Ajat 1990

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

Sudah nonton film Dilan yang sedang booming itu? Jika sudah maka Anda akan lebih mudah untuk memahami apa yang tengah Anda baca ini, namun jika belum maka tulisan ini pun tetap takkan terlalu rumit untuk dipahami, Insya Allah.

Tuhan selalu baik untuk memberi saya inspirasi untuk menulis, termasuk melalui film Dilan yang kebetulan saya tonton saat pikiran masih terpaku pada hebohnya silang pendapat terkait tuntutan agar PT.PBB mengakomodasi para mantan Persib dalam kebijakan strategis, tak tanggung-tanggung pernyataan yang bertentangan dilontarkan oleh dua legenda Persib, Adeng Hudaya dan Ajat Sudrajat. Entah mengapa saat menonton film Dilan, justru banyak alur dan frame yang membuat saya teringat pada satu sosok legenda hidup Persib.

Film Dilan 1990 diangkat dari novel laris berjudul sama karya Pidi Baiq, film ini bercerita tentang remaja SMA bernama Dilan dengan framing kehidupan Bandung di tahun 1990. Dalam film itu memang tak dijelaskan apa Dilan suka seorang bobotoh atau bukan, namun tanpa harus menyukai sepak bola pun saya yakin Dilan yang hidup di Bandung pada tahun 1990 pasti tahu siapa itu Ajat Sudrajat.

Karena pada tahun itu berlaku “Ajat adalah Persib, Persib adalah Ajat”. Banyak orang seperti saya, yang mendengar nama Ajat Sudrajat jauh sebelum menonton Persib dan tahu apa itu sepak bola.

Hak legeg ala Ajat

Ungkapan “Ajat adalah Persib dan Persib adalah Ajat” saya dengar langsung dari Ajat Sudrajat, terkesan angkuh memang, namun bagi siapa pun yang pernah ngobrol tentang Persib dengan Ajat tentu takkan terkejut jika Ajat selalu sesumbar dan banyak bercerita tentang kehebatan dan pencapaiannya bersama Persib.

Beberapa kali saya berjumpa Ajat Sudrajat dan selalu menikmati cerita-cerita itu, bagi bobotoh seperti saya dan almarhum Ayi Beutik apa yang diceritakan oleh Ajat bukanlah suatu kesombongan namun fakta sejarah yang membanggakan yang harus terus diceritakan, penting tak hanya bagi para pelakunya namun kami, bobotoh yang juga terkena ekses dan selalu bangga hingga detik ini.

Saya dan Ayi Beutik pernah bersepakat bahwa Ajat selalu memiliki hak untuk sesumbar dan legeg karena dia memang telah memberi semuanya untuk Persib dan hingga kini belum ada yang melakukan lagi (saat itu Mang Ayi masih hidup dan Persib belum juara lagi). Semua mengakui kehebatan Ajat dan keidentikannya dengan Persib Bandung, bahkan masyarakat pun menganggap patung pesepakbola di jalan Lembong adalah patung Ajat walau otoritas yang membangun mengatakan bahwa patung itu tak merepresentasikan sosok siapapun. Ajat Sudrajat adalah legenda hidup sepak bola priangan, dan fase terpenting dalam perjalanan karirnya bersama Persib terjadi pada tahun 1990, ketika sukses membawa Persib menjadi juara perserikatan setelah dirinya melakukan hal serupa pada tahun 1986.

Pada tahun 1990 juga Ajat melakukan salah satunya aksinya yang paling heroik dan keren, ini terjadi di piala utama yang mempertemukan jagoan perserikatan dengan jagoan Galatama. Persib yang menjamu Arema di stadion Siliwangi sempat keteteran mengahadapi permainan arema malang yang keras dan kasar, keadaan berbaik ketika Ajat mampu mencetak gol walau dikawal tiga defender tangguh (termasuk Aji Santoso), yang terus dibicarakan adalah selebrasi Ajat yang mengacungkan jari tengah ke arah kubu Arema, perlu diingat bahwa ini terjadi saat rezim orde baru berkuasa, di mana semua orang akan berpikir seribu kali untuk melakukan aksi-aksi  yang dapat memicu kericuhan terlebih di teritori milik militer seperti stadion Siliwangi, dan sekali lagi saya ingatkan bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun 1990, tahun yang sama saat Dilan berjumpa Milea.

Bad Boy

Sperti kebanyakan pemain jenius, Ajat pun memiliki karakter bandel dan pemberontak, walau dari obrolan dengan Ajat indikasi itu dapat kita tangkap, namun lebih baik kita telusuri cerita orang-orang. Nama ajat yang doyan berkelahi serta membuat ciut nyali lawan karena doyan menantang dan wanian sudah lumrah kita dengar, namun bagaimana jika Ajat memang segila itu karena berani melawan birokrat? Dan cerita itu memang terjadi.

Kisah ringan pertama tentu kita awali dengan hengkangnya Ajat dari Persib, klub yang telah menjadi darah dan nafasnya.Pemicunya dalah pengurus tim yang dianggap tak becus dan tak memiliki komitmen, jika bobrok terlalu sarkas. Pengurus tim saat itu tentunya diisi oleh para pejabat dan birokrat pemkot Bandung.

