Pemain Persib Titipan

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

PERSIB dan bobotoh memang luar biasa. Selalu saja ada cerita walau kompetisi domestik sedang dalam keadaan rehat. 

Inilah hal yang selalu menarik dan menjadi pembeda dengan daerah lain. Variabel yang beragam membuat atmosfer selalu lebih panas walau dalam konteks yang sama.

Seperti apa yang terjadi saat ini. Semua tim boleh riuh bicara tentang bursa transfer dan pemain baru untuk musim depan. Namun, bisa jadi, hanya Persib yang topik bahasan terkait pemain baru musim depan bisa merembet hingga isu politik lokal dan Pilkada 2018.

Imbasnya tak kalah seru. Kini bobotoh terbagi menjadi dua kubu dengan argumen yang sama kuat. Media sosial dan sajian media online menjadikan friksi semakin tajam.

Kondisi "unik" ini dipicu oleh bergabungnya dua mantan pemain Persib, Eka Ramdani dan Airlangga Sucipto di tim asuhan Roberto Carlos Mario Gomez yang tengah bersiap menghadapi musim 2018. Bergabungnya dua pemain tersebut dianggap janggal karena bagaimana mungkin pelatih sekaliber Mario Gomez justru hanya memantau dua pemain yang dianggap sudah lewat masa puncak untuk skema timnya musim depan.

Nalar pun takkan memunculkan nama Eka dan Airlangga ketika kita bicara pemain di tataran Top Level untuk posisi tengah dan depan saat ini di Indonesia. Apalagi, kekuatan finansial PT Persib Bandung Bermartabat dianggap cukup mumpuni untuk mendatangkan pemain yang lebih baik.

Bobotoh memang sudah cerdas. Logika dan argumen selaras dengan akal sehat. Namun, apakah pilihan Persib untuk memilih Eka dan Airlangga seburuk dan sefatal apa yang digambarkan sebagian besar pihak saat ini? 

Pemain titipan?

Secara pribadi saya merasa label pemain titipan yang disematkan kepada Eka dan Airlangga adalah berlebihan. Memang betul keduanya bisa mengikuti trial pastilah karena memiliki akses. Namun, tentu akses seistimewa apapun takkan berarti jika keduanya tak memiliki kesiapan dan keistimewaan di mata pelatih kepala Roberto Carlos Mario Gomez.

Adalah masuk akal jika pelatih hebat sekelas Mario Gomez pun pasti buta akan peta pemain domestik di negara yang baru untuk kariernya. Keadaan, hubungan baik, dan takdir membuat Eka dan Airlangga memungkinkan untuk unjuk kabisa di hadapan Gomez. Maka kita pun tak bisa menyalahkan jika ternyata Gomez merasa cocok dan menganggap keduanya sesuai dengan skema tim. 

Argumen tentang usia Eka Ramdani dan Airlangga Sucipto yang dianggap terlalu tua pun terbantahkan dengan jawaban langsung Maro Gomez kepada media. Ia mengatakan bahwa usia pemain tak menjadi masalah baginya.

Bahkan, tanpa perlu ada pernyataan lugas itu pun sebenarnya kita sudah bisa membaca persepsi dan cara berpikir Gomez ketika ia mengatakan akan mendatangkan bek tangguh bernama Bojan Malisic. Asal tahu saja, defender ini pun berusia di atas 30 tahun seperti halnya Eka dan Airlangga.

Oleh karena itu, prasangka baik dan akal sehat bisa berkompromi bahwa Eka Ramdani dan Airlangga Sucipto tengah menuai buah manis dari hubungan baik, doa, dan keberuntungan. Terkait keterlibatan keduanya dalam agenda berbau kampanye politik tentu adalah hal berbeda tak bisa dikaitkan langsung dengan keputusan dan selera jajaran pelatih.

