Guguran Puing dari Gunung Salak

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

DARI Bogor, Gunung Salak terlihat sangat besar. Ke mana pun pergi, seolah gunung ini mengikuti, sehingga selalu terlihat dengan jelas. Banyak sekali orang yang terobsesi oleh gunung ini, satu di antaranya adalah Daendels, yang menginginkan foto resmi dirinya dengan latar Gunung Salak.

Dalam segel Kota Bogor zaman kolonial terdapat gambar Gunung Salak dengan tiga kerucut utama. Demikian juga dalam lambang Kota Bogor pascakemerdekaan, Gunung Salak digambarkan dengan empat kerucut. 

Untuk ukuran sekarang, jarak antara Jakarta dengan Gunung Salak itu sesungguhnya terhitung cukup dekat, hanya sekitar 60 km. Ketika jalan yang menghubungkan Batavia dengan daerah-daerah di pedalaman belum dibangun, jarak itu, apalagi keadaan alam saat itu masih ada yang berupa hutan belantara, pastilah akan terasa sangat jauh. Pagi hari dari Batavia, akan terlihat dengan jelas Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango. Para penjelajah abad ke 19 awal, menyebut ketiga gunung itu “gunung biru”.

Karena Bogor sebagai pusat kerajaan, dan Gunung Salak begitu jelas terlihat wujudnya, maka dapat diduga, nama geografi salak itu diberikan oleh orang Bogor. Dari kota hujan inilah geomorfologi puncak gunungapi aktif tipe A ini nampak jelas seperti empat buah salak yang berjajar. Bentuk geomorfologi puncak yang seperti empat buah salak inilah yang telah menginspirasi warga Bogor dan sekitarnya untuk memberi nama gunung itu sebagai Gunung Salak.

Magma di dalam gunung ini terus memanasi tubuh gunung setiap saat. Tubuh gunung itu seolah terus-menerus dikukus tak mengenal jeda, sehingga bebatuannya menjadi berubah. Pengukusan tubuh gunung semakin sempurna dengan begitu melimpah-ruahnya air. Di dalam kawahnya terdapat aliran sungai, yaitu Ci Kaluwung (bukan Ci Kuluwung).

Ci Kaluwung, ci bermakna air atau sungai, dan kaluwung merupakan kependekan dari kawah luwung. Luwung berarti sepi, kosong, atau hampa. Ci Kaluwung, bermakna sungai yang mengalir dari dasar kawah yang sepi, kosong, atau hampa. 

Air meteorik diresapkan oleh akar pohon di hutan yang terjaga, lalu keluar dengan teratur di mata air. Di sekeliling Gunung Salak terdapat tujuh sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Ci Sadané, yaitu: sub DAS Cicurug, sub DAS Ci Jeruk, sub DAS Ci Kaluwung, sub DAS Gunungmalang, sub DAS Gunungpicung, sub DAS Tamansari, dan sub DAS Tapos.

Anak-anak sungai menuruni lereng di lembah-lembah yang curam dan dalam. Jumlah air permukaan dan air tanah di tubuh gunung yang melimpah, telah menyempurnakan sebab-sebab terjadinya guguran puing atau debris avalanche pada tahun 1699. Setelah kawasan Bogor termasuk Gunung Salak digoncang, gempabumi besar telah menyebabkan lereng sisi utara gunung ini termemarkan. Kemudian memicu guguran puing, membentuk lembah besar dan dalam seluasnya 4,75 km persegi.

Gunung Salak merupakan salah satu gunungapi strato aktif tipe A yang berada di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, yang diketahui meletus pada tahun 1780, 1902, 1919, 1935, dan 1938. Pentarikhan yang dilakukan oleh Christopher J Harpel (2015), endapan lahar, dan piroklastik, menunjukkan bahwa Gunung Salak pernah meletus besar secara eksplosif sekitar 37,5 ka. Material letusannya kemudian mengendap di semua sisi gunung. 

Christopher J Harpel (2015) melakukan pentarikhan batang kayu yang tertimbun endapan aliran guguran puing, menghasilkan umur sekitar 4,5 ka. Dalam catatan kolonial Belanda, pada tahun 1699 M terjadi gempabumi besar dan longsoran besar yang bersumber dari dinding Gunung Salak, yang menyebabkan banjir di Batavia. Penelitian Harpel menghasilkan usia, bahwa batang pohon itu tertimbun sejak tahun 1699. 

Tentang gempa yang memicu longsor dinding gunung, pernah terjadi di Gunung Papandayan pada tanggal 10 November 2002. Ketika terjadi gempa yang disusul letusan tanggal 11 November 2002. Gempa itu telah memicu longsor di bagian dinding luar Kawah Nangklak, kemudian membendung hulu Ci Beureumgede.

Curah hujan yang lebat telah menambah beban yang sangat besar. Sehingga bendungan alami itu bobol petang harinya, yang menggerus ladang, jembatan, pemukiman, dan menimbun jalan yang menghubungkan Kota Garut dengan Cikajang sepanjang 2 km. Letusan Gunung Papandayan mencapai puncaknya pada tanggal 20 November 2002 (T Bachtiar, 2013).

Guguran puing yang dipicu oleh gempabumi merupakan bahaya gunungapi nonletusan yang harus diwaspadai, karena kejadian seperti ini pernah terjadi pada tahun 1699. Kewaspadaan perlu terus ditingkatkan, mengingat di sepanjang sungai yang sudah dipadati oleh pemukiman warga, seperti di tujuh sub DAS Ci Sadané.*