Ritus Pemimpi(n)

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

RITUS pergantian tahun baru adalah do’a. Itulah sebabnya ada doa awal dan akhir tahun. Doa yang berisi seuntai harapan agar dikeluarkan dari tahun yang mau pergi, dan dimasukan ke dalam tahun yang akan datang, dengan kebaikan dan cara yang baik.

Harapan itu pula yang menggerakan jutaan orang larut dalam pesta pergantian malam tahun baru. Sebuah pesta yang digerakan oleh hubungan yang arbriter (hubungan yang dibuat-buat, dibiasakan oleh praktik yang berulang).

Namun harapan dan angan-angan bedanya amat tipis. Saking tipisnya kadang tidak terasa. Itulah sebabnya, kegembiraan orang menyambut tahun baru bisa jadi digerakan oleh harapan, atau tak mustahil hanya dibuai angan-angan.

Harapan adalah angan-angan yang disertai cara meraihnya. Karena itu, jika orang hanya menentukan target, atau resolusi tahun baru, tanpa menyertakan cara mewujudkannnya adalah
angan-angan semata.

Bagi sebagian pebisnis ulung, tahun baru adalah momentum peningkatan target bisnis, sekaligus mengapresiasi (merayakan) sukses pencapaian target sebelumnya. Keluarga pengusaha, atau profesional muda pun akan menandai tahun baru dengan resolusi baru, sebuah pernyataan tentang target yang ingin diraihnya. Bagi politisi cerdas yang akan maju dalam pemilihan kepala daerah (pemilukada) pun, malam pergantian tahun adalah momentum untuk mengerek elektabilitasnya. Mereka bukan hanya akan mematok target, tetapi juga menyusun cara-cara baru memersuasi warga.

Keberhasilan para pebisnis, profesional muda, politisi cerdas, atau keluarga mereka dalam meraih sukses, menjadi alasan untuk merayakan tahun baru dengan pesta di hotel, berlibur ke luar negeri, atau menyambut mentari baru di tempat sunyi dan inspiratif. Wajar jika mereka menyambut tahun baru dengan ritus semacam ini, karena apa yang mereka lakukan adalah investasi yang telah dikalkulasi untung-ruginya.

Namun di luar kalkulasi bisnis, sulit menemukan hubungan antara pergantian tahun dengan pesta. Menyambut tahun baru dengan pesta setali tiga uang dengan menyambut hari raya dengan belanja besar-besaran dalam bentuk pesta diskon Lebaran, atau pesta diskon Natal, bahkan pesta diskon tengah malam (midnight sale).

Tak ada hubungan antara doa dengan pesta, seperti juga tak ada hubungan antara ibadah di hari raya dengan diskon. Namun itulah fenomena hari ini, komodifikasi ritus peribadatan dan sosial dengan pesta dan belanja. Fenomena ini muncul dari kesenangan manusia zaman kini menandai jiwa yang hidup dengan beda mati buatannya sendiri.

Pesta malam pergantian tahun baru sejatinya adalah fenomena kota. Liputan media yang besar-besaran tentang histeria massa menyambut pergantian tahun baru mengukuhkan globalitas malam pergantian tahun. Terpaan media inilah yang mendorong orang ingin menjadi bagian dari kebanyakan orang (bandwagon effect), sehingga ramai-ramai merayakan tahun baru, meski tanpa target yang akan dikejar dan cara mewujudkannya di tahun yang akan datang.

Banyak orang larut dalam kuasa budaya massa. Ketika itu terjadi, menjadi mirip dengan kelompok dominan yang berpengaruh akan dipandang sebagai sebuah kemajuan.
Harapan adalah hak milik para pemimpin, sedangkan anga-angan adalah properti penting para pemimpi. Tak salah bila Napoleon Bonaparte menandai seorang pemimpin sebagai dealer, atau penyebar harapan.

Karena itu, jika Anda ingin punya harapan di tahun 2018 jadilah pemimpin atau pilihlah pemimpin, dan jangan jadi pemimpi atau memilih seorang pemimpi. Pemimpin dan pemimpi sama-sama akan berjanji meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan lapangan kerja, mewujudkan keadilan sosial, dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Pemimpin dan pemimpi pun akan berjanji mengabdi untuk rakyat dan tampil merakyat.

Seoang pemimpin akan membedakan mana janji yang mungkin diwujudkan, dan mana yang merupakan perjudian belaka. Karena itu, janjinya dibatasi kewajaran dan akan sehat.
Seorang pemimpi berhenti pada janji. Janjinya seperti asap rokok yang menyeruak deras dari hidung lalu larut bersama polutan di udara lepas. Janji seorang pemimpi akan menjadi projek lupa. Karena akan dilupakan, dia akan berjanji tentang apa pun, kecuali berjanji untuk menepati janji.***