Itu (Bukan) Patung Persib

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

PEKAN lalu, HU Pikiran Rakyat memberitakan tentang rencana sekelompok bobotoh yang ingin mendirikan Taman Makam Pahlawan Persib. Gagasan ini dimaksudkan sebagai persembahan dan penghargaan bagi mereka yang semasa hidup telah berjasa untuk kebesaran nama Persib.

Selain fungsi makam, kelak tentunya bangunan ini akan menjadi semacam monumen untuk Persib dan para penggemarnya. Umumnya arsitektur maupun bangunan dalam konteks sepak bola senantiasa memiliki fungsi ganda sebagai monumen yang bernilai historis. Misalnya saja, stadion yang biasa digunakan oleh sebuah klub sepak bola.

Sebenarnya ada satu monumen khas sepak bola yang tak bisa kita temui di sembarang kota, itu adalah patung. Patung bisa kita artikan sebagai bentuk seni tiga dimensi yang eksistensinya dimaksudkan bertahan lama. 

Tak semua kota memiliki patung sepak bola walau kota itu lekat dengan sepak bola. Beberapa patung sepak bola yang cukup terkenal di luar negeri antara lain: patung Boby Moore, Bill Shankly, dan Thiery Henry di Inggris. Ada pula patung Gabriel Omar Batistuta, Messi, hingga Cristiano Ronaldo.

Sementara di Indonesia saya mencatat hanya ada tiga kota yang memiliki patung sepak bola. Yang pertama adalah Makassar, Semarang, dan Bandung. Makassar memiliki patung Ramang, salah seorang pemain terbaik tanah air sepanjang sejarah. Patungnya dulu berada di Lapang Karebosi sebelum dipindahkan ke area Pantai Losari sekarang.

Sementara Semarang memiliki patung Ribut Waidi, legenda PSIS era 1980-an. Patung ini berdiri kokoh di area Stadion Jatidiri. Persamaan dari patung di Makassar dan Semarang adalah sama-sama dimaksudkan untuk menggambarkan figur pemain tertentu, sama seperti patung pemain bola di luar negeri.

Tulisan ini bermaksud sedikit meluruskan kekeliruan yang telanjur berkembang terkait patung pemain bola yang berada di Jalan Lembong, Kota Bandung.

SEJUMLAH bobotoh Persib Bandung yang tergabung dalam kelompok suporter Viking melakukan aksi mencuci patung pemain bola di persimpangan Jln. Lembong dan Jln. Sumatera Kota Bandung, Selasa (17/7). Aksi tersebut dilakukan sebagai perayaan ulang tahun Viking

Bukan figur personal

Bandung memiliki cukup banyak patung yang berdiri di ruang publik. Namun yang paling terkenal tentunya adalah patung pemain sepak bola di persimpangan Jalan Tamblong-Lembong. Patung ini menjadi tujuan akhir konvoi yang dilakukan kelompok bobotoh Viking jika mereka merayakan ulang tahun setiap bulan Juli.

Patung ini biasanya mereka cuci, walau tak jelas juga apakah patung ini menjadi lebih bersih atau tidak. Namun, alasan terkuat adalah karena mereka yakin bahwa patung ini adalah patung tentang Persib, klub yang mereka idolakan sekaligus paling berpengaruh dalam hidup.

Namun, apa benar ini adalah patung tentang Persib? Sebelum kita bahas lebih lanjut, menarik juga ketika sebagian masyarakat justru lebih spesifik lagi menyebutnya sebagai patung Ajat Sudrajat, ada juga yang menganggapnya sebagai patung Robby Darwis. Ajat dan Robby sama-sama identik dengan Persib walau pernah berbaju lain selain Persib.

Polemik ini perlu kita jawab secara historis dan filosofis. Dan orang yang paling tepat untuk menjelaskan adalah pemegang otoritas tertinggi Kota Bandung saat itu, yaitu almarhum Bapak Ateng Wahyudi, mantan Wali Kota Bandung periode 1983-1993.

Pak Ateng sangat identik dengan Persib karena di masa kepemimpinannya Persib meraih kejayaan. Bahkan, ada satu cerita ketika seluruh kepala daerah dikumpulkan oleh mantan Presiden Soeharto, Pak Ateng dipanggil ke depan bukan dengan sebutan wali kota Bandung namun sebagai ketua Persib.

Sebelum beliau berpulang pada tahun 2009, saya sempat menjumpai dan berbincang dengan almarhum di kediamannya saat itu di Jalan Ariajipang Bandung. Salah satu yang saya tanyakan tentu tentang patung di Jalan Tamblong-Lembong tersebut.

Jujur saja, jawabannya cukup membuat terkesima. Bahwa sesungguhnya patung tersebut bukanlah ditujukan untuk Ajat Sudrajat ataupun Robby Darwis. Bahkan untuk Persib pun tidak.

Pak Ateng mengatakan bahwa sesungguhnya patung itu dipersembahkan untuk seluruh warga kota yang dianggap sangat gandrung dan menggilai olah raga sepak bola, tak peduli dia suka Persib atau tidak. 

Sebenarnya melalui jawaban itu pula kita bisa melihat sosok Ateng Wahyudi yang benar-benar bisa mengayomi seluruh warga, walau sangat menguntungkan jika diklaim sebagai patung Persib yang secara nyata masih berafiliasi dengan organisasi yang dipimpinnya saat itu. Namun, Pak Ateng memilih untuk mendedikasikan patung itu untuk seluruh warga kota. Pak Ateng ingin menegaskan bahwa Bandung adalah kota sepak bola. 

Tentang persepsi masyarakat yang mengaitkan keberadaan patung itu dengan Persib hingga beberapa sosok pemain seperti Ajat Sudrajat dan Robby Darwis, tentu merupakan hak setiap orang dan sangat wajar masyarakat memiliki asumsi seperti itu. Karena memang saat patung itu dibuat nuansa "persepakbolaan" memang sangat kental dengan Persib. 

Pak Ateng tak menyalahkan dan mempermasalahkan persepsi dan asumsi yang telanjur berkembang. Hanya saja, menyampaikan jika yang benar adalah hal yang disampaikannya.

Tulisan ini menyampaikan kebenaran dan apa yang semestinya diketahui oleh bobotoh muda dan generasi selanjutnya, terlepas dari anggapan dan cerita turun-temurun tentang patung ini.

Akan ada guyonan yang selalu relevan terkait patung ini, yaitu tentang mengapa selalu tak ada polisi di stopan Jalan tamblong-Lembong? Jawabannya adalah: karena jika ada polisi dan polisi itu meniup peluit maka patung itu akan menendang bolanya. 

Garing memang bagi mereka yang sudah pernah mendengar bodoran ini. Tapi, cobalah ceritakan pada mereka yang belum pernah mendengarnya. Kemungkinan Anda akan dianggap sebagai orang yang sangat humoris dan tengah melontarkan lelucon brilian.***