Terlihat Luas, Terasa Sempit

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

MEDIA sosial mengaitkan diri saya dengan beragam kelompok. Ada kelompok kerabat dekat, teman satu sekolah, rekan kerja, dan sohib sehobi. Ada pula beberapa kelompok yang untuk mudahnya saya sebut tematik, mulai dari peminat agama dan budaya hingga pecandu politik. Ciri umumnya adalah kesanggupan mengadakan reuni berkali-kali.

Sampai di situ, tidak ada yang istimewa. Lumrah kiranya jika saya berkelompok dengan orang lain yang saya kenal. Mana mungkin saya mau ikut arisan dengan orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali. Saya juga tidak merasa jadi “binatang jalang” seperti remaja Chairil Anwar yang “dari kumpulannya terbuang”.

Tidak pula istimewa jika saya tidak selalu terlibat sepenuhnya dalam perbincangan beragam kelompok. Kalau saja saya harus mengikuti beragam perbincangan dalam satu kesempatan, bisa-bisa otak saya tambah sinting. Lagi pula, hidup ini singkat, tak mungkin dihabiskan buat chatting. Cara yang mudah adalah terlibat sesekali saja. “Clear chat”, tentu, merupakan pilihan yang tak kalah mudahnya.

Jika kerumunan virtual macam itu sudah sedemikian memusingkan, tatakramanya mudah dipelajari. Saya tinggal berpura-pura ada masalah teknis dengan stupid phone saya, lantas saya minta izin buat keluar dari kerumunan. Saya kira, itu pun sudah biasa. Tak ada yang istimewa.

Hal yang luar biasa adalah sikap kolektif penghuni ruang cyber yang antara lain terhubung melalui beragam jejaring sosial. Setidaknya, gejalanya luar biasa menurut pendapat saya sebagai pemakai stupid phone yang tidak punya bakat jadi administratur kerumunan apapun.      

Sikap macam apakah gerangan? Baiklah saya coba menggambarkannya menurut apa yang saya rasakan.

Pada mulanya, sebagai bagian dari generasi yang sempat mengalami zaman pradigital, saya ikut gembira menyambut cara baru berkomunikasi. Di tengah keluasan ruang cyber, dengan beragam jejaring sosial, saya merasa beruntung mendapat informasi yang melimpah ruah, akses ke berbagai sumber pengetahuan, dan peluang buat meluaskan hubungan sosial. Oh, indahnya jagat yang oleh Marshall McLuhan disebut “Dusun Global” (Global Village). 

Lambat-laun, di tengah “dusun global” yang ramai ini, di tengah jejaring komunikasi yang luas ini, kepicikan sikap dan pandangan kolektif rupa-rupanya tidak mudah terkikis. Tabiat parokial rupa-rupanya tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Orang tetap saja cepat kaget, lekas cemas, dan gampang berang, terutama manakala timbul perbedaan di antara orang-orang yang berasal dari lingkungan budaya yang berlainan.

Saya tidak tahu apa istilah Indonesia yang sepadan dengan “deep culture. Yang pasti, dalam bukunya, Deep Culture: the Hidden Challenges of Global Living (2007), Joseph Shaules mengartikan istilah itu sebagai “makna, nilai, norma, dan asumsi tersembunyi, yang tidak disadari, dan mempengaruhi cara orang dalam upaya menafsirkan pengalamannya sewaktu berinteraksi dengan orang lain”.

Dalam diri kita rupanya mengendap semacam prasangka, atau mungkin sejenis sistem nilai, yang sedikit banyak mempengaruhi tanggapan kita atas cara hidup sesama dari lingkungan budaya yang berbeda. Pengaruhnya terasa terutama kalau kita pergi ke tempat asing. Pergeseran yang mungkin terjadi dari sikap “menampik” ke “menerima” ke “beradaptasi” kiranya bukanlah proses yang mudah. Orang cenderung ogah berubah, merasa betah dalam prasangkanya sendiri, dan seringkali cepat-cepat menghakimi. Itulah, saya kira, salah satu soal yang runyam bagi setiap upaya menjalin komunikasi antarbudaya.

Pengelompokan sosial melalui sarana komunikasi mutakhir, setidaknya yang saya alami, kelihatannya cenderung homogen secara kultural. Komunitas yang satu dan komunitas yang lain seperti paroki-paroki yang tak sempat membuat jalan terobosan untuk menghubungkan lingkungan mereka satu sama lain.

Di tengah kemudahan akses ke sumber-sumber informasi, prasangka kelihatannya justru kian mudah mendapat konfirmasi. Orang tinggal mencemplungkan kata kunci yang mewakili prasangkanya sendiri, dan secepat kilat dia pasti terhubung dengan begitu banyak orang yang memiliki prasangka serupa.

Baiklah, saya tak mau berkepanjangan dengan gejala demikian. Setidaknya, saya sendiri merasa beruntung mendapat gambaran yang baik mengenai hubungan antarbudaya.

Di rumah sahabat saya di Bandung, sejak beberapa waktu silam, tinggal seorang pelajar dari Itali yang datang ke sini dalam program pertukaran pelajar. Sementara itu, anak sahabat saya yang satu ini sedang menyiapkan diri untuk pergi ke Prancis dan tinggal di negeri itu dalam program serupa.

Beberapa kali saya berkunjung ke rumahnya. Saya lihat, perabotan rumah, mulai dari kulkas hingga televisi, ditempeli stiker bertuliskan nama masing-masing perabotan itu dalam bahasa Itali. Di situ saya mendapat gambaran betapa lalu-lintas antarbahasa memang merupakan bagian amat penting dari hubungan antarbudaya.

Saya sering mengadakan chatting dengan sahabat yang satu ini.***