Yogyakarta, Daerah Istimewa Bobotoh Persib

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

SAAT ini tim Persib sedang melakukan pemusatan latihan di kota Yogyakarta. Entah kebetulan atau tengah terjebak dalam asumsi “cocokologi”, sesungguhnya tulisan ini memang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa yang dialami selama sepekan terakhir yang mengingatkan saya pada Yogyakarta.

Dari mulai gempa Tasikmalaya yang mengingatkan saya pada gempa Yogyakarta 2006 yang membuat Persib terhindar dari degradasi, lalu kebiasaan naik kereta api Bandung-Jakarta yang menjadi rutinitas bulan ini, tawaran dari mahasiswa UGM Yogyakarta untuk menjadi pembicara terkait hukum olah raga di kampus mereka tahun depan, hingga akhirnya keputusan Persib untuk menggelar pemusatan latihan di Yogyakarta dan beredarnya foto antara pelatih Persib Roberto Carlos Mario Gomes dengan mantan pelatih Persib saat gempa Yogyakarta terjadi yaitu Arcaan Iurie.

Maka kali ini, beberapa kesan tentang Persib, bobotoh, dan Yogyakarta akan tersaji karena selalu ada romansa biru di daerah istimewa ini.

Memang istimewa

Bukanlah Jawa Barat, akan tetapi Daerah Istimewa Yogyakartalah provinsi yang pernah saya kunjungi seluruh kabupaten/kotanya, meliputi kota Yogyakarta dan empat kabupaten yaitu Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul.

Kota Yogyakarta seakan menjadi lawan sepadan untuk Bandung dalam beberapa hal. Sama halnya dengan Bandung, Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan karena memiliki banyak kampus yang menjadi tujuan melanjutkan pendidikan tinggi.

Banyak sajian kuliner tradisional yang khas, keramahan warganya, Yogyakarta juga identik dengan anak-anak muda yang penuh kreativitas dan merambah berbagai sektor seperti musik, konveksi dan sebagainya.

Tentang sepak bola, jelas Yogyakarta pun punya cerita. PSSI dideklarasikan di kota ini. Jangan lupakan juga bahwa selain Persis Solo, PSIM Yogyakarta pun menjadi penguasa kompetisi awal perserikatan.

Akan tetapi dalam konteks kekinian, sepak bola Yogyakarta tampak hanya menyisakan kisah-kisah kejayaan di masa lampau. Beruntung gelora dan semangat bersepak bola tak pernah padam, setidaknya bagi para penggemar bola di Kota Gudeg.

Bicara sepak bola memang tak harus melulu tentang prestasi, walau PSIM tengah redup namun Yogyakarta masih cukup sering dibicarakan setidaknya di segmen suporter.

Kabupaten Sleman terhadap kota Yogyakarta ibarat Cimahi terhadap Bandung, yang tegas memisahkan hanyalah fakta geografis dan administratif formal. Kultur, gaya, dan mobilisasi orang-orangnya sangat identik.

Begitu pun eksistensi suporter PSS Sleman yang lekat dengan Yogyakarta. Walau bisa jadi pendukung PSS tak akan terima jika dianggap seperti itu karena sesungguhnya terdapat rivalitas dan persaingan serius antara pendukung PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman

Akan tetapi, apa mau dikata, rivalitas itu terlampau sepele dan tak mampu mencuri perhatian jika dibanding rivalitas semacam Aremania-Bonek yang sama-sama berada di satu provinsi yaitu Jawa Timur.

Bicara pendukung PSS Sleman memang bukan untuk bicara klub yang mereka dukung namun justru tentang mereka sendiri.

Suporter PSS yang akrab di sapa Brigata Curva Sud (BCS) mampu membuat beberapa inovasi serius yang mencuri perhatian.

Beberapa di antaranya adalah aksi koreografi ala tribun yang digarap dengan serius dan sangat sistematis sehingga menampilkan lebih dari sekadar aksi spontanitas, juga kemampuan mereka menggarap merchandise sehingga BCS menjadi mandiri secara finansial bahkan mampu untuk menjadi sponsor bagi klub PSS Sleman yang mereka dukung.