Persib dan kekuasaan

Terkait istilah pemain titipan, hal itu lebih cocok disematkan kepada pemain yang semata hanya mengandalkan akses dan kewibawaan figur tertentu. Persib pada masa lalu memang terindikasi dirusak oleh cara-cara seperti ini.

Bisa Anda bayangkan struktur kepengurusan yang seperti ini: Persib diurus oleh para birokrat yang secara karier di luar sepak bola konteksnya adalah atasan bawahan. Dari mulai wali kota, kepala dinas, hingga pegawai pemkot terlibat dalam kepengurusan. Sehingga kedekatan di luar sepak bola pun akan berimbas ke lapangan hijau.

Hal seperti ini bisa merusak persaingan sehat dalam tim. Siapa yang berani mengatakan tidak, jika pemain yang masuk sudah mendapat restu dari wali kota misalnya. Maka, walau penampilannya butut dan tak sesuai dengan kebutuhan tim, maka mau tidak mau si pemain ya harus diakomodasi.

Hal itu tentu berbeda dengan kondisi Persib sekarang. Struktur perseroan Terbatas pun membuat peranan masing-masing pihak menjadi jelas dan terbatas. Segala macam kebijakan bisa dianalisis dan diurai di mana titik salahnya.

Terlebih sorotan publik yang semakin ganas di era internet dan media sosial ini. Maka kebijakan yang sebenarnya domain privat pun perlu dipertimbangkan secara matang jika tak ingin menuai polemik dan kontroversi.

Namun, tentu saja kontroversi bukan menjadi alasan untuk memengaruhi keputusan PT Persib Bandung Bermartabat. Meski jutaan bobotoh terlibat dalam gerakan menolak pemain tertentu pun tentu tak harus dituruti karena hingga saat ini otoritas dan keputusan strategis tetap berada pada segelintir orang di perusahaan bernama PT Persib Bandung Bermartabat.

Kritik terhadap kritik

Suporter pantas dan berhak bereaksi jika klub kesayangannya terpuruk. Namun, perlu diingat bahwa dalam konteks musim 2018 saat ini kondisi tidak berada dalam posisi tersebut, sehingga segala macam suara sumbang masih bisa dibungkam jika ternyata performa tim menunjukkan hasil positif.

Segala kritik dan tudingan miring saat ini belum berdasar fakta dan masih berupa asumsi, apriori, dan kekhawatiran belaka. Fase pembentukan tim adalah otoritas manajemen tim. Mereka yang memiliki dana, mengendalikan budget, memiliki akses terhadap pemain incaran, dan paling memahami kebutuhan tim.

Sehingga keterlibatan seorang manajer sekalipun sebenarnya sangat dibenarkan, selama keterlibatan tersebut bisa diartikan dalam artian turun tangan, bukan intervensi terhadap pelatih. Turun tangan dan intervensi memiliki arti yang sangat berbeda. 

Turun tangan adalah keterlibatan untuk mencari solusi dengan peran dan kewenangan yang dimiliki masing-masing. Sedangkan intervensi adalah mencampuri urusan dan otoritas pihak lain serta memaksakan kehendak terkait kewenangan. 

Hingga detik ini saya berprasangka baik, bahwa seluruh elemen di Persib memainkan peranan masing-masing. Minat suporter untuk mengomentari perekrutan Airlangga Sucipto dan Eka Ramdani yang dinilai janggal tentu sangat diperbolehkan. Namun, kita pun harus mengukur kompetensi dan kapasitas mereka yang berkomentar dan melontarkan kritik. 

Akan lebih relevan jika khalayak merujuk komentar seorang mantan pemain sepak bola. Misalnya Yudi Guntara, mantan pemain Persib telah memainkan perannya. Ia tanpa sungkan melakukan kritik terhadap perekrutan Eka dan Airlangga yang dinilai keliru. 

