Kelor dari Cimenyan

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

NASIB saya sekeluarga di penghujung tahun 2017 lumayan baik. Alhamdulillah, kami tidak terkena wabah difteria. Kami pun terhindar dari turisme lalu-lintas yang memacetkan jalur menuju Lembang hingga Subang. 

Di sebuah hotel di Dago, saya dan anak saya ikut diskusi terbatas soal Pancasila. Menjelang malam tahun baru, kami sekeluarga pergi ke Cimenyan di belahan timur laut Bandung.

Teman saya Faiz Manshur memang punya cara yang aneh buat menyambut tahun 2018. Bersama Enton Supriyatna dan sejumlah teman lainnya dari Yayasan Odesa Indonesia, ia mengadakan “Dialog Publik Malam Tahun Baru”. Ia mengundang para petani Cimenyan, termasuk anak-anak mereka. Ia pun mengundang dosen, wartawan, seniman, pengusaha, dan politisi.

Acaranya rupa-rupa. Dari siang hingga petang, ada kegiatan belajar masak hingga belajar tari. Dari petang hingga larut malam, ada diskusi. Jika Ceu Ine Arini mengajak anak-anak menari, Kiai Maman Imanulhaq memimpin ibu-ibu berdoa. Saya sendiri ikut mengisi diskusi sebagaimana seniman Herry Dim, ekonom Arief Anshory Yusuf, ahli teknologi informasi Basuki Suhardiman, dan penerbit Ahmad Baiquni.

Tadinya saya berpikir bahwa berdiskusi bukanlah ide yang baik buat menyambut tahun baru. Namun, saya membayangkan saung dari kayu jati di punggung bukit. Berangkatlah saya pagi hari sebelum lalu-lintas kota tambah macet. Anak-anak dan istri saya ajak melaju ke arah Ujungberung, lewat Sukamiskin, naik ke Pasirimpun hingga Babakan, Cimenyan. Di situlah, sambil berwisata, kami mendapat
banyak pengetahuan baru, mulai dari sejarah kemiskinan hingga khasiat daun kelor.

Cimenyan Dulu dan Kini

NAMA Cimenyan dipakai di sejumlah tempat di Jawa Barat. Selain di Bandung, nama yang sama dipakai antara lain di Cianjur. Menyan sendiri adalah getah pohon Kimenyan yang dipadatkan, dan kalau dibakar akan menimbulkan dupa. Wanginya barangkali sampai ke langit, tercium oleh para dewa.

Cimenyan di Bandung termasuk ke dalam wilayah purba. Para peneliti kebumian, mulai dari Werner Rothpletz hingga R.P. Koesoemadinata, memasukkan Bukit Cimenyan Selatan dan Utara ke dalam daftar tempat ditemukannya beragam artefak purba antara lain artefak batu, besi, dan keramik.

Pada zaman kolonial, Cimenyan adalah desa yang termasuk ke dalam Distrik Ujungberung Wetan, Kabupaten Bandung. Sebagaimana Cileunyi, Cibiru, Cilengkrang, Ciporeat, Pakemitan, Sindanglaya, Cikadut, dan Ciburial, kawasan Cimenyan dahulu jadi tempat usaha partikelir. 

Di situ, misalnya, perusahaan partikelir Panglipoergalih menanam pohon kina hingga permulaan abad ke-20. Catatan mengenai masa lalu Cimenyan yang sampai ke dalam ingatan saya tidak selalu menyenangkan. 

Sebuah koran Belanda dari tahun 1922 melaporkan bahwa seorang ibu dari Cimenyan mengubur anaknya yang masih hidup. Pada tahun 1952 sebuah koran Belanda lainnya melaporkan bahwa 500 orang warga Cimenyan ikut program transmigrasi ke Sumatra.

Hari ini Cimenyan adalah kecamatan di wilayah Kota Bandung. Keadaannya masih tidak selalu menggembirakan. Penelitian seniman Tisna Sanjaya, mengenai “revitalisasi budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui karya seni”, antara lain mencatat hilangnya 10 mata air di Kecamatan Cimenyan karena tertimbun proyek perumahan.

Betapapun, ada juga sih ingatan yang sedap. Coba simak catatan mendiang mendiang Her Suganda dalam Jendela Bandung (2007). “Peuyeum Bandung dari Cimenyan terkenal karena bahan bakunya menggunakan jenis singkong Jepang. Rasanya lebih enak, manis, dan bisa lebih tahan lama. Sayang, sekarang ini jenis singkong tersebut sudah sangat jarang. Para perajin terpaksa menggunakan jenis
singkong mentega atau kadapa,” tulisnya.

Khasiat Daun Kelor

SALAH satu kegiatan Yayasan Odesa Indonesia di Cimenyan adalah mendorong dan mendampingi kaum tani setempat dalam budidaya kelor (Moringa Oleifera). “Kelor adalah tanaman unggul yang layak dikembangkan oleh masyarakat petani Kecamatan Cimenyan. Manfaatnya hebat buat kesejahteraan keluarga,” tutur Faiz Manshur yang sejak beberapa tahun lalu tinggal di Cimenyan.

Sebelumnya, saya hanya mengetahui tanaman kelor dari sebuah buku jadul berisi pelajaran botani buat anak sekolah, Flora voor De Scholen in Indonesie (1951) karya C.G.G.J. Van Steenis. Tanaman Moringa itu disebut kelor oleh orang Sunda dan Jawa dan marongghi oleh orang Madura. Barulah di Cimenyan, dari Faiz, saya melihat langsung tanaman itu, terutama daunnya.

Pak Ruhiyat, 65 tahun, adalah salah seorang warga Cimenyan yang ikut serta dalam forum sawala. Katanya, sudah lama dia sering sakit kepala. Belakangan dia mencoba memanfaatkan daun kelor. Daun-daun itu dikeringkan, lalu diseduh, dan diminum. Alhamdulillah, kata kakek buat lima cucu ini, sakit kepalanya hilang sudah.

Saya tertarik oleh kisah orang tua itu. Jika Faiz berpendapat bahwa untuk keluar dari lingkaran kemelaratan orang perlu membudidayakan kelor, saya menambahkan pentingnya kaum tani memproduksi narasi sendiri mengenai rincian kehidupan mereka sendiri. Selain perlu mengakhiri sejarah kemiskinan, orang perlu juga perlu mengakhiri kemiskinan sejarah. Kaum tani adalah subjek sejarah itu sendiri.

Sehabis diskusi saya loyo sendiri. Begitu masuk ke dalam saung kayu jati, saya tertidur pulas sekali. Baru keesokan harinya, pagi-pagi, saya menyadari bahwa tahun telah berganti. Sebelum kami pulang, Faiz memberi kami puding kelor dari dalam kulkas. Enak sekali. Sungguh baik nasib saya sekeluarga pagi itu.***