Mereka pun diuntungkan dengan kondisi stadion Maguwoharjo yang cukup ideal untuk dijadikan “panggung” koreografi. Bahkan kondisi umum stadion yang baik membuat laga sekelas Timnas Indonesia beberapa kali digelar di stadion ini.

Akan tetapi, tahukah bahwa kondisi suporter Yogyakarta 10 tahun lalu sungguh berbeda dengan sekarang? Dua tur masa lalu saat Persib bertandang ke kandang PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman beberapa tahun lalu mungkin bisa sedikit menggambarkannya. Tentu dengan cerita menarik di sisi Persib dan bobotohnya.

Kereta api dan PSIM

Tahun 2006, Persib memulai kompetisi dengan sangat buruk, takluk di kandang sendiri, Stadion Siliwangi, dari dua tim asal Jawa Tengah, PSIS Semarang dan Persijap Jepara.

Padahal, materi pemain saat itu cukup mumpuni bahkan peluncuran tim digelar sangat meriah di stadion SIDOLIG. Keadaan pun memanas, demonstrasi besar dilakukan bobotoh untuk melengserkan pelatih kepala Risnandar Soendoro, mantan pemain terbaik nasional itu pun lempar handuk.

Arcaan Iurie, pelatih asal Moldova masuk menggantikan posisi Risnandar. Laga berikutnya adalah tandang ke stadion Mandala Krida menghadapi PSIM Yogyakarta.

Kisah demonstrasi yang sukses mengintervensi kebijakan manajemen dan berbagai pemberitaan positif setelah masuknya Arcaan Iurie menerbitkan asa baru sekaligus tuntutan pembuktian.

Alhasil, invasi pun dicanangkan oleh bobotoh. Mereka akan membirukan Yogyakarta untuk menjadi saksi kemenangan pertama Persib musim itu.

Kereta Api. Ya, itu menjadi kata kunci berikutnya, walau ada jadwal penerbangan ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta, namun skuat Persib memilih menggunakan transportasi darat itu. Yang unik adalah kesan dari rombongan Persib yang terlihat saat keberangkatan. Jika sebelumnya para pemain seringkali berpakaian bebas, kaos oblong, celana pendek, bahkan sandal, pagi itu seluruh skuat tampak kompak dan seragam.

Para pemain Persib seluruhnya memakai polo shirt yang sama, bercelana panjang, dan tak satupun yang diperbolehkan bersandal.

Terlihat sepele, terlebih jika dikaitkan dengan kondisi tim saat ini yang terikat apparel. Namun nuansa dan penampilan kompak terkait fashion itu memang cukup langka saat itu.

Stasiun Bandung seakan disinggahi tim dari Eropa. Terlepas dari sekadar kekompakan luar, Arcaan Iurie telah berhasil menorehkan warna baru di tubuh tim. Warna positif yang berimbas di lapangan karena Persib sukses menekuk tuan rumah PSIM melalui gol Zaenal Arief dan Gendut Doni.

Tur suporter paling mengesankan

Euforia sungguh terasa, kemenangan disambut gegap gempita oleh para bobotoh yang sama-sama menggunakan kereta api dari Bandung. Selain Bandung, para bobotoh pun berdatangan dari kota sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Brajamusti, pendukung PSIM seakan menjadi tamu di stadionnya sendiri. Kehadiran mereka tak mampu mengimbangi jumlah bobotoh di stadion.

Pesta berlanjut malam harinya, hampir seluruh pojok Jalan Malioboro dan tempat-tempat populer Yogyakarta dipenuhi bobotoh. Serasa berada di Bandung karena kemana pun melangkah selalu berpapasan dengan bobotoh.

Tur itu bisa dikatakan salah satu tur suporter paling mengesankan karena memang bobotoh mudah mengakses tur suporter paling mengesankan sekaligus kota itu pun memang destinasi wisata yang menyenangkan.

