Persib, PSMS, dan Fakultas Hukum

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

JANGAN mengira hari ini adalah hari minggu biasa. Ini adalah hari spesial yang dinanti-nanti. Tanyakan saja kepada 30.000-an bobotoh yang telah membuat tiket pertandingan malam nanti di GBLA sold out.

Apresiasi boleh kita berikan kepada mereka yang akan hadir langsung di GBLA nanti malam. Karena hanya mereka yang mau melakukan usaha seriuslah yang kini memegang tiket resmi.

PSMS Medan, itulah tamu spesial yang membuat animo bobotoh begitu tinggi untuk menyaksikan laga lanjutan Piala Presiden, Minggu 21 Januari 2018 malam. Begitu banyak alasan yang layak disodorkan untuk menjelaskan mengapa pertandingan ini memang tak berlebihan untuk disikapi secara istimewa. Dari mulai alasan historis hingga kekinian. 

Namun, kali ini kita akan memulainya dari sebuah fakultas di perguruan tinggi.

Batak-Sunda di Fakultas Hukum

Entah bagaimana awal ceritanya, dunia hukum di negeri ini sangat identik dengan orang Batak. Memang begitulah adanya. Lihatlah berbagai profesi yang berkaitan dengan hukum, pastilah akan ada nama dengan embel-embel marga di sana, khususnya dunia advokat atau pengacara.

Maka tak perlu heran jika lingkaran perkenalan saya yang sehari-hari bergelut dengan dunia hukum ini cukup dominan dengan orang-orang Batak yang rata-rata selalu mengatakan mereka berasal dari Medan. Walau belakangan ternyata runut kerabatnya adalah asli Toba, Samosir, Mandailing, Deli Serdang, dan lain sebagainya.

Medan terhadap Sumatera Utara dan orang batak ibarat Bandung terhadap Jawa Barat dan urang Sunda. Ada semangat primordialisme yang selalu relevan walau dunia semakin global dan konteks kebangsaan semakin mengerucut.

Karena bicara konteks kebangsaan tak lantas melunturkan naluri kebanggaan terhadap identitas lokal, termasuk klub sepak bolanya, PSMS. Empat huruf itu selalu mereka andalkan untuk menegaskan hal itu.

Semenjak kuliah di Jurusan Hukum Unpad, maka saat itu pula saya terbiasa dengan lingkungan yang antusias bicara tentang klub bola lokal selain Persib. Karena untuk kategori mahasiswa pendatang teman-teman saya yang berdarah Batak jumlahnya memang banyak dan tak sungkan serta sangat ekspresif ketika berkumpul. 

Hal ini justru berbeda jauh dengan karakter mahasiswa tuan rumah (baca: barudak Bandung) yang cenderung kalem, tidak ekspresif, someah, dan membaur sehingga eksistensi mahasiswa Bandung memang menyebar dan tak terlalu eksplisit ataupun dominan. Suara kawan-kawan Batak saya yang keras, lantang, berpadu dengan kemampuan beretorika.

Karakter yang ngotot dan tak gentar serta gigih terkait suatu hal sangat menunjang ambisi mereka untuk menjadi pengacara andal, profesi yang sangat jamak menjadi impian orang Batak yang berkuliah di jurusan Hukum. Fakta pun bicara seperti itu. Siapa tak mengenal Ruhut Sitompul ataupun Hotman Paris Hutapea misalnya. Ada nama Unad yang melekat dalam riwayat akademis mereka baik jenjang S1 maupun S3.

Sedangkan urang Bandung, Jawa Barat, Sunda memiliki karakter yang tak sama dengan kawan-kawan Batak mereka. Para pituin di kampus Padjadjaran ini kurang suka bicara meledak-ledak dan tak suka berkonflik apalagi ngotot terkait satu hal. Mereka lebih suka diplomasi dan bicara dalam tensi yang rendah, retorika orang-orang sunda adalah retorika khas yang tak vulgar.

