lebih jika teks yang sedang dibaca mesti dilisankan. Berbeda dengan semiotika dan strukturalisme, istilah cultural studies menimbulkan bunyi yang belum bebas hambatan dalam pikiran pembaca Indonesia. 

Dalam buku itu sendiri, sebagaimana yang dapat dihitung berdasarkan indeksnya, istilah cultural studies dipakai 35 kali. Adapun istilah "kajian kebudayaan", yang barangkali lebih kurang sepadan dengan istilah yang disebutkan lebih dulu, dipakai setidaknya satu kali dalam Epilog di halaman 256 sebagaimana istilah "kajian budaya" dalam Prolog di halaman 11. 

Pak Yasraf dan Mang Jejen sendiri memakai istilah "studi kebudayaan" bagi sebuah wadah kegiatan mereka di ITB tempat keduanya mengajar. Saya tidak tahu, apakah istilah "studi kebudayaan" di situ dimaksudkan sebagai padanan tersendiri bagi cultural studies?

"Dalam konteks Indonesia, istilah cultural studies masih agak bermasalah ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini karena terdapat beberapa keilmuan yang bersinggungan. Jika kita menerjemahkannya sebagai kajian budaya, terdapat persinggungan dengan antropologi. Istilah kajian budaya, di banyak tempat di Indonesia, masih dipahami sebagai istilah lain yang mewakili konsep-konsep antropologi. Misalnya, terdapat beberapa kampus yang telah membuka studi Kajian Budaya, yang konten pembahasannya adalah antropologi, tetapi di beberapa tempat yang lain konten yang diajarkannya adalah cultural studies," urai kedua penulis tersebut.

Dengan kata lain, bahasa Indonesia masih kikuk dengan istilah cultural studies. Sebegitu jauh, belum ada keputusan, apa yang akan diperbuat dengan istilah yang satu ini? Mungkin buat sementara istilah ini akan dibiarkan saja sebagaimana keadaannya dalam bahasa Inggris. 

Dalam urusan seperti ini, penutur bahasa Indonesia memang belum tentu mau repot-repot mencari padanan istilah asing meskipun bahan-bahannya sebetulnya bukannya tidak ada. Bandingkan, misalnya, dengan apa yang dilakukan terhadap istilah print dari teknologi komputer. Alih-alih mengadaptasikan to print menjadi "mencetak", penutur bahasa Indonesia kedengarannya lebih nyaman dengan "nge-print" saja. 

Tentu, masih perlu banyak waktu, barangkali ratusan tahun, buat memastikan suratan nasib istilah cultural studies yang lebih pasti. Saya tidak tahu, apakah istilah itu akan bernasib sama dengan sejumlah aforisme turun-temurun dari bahasa Latin semisal ora et labora atau ars longa vita brevis?

Paragraf yang saya petik tadi, dalam nadanya, menyiratkan anggapan tentang perlunya memperkenalkan wawasan konseptual, pendekatan teoretis, bidang amatan, dan metode cultural studies ke tengah pasar malam keilmuan di Indonesia. Di tempat asalnya sendiri, di Eropa, disiplin tersebut kiranya sudah tumbuh setidaknya sejak 1960-an.

Adjektiva cultural tampaknya menimbulkan kesulitan tersendiri, yang barangkali lebih besar ketimbang beban yang terpaut pada nomina studies. Untuk menerjemahkan istilah cultural menjadi "budaya" atau "kebudayaan", barangkali ada kekhawatiran, jangan-jangan orang malah tidak beringsut dari tradisi akademis yang justru hendak diperbaharui atau diperkaya, atau bahkan ditinggalkan sama sekali.

Istilah "kebudayaan" hampir-hampir telanjur membawa orang ke dalam gambaran mengenai sesuatu yang ajeg dan luhur, "puncak-puncak" pencapaian di berbagai bidang humaniora, atau berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi dengan segala modifikasinya. 

Kontemporer

Selain cultural studies, ada satu istilah lagi dalam buku itu yang menarik perhatian saya, yakni "kontemporer". Istilah itu diserap dari bahasa Inggris, contemporary. Kalau saya tidak salah tangkap, penulis buku itu mempertautkan istilah "kontemporer" pada hal-ihwal yang terbilang kekinian dan dekat dengan kehidupan sehari-hari orang banyak.

Buat saya sendiri, buku ini turut memperkuat dorongan untuk melihat budaya sebagai urusan sehari-hari. Itulah urusan yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak. Kalau boleh saya meminjam kata-kata Dennis Dworkin, penulis buku History, the New Left, and the Origin of Cultural Studies (1997), budaya adalah "ekspresi pengalaman dan kehidupan sehari-hari (expression of everyday life and experience)". 

Dalam ungkapan yang lebih singkat, ia mengatakan bahwa "culture is ordinary". Setahu saya, ordinary itu biasa-biasa saja, lumrah adanya, umum sifatnya. Dengan kata lain, kebudayaan bukanlah urusan yang extraordinary alias luar biasa, yang hanya terpaut pada kehidupan para dewa. Kebudayaan ada di jalan raya, di pasar, di sampul majalah, di mana-mana. 

Kiranya, apa yang disebut "kajian budaya" atau "studi kebudayaan"adalah telaah kritis lintas disiplin atas praksis budaya sehari-hari. Setidaknya, begitulah yang saya tangkap dari kegiatan membaca buku karya Pak Yasraf dan Mang Jejen. Biar istilahnya masih miring, semangatnya toh sudah tegak.***