Argumen logisnya adalah usia kedua pemain yang dianggap telah melewati fase puncak. Tak hanya itu, Yudi Guntara pun mengkritisi koleganya Herie Setyawan asisten pelatih Persib yang dianggap seharusnya mampu memberi masukan terkait ini kepada Roberto Carlos Mario Gomez.

Tidak berapa lama, Nova Arianto, mantan pemain Persib lainnya, berkomentar yang bisa kita artikan sebagai kritik terhadap kritik Yudi Guntara. Nova Arianto tampak tidak sepakat dengan pendapat Yudi Guntara terkait indikator usia untuk menentukan kontribusi seorang pemain untuk klubnya. 

Nova berpendapat, pemain-pemain berusia "lanjut" pun masih bisa berprestasi. Pernyataan Nova Arianto ini pun sama logisnya karena terbukti banyak pemain-pemain yang masih bisa memberi kontribusi positif bagi klubnya di usia yang tak ideal sebagai atlet sepak bola. Sebut saja Firman Utina, Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, bahkan Cristian Gonzales. Mereka tetap mampu menjadi andalan saat usia melewati 35 tahun.

Biarlah opini dan dua pendapat yang sama logisnya ini terus mengalir, karena perdebatan sehat semacam ini sesungguhnya akan mampu membuat para bobotoh semakin dewasa, berdialektika, dan terbiasa dalam perbedaan pendapat. Kritik dari mereka yang pernah membela Persib di masa lalu pun jangan dijadikan sebagai sebuah ancaman atau rasa tidak suka

Jika kita lihat ke luar misalnya. Betapa Paul Scholes sangat vulgar justru ketika ia melontarkan kritik kepada Manchester United, klub yang membesarkan namanya. Dalam kritik terdapat cinta dan kepedulian. Setidaknya sebagai sarana pengingat. Siapa yang tak menghendaki kritik, maka adalah sama dengan menghentikan majunya suatu peradaban.

PENYERANG Persib, Airlangga, merayakan golnya ke gawang Persisam pada pertandingan Liga Super Indonesia di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Kab. Bandung, Rabu (13/4). Persib mengalahkan tamunya Persisam dengan skor telak 4-1.*

Literasi Persib

Dalam beberapa isu Persib yang sangat booming, ada tren menggembirakan di kalangan bobotoh. Yaitu semakin banyaknya bobotoh yang berekspresi melalui tulisan-tulisan yang dikirim melalui media tematik Persib seperti Bobotoh.ID, Simamaung, Maung Tempur, vikingpersib.com, dan masih banyak lagi. 

Maraknya literasi terkait Persib serta minat menulis bobotoh yang tinggi bisa menjadi indikator terkait kedewasaan dan rasionalitas suporter Persib dalam beradu argumen. Hal seperti ini diharapkan pula menjadi penyeimbang dinamika isu di media sosial yang cenderung liar dan tendensius.

Media sosial memiliki peranan besar untuk membangun persepsi bobotoh terhadap banyak hal. Dalam konteks terkini, kita bisa telusuri betapa persepsi bobotoh begitu negatif terhadap putra dari salah seorang petinggi Persib karena menyebarnya foto dan potongan chat WhatsApp yang mengaitkan dirinya dengan kedatangan Eka Ramdani dan Airlangga ke Persib. Bahkan, isunya melebar hingga politik dan pilkada.

Klarifikasi yang bersangkutan dimuat di salah satu media berpengaruh. Namun tampaknya tetap tak bisa banyak membantu. 

Satu hal yang pasti, beban pembuktian terberat ada di pundak Eka Ramdani dan Airlangga Sucipto. Karena andai saja performa mereka tak sesuai ekspektasi, maka bisa dipastikan cibiran dan tekanan berlipat akan diterima keduanya lebih dari kadar normal. Karena kompetisi belum dimulai pun, sorot mata bobotoh sudah tertuju kepada keduanya. 

Selamat berjuang kawan, semoga sukses membungkam para bobotoh.***