Kaleidoskop

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

DARI sebuah loteng di Ciharalang, saya memandang Cekungan Bandung. Langit menyala di waktu senja, seperti semangat yang tak hendak tamat, memperlihatkan paduan warna merah, kuning, dan biru.

Bukit-bukit tampak seperti siluet candi. Lambat-laun, ketika langit jadi hitam, dasar cekungan bekas danau purba itu memperlihatkan lautan cahaya dari lampu-lampu kota. Pesawat terbang yang sesekali melintas di sekitar Bandara Husein Sastranegara, dengan lampu berkedip-kedip, terlihat seperti kunang-kunang.

“Pindahlah ke sini, Wa,” ujar tuan rumah, sahabat saya.

“Wah, dari mana uangnya?” ujar saya bertanya. 

Saya tidak tahu, sampai kapan orang dapat melihat jauh dari situ. Kian banyak bukit di Bandung Utara yang telah berubah jadi kebun sayur, kawasan perumahan gedongan, padang golf, tempat wisata penuh kafe, hotel, apartemen, dan sebagainya.

Pepohonan tumbang, beragam bangunan tumbuh. Tempat terbuka jadi ruang yang sesak. Pandangan yang tadinya leluasa menjangkau cakrawala seakan jadi rabun jauh.  

Sekian puluh tahun silam, dari tempat tinggal saya sendiri di Negla, niscaya orang dapat mengarahkan pandangan setidaknya hingga Sukajadi. Sekarang, dari atap rumah kami, orang hanya dapat melihat atap-atap rumah lainnya. Dinding-dinding kian berdekatan, membentuk labirin gang yang suram.

Sore itu, kami baru saja kembali dari kenduri di wilayah Gagak. Pengalaman naik sepeda motor berombongan ke situ, menyusuri sekian kelokan gang sempit, mungkin hanya dapat ditandingi oleh petualangan Alice masuk ke lubang kelinci. Benar-benar “wonderland”.

Sumarecon sedang menyulap Gedebage di belahan timur kota ini. Lahan sawah pasti jadi hamparan rumah, kantor, dan semacamnya. Kawanan kuntul blekok dari Rancabayawak niscaya terpaksa mencari suaka entah ke mana, mungkin ke sekitar kampus Universitas Telkom. Podomoro juga semakin menjulang di pusat kota.

“Gimana ya caranya supaya tempat sekeren ini tidak begitu cepat jadi kota?” gumam saya.

“Jangan sampai, Wa,” kata sahabat saya.

Sahabat saya tadinya tinggal di lembah sana, di sekitar pusat kota. Beragam faktor mendorongnya menyingkir ke pinggir, menjauh dari hiruk-pikuk Bandung.

Alhamdulillah, di tempat tinggalnya kini, sejauh ini, sinyal telepon seluler tidak begitu bagus. Jadi, sore itu, ketika sejumlah teman memilih berkumpul di situ, obrolan dan senda gurau bisa berlangsung tanpa gangguan perangkat seluler.

Sayalah yang paling beruntung hari itu. Menjelang tengah hari, saya bergegas keluar dari gang, bermanuver dengan sepeda motor tua di sela-sela antrean mobil sepanjang Setiabudhi, Dago, hingga Bukitpakar.

Begitu sampai ke Cigadung, merasa terbebas dari keruwetan lalu-lintas, baru saya sadari bahwa telepon genggam saya tertinggal di rumah. Alhamdulillah, hidup saya siang itu tenang sekali.  

Dengan ketenangan seperti itulah saya benar-benar menikmati pertemuan dengan sejumlah teman di Ciharalang dalam suasana liburan Natal dan Tahun Baru.

Siaran televisi di pojok ruangan, yang antara lain menyampaikan reportase dari Gedung Sate tentang prestasi Doel Sumbang dan seniman lain, tak dapat menyaingi kedahsyatan obrolan kami yang menjangkau beragam tema, mulai dari pentingnya gerak jalan dan turing bersepeda hingga suara tarawangsa dan sosialisasi nilai-nilai Pancasila. 

Ketika malam kian larut, dan obrolan mulai cenderung metafisik, kami bubar sendiri. Biasanya juga begitu. Itu seperti kesepakatan diam-diam buat bertemu lagi di lain waktu. Tak usah direncanakan. Kegelisahan kolektif toh bakal menemukan titik temunya sendiri. Biasanya juga begitu.

“Mang, kalau ada uang salsé, belilah teleskop!” usul saya kepada tuan rumah.

“Siap, Wa,” ujar sahabat saya.***