Kontes Cowok Galau

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

DALAM penglihatan saya yang rabun, pemilihan kepala daerah Jawa Barat adalah kontes cowok sampul (coverboy) yang kontestannya susah mencari pasangan. Semua kontestan, dari model iklan hingga pensiunan, punya kesanggupan menghiasi sampul majalah.

Setidaknya, berkat Photoshop, wajah mereka terpajang di berbagai persimpangan. Masing-masing sibuk mematut diri, dan seakan tidak punya cukup waktu buat menjalin chemistry dengan sesama pesolek.

Di antara mereka, ada kontestan yang sempat mengalami semacam kawin-cerai beberapa kali sebelum menemukan pasangan resmi. Ada kontestan yang sempat galau, tapi pede lagi setelah kepala keluarga partainya menyeruduk tiang listrik. Ada pula pasangan yang baru bisa tampil pada detik-detik terakhir menjelang kontes, seperti pengantin yang rombongannya terjebak dalam kemacetan lalu-lintas. 

Saya tidak tahu, adakah semacam kawin paksa atau kawin pura-pura dalam urusan ini. Sebagai penonton tayangan infotainment, saya hanya bisa ikut merasa kasihan. Dalam imajinasi saya, pasangan-pasangan itu seperti sedang membangun rumah tangga yang cekcok. Mereka hanya punya waktu lima tahun buat mengurus ini dan itu, tak terkecuali harta gono-gini.

Sebetulnya, semua itu tidak saya pedulikan benar. Lagi pula, siapapun kelak yang tampil sebagai wali kota, gubernur, dan presiden, saya toh akan tetap membayar tagihan bulanan, mengantar anak ke sekolah, dan bersin-bersin di musim hujan.

Tidak ada hal baru di muka bumi. Setelah riuh-rendah kampanye nanti, politik pasti berjalan begitu-begitu saja. 

Dogdog pangréwong

Celakanya, baru-baru ini, ada sebuah partai politik yang salah sangka terhadap diri saya. Partai yang satu ini mungkin menyangka diri saya paham politik, padahal sesungguhnya tidak sama sekali.

Bersama rekan-rekan dari UPI, Unpad, dan ITB, saya diundang untuk ikut mengomentari rumusan visi dan misi sejumlah pasangan bakal calon pemimpin daerah tingkat dua. Rekan-rekan komentator sih memang tergolong pakar di bidang masing-masing, mulai dari politik dan pemerintahan hingga ekonomi dan pendidikan. Teman baik saya, yang ikut mengurus partai itu, rupanya memerlukan diri saya sebagai sekadar dogdog pangréwong.

Forumnya terselenggara di Bandung selama dua hari berturut-turut, tapi saya hanya sanggup bertahan sehari. Alhamdulillah, pengalaman baru yang singkat itu memberi saya banyak pelajaran terutama mengenai bahasa dan budaya politik. Sangat boleh jadi, kesan yang saya dapatkan di situ sedikit banyak dapat dipertautkan dengan pemilu gubernatorial.

Sekadar gambaran, baik saya petik presentasi salah satu pasangan yang sempat saya simak. Dalam rumusan visi dan misinya, pasangan itu antara lain mengedepankan apa yang mereka sebut "paradigma surgawi". Saya tidak tahu, apa maksudnya. Namun, saya amat takjub dibuatnya.

Pesan mengada-ada

Ketika saya mendapat giliran berkomentar, saya katakan bahwa memang politik adalah semacam industri harapan. Pesan-pesan kampanye, hampir-hampir seperti siaran keagamaan, dirakit dan dirancang sedemikian rupa supaya menggugah sebanyak mungkin orang. Harapan politisi mesti selaras dengan harapan banyak orang. Setahu saya, memang tidak ada harapan yang lebih tinggi ketimbang "surga".

Akan tetapi, kata saya selanjutnya, politik dan pemerintahan toh dilangsungkan di muka bumi. Tak usahlah memakai kata-kata bersayap yang melambung terlampau tinggi. Salah-salah, pesan yang mengada-ada bisa melenting jatuh menimpa muka sendiri.

Para penyeru pesan keagamaan sih masih jauh lebih beruntung. Jika kata-kata ahli agama tidak terbukti, orang banyak toh masih bisa berharap pada kehidupan setelah mati. Adapun para politisi tidak seberuntung itu. Jika lima tahun kemudian kata-kata politisi tidak terbukti, habislah kepercayaan publik terhadap mereka.

Untuk mencari contohnya, tak perlu jauh-jauh. Pada tahun 2014 Gubernur Ahmad Heryawan mengatakan bahwa air dari Sungai Citarum pada tahun 2018 akan dapat diminum. Apa daya tahun yang dijanjikan kini telah tiba tetapi Citarum tetap keruh. Walhasil, alih-alih menjernihkan air sungai yang tercemar, pejabat provinsi sibuk menjernihkan kata-kata atasannya sendiri.

Pilkada gersang

Hal kedua yang saya komentari adalah kurangnya stand-up comedy. Selama menyimak presentasi enam pasangan dalam sehari, saya merasa jauh dari gelak tawa.

Ada, misalnya, bupati yang mempresentasikan statistik bagus dari daerahnya, berupa "indeks pembangunan manusia", tapi angka-angka itu tidak jadi bahan baginya untuk memikat hadirin. Bukan maksud saya politisi mesti melucu kayak badut, melainkan mesti membunyikan data-data andalannya biar akrab di telinga pendengarnya. 

Walhasil, pada hemat saya, pilkada di Jawa Barat hari ini, tak terkecuali untuk tingkat provinsi, masih akan ditandai dengan sedikitnya dua gejala rutin, yakni metafora usang (dead metaphor) dan penampilan gersang.

Dengan kata lain, cowok-cowok galau itu kiranya bakal begitu sibuk berupaya agar tidak tampil buruk di depan kamera. Soal perbaikan bahasa dan budaya politik, apalagi hajat hidup orang banyak, entah akan dijadikan pertimbangan keberapa.***