Gunung Salak Tidak Meletus Tahun 1699

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PERISTIWA kebumian yang besar, seperti letusan gunungapi dan longsor, banyak yang dikisahkan warga setempat dalam berbagai catatan, seperti catatan tentang letusan Gunung Krakatau 1883, Gunung Samalas 1257, dan letusan Gunung Tambora 1815. Peristiwa alam berupa gempa bumi dan tanah longsor pun tidak luput dari pengamatan kemudian diceritakan kembali dalam bentuk carita pantun, yaitu cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan, bahkan dinyanyikan. Dalam pantun Bogor pun diceritakan tentang gempabumi yang terjadi sangat besar.

Inotji Hajatullah (almarhum) menuliskan penggalan pantun itu dalam tulisannya di majalah berbahasa Sunda Balébat nomor 15 tahun 2010. Pada halaman 33 dikutip penggalan pantun Disaeurna Talaga Rancamaya: “Baheula mah Gunung Salak tara eureun ngelun bae di puncakna. Tapi harita mah, laju bae ngadadak eureun ngebulna. Kawahna ngadadak ngaguruh mani eundeur, lamping-lampingna loba nu arurug. Ti suku gunung terus ka jauh, taneuh ngariyeg deui ngariyeg deui. Ngariyegna, ngariyegna lila. Jagad sakalereun Gunung Salak dioyag-oyag lini gede nu terus noron ririntakan”.

Bila diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, zaman dulu, Gunung Salak tidak pernah berhenti mengeluarkan asap dari puncaknya. Tapi, pada waktu itu, bubungan asap mendadak berhenti. Kawahnya bergemuruh sampai bergetar. Lereng-lereng gunung banyak yang urug (longsor). Dari kaki gunung sampai jauh, tanah bergoyang lagi dan bergoyang lagi. Bergoyangnya, bergoyangnya lama. Begitu pun kawasan di utara Gunung Salak digoyang-goyang gempa besar terus beruntun.

Kapankah peristiwa gempabumi dan banjir bebatuan (guguran puing) yang diceritakan dalam pantun Disaeurna Talaga Rancamaya itu? Sangat mungkin terjadi pada tahun tahun 1699. Beritanya dilaporkan dalam Nederlandsch-Indisch Plakaatboek, 1602-1811 (Mr JA Van Der Chijs, 1886), seperti yang dikutip oleh Saleh Danasasmita (1983), “Dataran tinggi antara Batavia dengan Ci Sadane, di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta yang disebut Pakuan, yang asalnya berupa hutan besar, setelah terjadi gempabumi, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pepohonan sama sekali.

Permukaan tanah tertutup oleh tanahliat merah yang halus, seperti yang biasa digunakan tukang tembok. Di beberapa tempat telah mengeras, sehingga dapat menahan beban langkah yang berjalan di atasnya. Tetapi pada tempat-tempat lain, orang dapat terbenam sedalam satu kaki.

Di tempat bekas keraton yang disebut Pakuan, yang terletak di antara Batavia dan Ci Sadane, belum pernah terjadi bencana lain yang menyebabkan tanah tersobek dan pecah terbelah-belah menjadi retakan-retakan besar yang lebih dari satu kaki lebarnya”.

Untuk meneliti gempabumi yang telah menyebabkan aliran Ci Liwung di dekat muaranya tersumbat sepanjang beberapa ratus meter, pemerintah kolonial mengirimkan ekspedisi Ram dan Coops tahun 1701 ke kaki Gunung Pangrango. Ekspedisi ini melaporkan, bahwa tidak terdapat berita mengenai nasib penduduk di sepanjang Ci Liwung.

Saleh Danasasmita (1983) berkeyakinan, bila pada tahun 1701 penduduk Kampungbaru masih bisa mengantar Ram dan Coops, dan diberitakan aliran Ci Keumeuh ambles ke dalam tanah, kemudian sobekan dapatlah diperkirakan, bahwa tanah yang terbelah hebat itu antara Ci Liwung dengan Ci Sadane.

Pertanyaannya, apakah pada tahun 1699 itu terjadi letusan Gunung Salak atau guguran puing itu hanya dikarenakan oleh gempabumi besar, yang menyebabkan terjadinya guguran puing dari puncak Gunung Salak yang menghadap ke arah barat-laut. Tentang hal ini terdapat dua pendapat, yang perlu diselesaikan dengan melakukan penelitian yang mendalam. Verbeek & Fennema (1896) dalam tulisannya De Salak, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh K Kusumadina (1982), menegaskan bahwa, “Letusan Gunung Salak pada tahun 1699 itu tidak terjadi, sehingga harus dicoret dari daftar gejala letusan gunungapi”.

Dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia (edisi kedua) yang disusun dan diterbitkan oleh Badan Geologi tahun 2011, dalam bagian sejarah letusan Gunung Salak, masih menuliskan bahwa: “tahun 1668-1699 terjadi erupsi samping dan erupsi normal, erosi yang merusak lingkungan di Gunung Salak II. Erupsi berupa letusan magmatik”.

Tekateki letusan atau bukan letusan yang terjadi pada tahun 1699 terjawab oleh hasil penelitian Christopher J Harpel
(2015) dari Earth Observatory of Singapore. Harpel menulis bahwa endapan vulkaniklastik yang terdapat di sekitar Gunung Salak menyimpan sejarah letusan eksplosif dan aliran guguranpuing. Endapan Lahar dan piroklastik menunjukkan bahwa Gunung Salak pernah meletus eksplosif sekitar 37,5 ka dan 25 ka. Deposit 37,5 ka hadir di semua sisi gunungapi, menunjukkan letusan besar.

Batang kayu yang terdapat dalam endapan aliran guguranpuing menghasilkan umur sekitar 4,5 ka. Dari laporan kolonial Belanda, pada tahun 1699 M terjadi gempabumi besar dan longsoran besar atau guguranpuing yang bersumber dari dinding Gunung Salak, yang menyebabkan banjir di Batavia (sekarang Jakarta), dan membendung tiga sungai, yaitu Ci Liwung, Ci Pinanggading, dan Ci Apus. Dari batang pohon yang terdapat dalam endapan aliran guguranpuing di Ci Apus dan di tiga sungai lainnya, penelitian Harpel menghasilkan usia yang sama, bahwa batang pohon itu telah tertimbun sejak sekitar 1699 M.

Christopher J Harpel menegaskan, dari hasil penelitiannya itu ia menolak kemungkinan terjadinya letusan Gunung Salak pada tahun 1699. Harpel beralasan karena sangat sedikitnya kandungan batuapung atau skoria yang terdapat dalam deposit aliran guguranpuing tahun 1699. Hal ini menyiratkan tidak pernah terjadinya letusan yang berbarengan dengan guguranpuing.***