Tidak sedikit yang tetap bertahan di sana hingga beberapa hari setelah pertandingan, sekalian liburan mungkin.

Kisah tak terlupakan lain adalah animo bobotoh yang mengikuti tur menggunakan kereta. Saat itu PT KAI belum mereformasi diri sehingga penumpang leluasa masuk stasiun dan naik ke gerbong. Pada masa yang akan datang, mungkin tak akan pernah kita dengar lagi cerita bobotoh yang tidur berderet seperti ikan sarden. 

Ada juga yang terpaksa tidur di toilet kereta, bahkan beberapa kawan harus tidur sambil berdiri. Kepadatan berkurang dalam perjalanan pulang karena bobotoh yang pundung memilih cara lain untuk pulang daripada menyiksa diri berkereta gerbong ekonomi untuk kedua kalinya.

 Lebaran dan PSS

Tur lain yang  tak terlupakan adalah saat Persib bertandang ke stadion Maguwoharjo, kandang baru PSS Sleman saat itu karena biasanya PSS menggunakan Stadion Tridadi.

Momen itu menjadi menarik karena jadwal pertandingan hanya beberapa hari usai Lebaran tahun 2007. Jadilah tur Sleman kala itu menjadi semacam sarana silaturahmi dan halal bihalal ala bobotoh.

Boleh dibilang, ini adalah laga dengan nuansa Lebaran yang masih kental. Banyak bobotoh datang ke Sleman bukan dari Bandung namun langsung dari kampung halaman mereka saat pulang mudik seperti Magelang, Solo, Semarang, dan kota lain sekitar Jawa Tengah.

Stadion Maguwoharjo saat itu belum rampung 100 persen namun bobotoh dibuat berdecak kagum dengan kualitas rumput yang sangat baik dan stadion tanpa lintasan atletik yang bisa diartikan stadion ini adalah stadion khusus sepak bola. Stadion semacam itu memang sangat langka di Indonesia.

Sepuluh tahun lalu, suporter BCS pun belum terbentuk, yang ada adalah kelompok suporter yang menamakan diri Slemania dan jumlahnya jelas tak seberapa.

Lagi-lagi, bobotoh seakan menjadi “tuan rumah” dalam laga tandang. Insiden tak terlupakan adalah ketika terjadi perang mercon dan kembang api jarak dekat. Kondisi stadion sangat memungkinkan kedua suporter berada dalam area yang sangat berdekatan.

Kisah unik lain adalah cara bobotoh mengakses stadion Maguwoharjo yang memang cukup sulit dijangkau dari lokasi bobotoh tiba di Yogyakarta, khususnya stasiun Tugu dan Lempuyangan.

Hanya disediakan beberapa truk untuk mengangkut ribuan bobotoh. Alhasil, rasio pun tak berimbang hingga ada satu truk yang nyaris terbalik karena tak kuasa menahan beban.

Kisah ditutup dengan begitu sulitnya bobotoh mendapatkan transportasi menuju Bandung karena sehari setelah laga menghadapi PSS Sleman adalah puncak arus balik ke arah barat.

Mustahil mendapatkan tiket kereta dengan cara konvensional. Cerita “tragis” pun terulang, gerbong-gerbong kereta yang sudah di booking bobotoh justru jauh lebih padat daripada saat keberangkatan karena begitu banyak penumpang gelap yang menyusup sekalian ikut balik ke Bandung.

Beruntunglah, bobotoh “zaman now” tak akan pernah mengalami tidur ala ikan sarden di gerbong kereta api karena sistem boarding yang diterapkan PT. KAI usai mereformasi diri.

Sebenarnya eksistensi bobotoh di Yogyakarta dapat kita telusuri dalam konteks terkini. Kedatangan tim di Yogyakarta kamis lalu yang disambut semarak bobotoh hingga animo mereka saat Persib berlatih di area kampus UNY cukup menjadi indikator terkait eksistensi bobotoh di Yogyakarta.***