Mereka pun dikenal sebagai para pemikir di dunia hukum. Maka walaupun urang Sunda ada yang menjadi pengacara namun orang-orang akan lebih familiar dengan nama-nama seperti Mochtar Kusumaatmadja, Romli Atmasasmita, Komariah Emong Sapardjaja, ataupun Komar Kantaatmadja. Mereka adalah urang-urang Sunda bertitel profesor (guru besar hukum) yang sukses dan mampu mewarnai khazanah hukum Indonesia dalam konteks akademis sebagai dosen dan birokrat. Mereka memberi sumbangsih melalui pemikiran dan gagasan.

Sepakat atau tidak rupanya stigma terkait karakter urang Sunda dan Batak ternyata melekat juga dalam ciri khas tim kebanggaan dari dua daerah itu. Setidaknya di masa perserikatan, karena di masa itu kedua tim memang dihuni oleh putra-putra daerah alias PSMS adalah Sumatera Utara dan Persib adalah Jawa Barat. Sehingga analogi dan benang merah itu tampak ketika kita bicara karakter khas para pemain yang identik dengan etnis tertentu.

PSMS identik dengan permainan keras, simpel, lugas, heroik yang khas karena berkaitan dengan kehormatan yang dibebankan kepada para pria (orang Batak menganut patrilineal yaitu menarik hubungan kekerabatan dari pihak laki-laki) dan "rap-rap". Sedangkan Persib selalu dikenal karena permainan cantiknya. Kombinasi bola pendek yang cepat dari kaki-ke kaki sangat mengandalkan kerja sama serta pergerakan harmonis para pemain dari lini belakang hingga lini depan.

Romansa Senayan

Persib dan PSMS sama-sama memiliki tempat khusus dalam sejarah sepak bola Indonesia. Kedua tim ini layak disebut dalam jajaran tim legendaris tanah air yang kebesarannya terkadang tak tenggelam walau prestasi tim dalam kondisi terpuruk sekali pun. Sekian peristiwa pernah tertoreh.

Namun, tentunya yang paling fenomenal adalah pertemuan kedua tim di final Perserikatan tahun 1985. Ini adalah pengulangan partai final dua tahun sebelumnya yang juga mempertemukan kedua tim. 

Di final ini, lagi-lagi Persib takluk dari PSMS. Namun yang luar biasa adalah tak ada kerusuhan walau sekitar 145.000 pendukung Persib memenuhi Stadion Senayan hingga sentel ban. Jumlah total penonton yang saat itu diperkirakan mencapai 150.000 orang menjadi rekor dunia untuk jumlah pertandingan sepak bola amatir dan belum terpecahkan hingga saat ini. 

Persib-PSMS pun seringkali disebut sebagai musuh bebuyutan. Karena memang di masa jayanya pada periode pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, punggawa kedua tim selalu itu-itu saja alias tidak banyak berubah. Sehingga pertemuan kedua tim acapkali dianggap sebagai lanjutan dan ajang balas dendam dari laga-laga sebelumnya.

Baca: Tegangnya Dua Laga Final Persib vs PSMS Tahun 1980-an yang Fenomenal

Namun, kini tampaknya istilah musuh bebuyutan dalam arti riil sudah tak lagi relevan karena materi pemain setiap musim seringkali berubah banyak terlebih kebiasaan klub Indonesia yang doyan mengontrak pemain hanya satu musim. Tak cukup kedua tim yang menyandang titel legendaris, pendukung kedua tim pun layak mendapatkannya. Karena pendukung PSMS dan Persib terbukti telah eksis sejak puluhan tahun lalu, sejak era perserikatan, jauh sebelum tren kelompok suporter dengan embel-embel mania menjamur di negeri ini.

Medan dan Bandung memiliki kultur sepak bola dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, sebagai suporter "senior" di belantika sepak bola nasional, maka sangat wajar jika tercipta rasa segan dan saling mengakui di antara pendukung kedua tim.

Dalam konteks kekinian, kondisi lebih unik jika melihat komposisi pemain PSMS yang dihuni pemain muda, termasuk lima pemain asal Jawa Barat. Ini bak antitesis tim tuan rumah yang justru dikecam karena dianggap terlalu banyak memelihara pemain tua.

Aroma sakit hati mau tak mau tercium walau disangkal sekuat apapun. Semua terakumulasi menjadi motivasi yang mengerikan. Persib jelas harus waspada.

Namun, ingat... Ini Bandung Bung! Tak ada tamu yang boleh berpesta usai peluit panjang berbunyi!***