Saya tak tahu siapa dan pengurus mana yang dimaksud Ajat, namun semoga itu hanya salah paham saja dan bukan pejabat tingkat tinggi, karena saya tahu betul bahwa almarhum Ateng Wahyudi, mantan walikota Bandung sangat sayang dan memanjakan Ajat Sudrajat, bahkan Pak Ateng pernah berpesan kepada anggota tim lain (termasuk ofisial) jangan sampai membuat Ajat ngambek menjelang pertandingan agar penampilannya optimal. Tentang keistimewaan-keistimewaan yang harus  Ajat dapatkan agar sang bintang tidak ngambek  pun saya dengar dari Max Timisela, yang juga legenda Persib.

Saat itu Max Timisela menjadi ofisial tim (jika tidak salah sebagai asisten pelatih), Ketika Persib lolos ke Senayan Jakarta Ajat Sudrajat selalu mendapat keistimewaan untuk pulang malam bahkan subuh, walau ada aturan yang ketat terlebih jika esoknya akan bertanding, namun tampaknya aturan hanya berlaku bagi pemain lain, pengurus pun tutup mata dan pura-pura tidak tahu. Esok paginya saat pemain lain melakukan latihan ringan menjelang pertandingan maka Ajat Sudrajat masih tertidur karena begadang semalaman, dan untuk mengamankan situasi maka Max Timisela yang pasang badan, intinya Ajat sedang istirahat dan Max yang bertanggung jawab.

Kenyataannya adalah Ajat Sudrajat selalu bisa menunjukkan performa terbaiknya jika mood terjaga, walau begadang dan melewatkan sesi latihan pagi namun pemain berambut kribo bernomor punggung 10 tetap bisa mencetak gol dan membuat senayan bergemuruh. Persib saat itu selalu menginap di hotel Kartika Chandra Jakarta jika bermain di fase final, Enang Sumpena, sesepuh Panjalu yang juga orang terpenting di Kartika Chandra saat itu pun memiliki cerita yang kurang lebih sama dan menguatkan cerita-cerita sebelumnya yang saya dengar.

Kisah kedua perseteruan Ajat Sudrajat dengan birokrat terjadi ketika Ajat sudah berbaju Bandung Raya, saat itu berlangsung derby Bandung antara Persib menghadapi Bandung Raya yang diperkuat Ajat Sudrajat. Sempat terjadi kericuhan di bench Persib yang seperti kebiasaan di masa lalu selalu diisi oleh para pejabat, cerita yang saya dengar belakangan cukup mengejutkan, dikabarkan Ajat berseteru dan menantang seseorang di bench Persib dan yang ditantang adalah walikota Bandung, Wahyu Hamijaya. Saat saya menanyakan kabar tersebut, Ajat menjawab “da urang teu apal eta walikota”, jawaban spontan yang membuat tertawa kami semua yang mendengarnya walau bisa jadi Kang Ajat hanya becanda ketika dia tak mengenal sosok walokota Bandung.

Namun benar juga kami pikir, bukan Ajat Sudrajat yang harus tau seseorang itu adalah walikota Bandung, tapi walikota Bandung lah yang harus tahu bahwa dia adalah Ajat Sudrajat. Beberapa kali saya bertemu, di jalan Gurame, stadion Siliwangi, dan di kantor pusat Bank Jabar Banten jalan Naripan saat Kang Ajat masih aktif bekerja di Bank Jabar Banten. Tiada pernah bosan saya mendengar ceritanya, walau akan selalu di dominasi cerita tentang dirinya, karena bagi saya hanya Ajat Sudrajat yang memiliki hak legeg jika bicara tentang Persib. 

Pesohor

Betapa hebohnya dunia ketika tersiar kabar hubungan antara David Beckham dan Victoria Adams ataupun Gerard Pique dan Shakira. Namun percayalah, jika bicara kisah tentang pesepakbola hebat dengan penyanyi wanita papan atas maka Indonesia telah memulainya puluhan tahun lebih dulu melalui Ajat Sudrajat dan Hetty Koes Endang.

Pada masanya kedua insan ini adalah pesohor sejati di bidangnya, bahkan popularitas mereka melampaui segmen masing-masing, tak perlu menjadi pecandu bola untuk mendengar kehebatan Ajat Sudrajat dan tak perlu menjadi penikmat musik sejati untuk mendengar betapa halimpunya suara Hetty Koes Endang. Cerita-cerita tentang mereka  tak perlu diperjelas dalam tulisan ini, namun beberapa gambar sampul album yang memasang gambar mereka berdua menegaskan bahwa kisah mereka belum tentu bisa disamai oleh generasi berikutnya.

Kami pernah juga sih kepo dan bertanya pada sang legenda mengapa kisah bak dongeng pangeran dan putri itu tak berlanjut, sekali lagi jawaban Kang Ajat Sudrajat membuat semua yang mendengar tertawa terbahak-bahak, namun tampaknya jawaban itu tak bisa saya tulis dalam tulisan ini, silakan bertanya langsung pada sang legenda hidup, si arab, si kepala emas....

Ajat Sudrajat, semoga sehat selalu.***