Abu Letusan Gunung Api, Penerbangan, dan Pariwisata

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

BUBUNGAN abu letusan gunung api ke angkasa telah mempengaruhi lalu lintas penerbangan. Untuk keselamatan penerbangan, maka penerbangan dari dan ke bandara-bandara yang terkena dampak letusan gunung api akan dihentikan untuk sementara waktu. Pengaruh abu letusan gunung api terhadap penerbangan, dampaknya pertama kali dirasakan oleh pilot Kapten Eric Moody dengan pesawat British Airways nomor penerbangan 9. Pada tanggal 24 Juni 1982, pesawat itu terbang dari Inggris menuju Australia. Moody tidak mengetahui sedang terjadi letusan Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, sehingga pesawat Boeing 747-200 yang membawa 263 penumpang itu menembus kepulan asap abu di ketinggian 11.000 mdpl. Akibatnya keempat mesin pesawatnya tiba-tiba mati. Para penumpang akhirnya lega, di ketinggian 13.000 kaki, tiga mesin pesawat kembali berfungsi, lalu pesawat mendarat darurat di Jakarta. 

Abu letusan gunung api telah membuat ketakutan rombongan kepresidenan AS yang sedang mengunjungi Indonesia. Mereka tidak mau mengambil resiko karena tak ada yang bisa menjamin abu letusan Gunung Merapi tidak masuk ke dalam mesin pesawat Air Force One. "Ini karena dampak abu vulkanik Merapi," kata Juru Bicara Gedung Putih Rebert Gibbs. Sehingga Presiden AS Barack Obama mempersingkat kunjungannya di Indonesia pada November 2010.  

Abu letusan gunung api yang membubung di angkasa itu sangat membahayakan penerbangan. Mesin jet modern yang berkinerja tinggi, umumnya menyedot udara dalam jumlah yang sangat besar. Udara yang mengandung abu gunung api yang melayang di udara akan segera tersedot, dan dengan cepat akan terkonsentrasi di dalam mesin. Ketika suhu mesin mencapai 1.400 derajat C, partikel kaca yang halus yang terkadung dalam abu letusan gunung api akan segera meleleh, menyelubungi bagian nozzle, pembakar, serta turbin, menyebabkan mesin secara otomatis akan mati. Akibatnya, permukaan logam akan mengelupas dengan cepat, dan menyebabkan saluran bahan bakar menjadi tersumbat. Bila itu yang terjadi, pilot harus segera mengurangi listrik yang masuk ke mesin untuk menurunkan suhu di bawah titik leleh partikel kaca. Juga, abu vulkanik itu mudah menggores komponen pesawat yang terbuat dari plastik, kaca, dan logam, seperti sisi muka pesawat, kaca kabin depan, pelindung lampu pendaratan, penutup mesin, bagian radar, dan kaca kokpit, sehingga pilot menjadi sulit untuk melihat jalur runway saat pendaratan. Abu ini dapat merusak sistem elektronik pesawat, termasuk sistem pembangkit listrik dan instrumen-instrumen navigasi.

Indonesia yang memiliki 127 gunungapi aktif, 77 di antaranya termasuk gunung api tipe A, yang pemantauannya menjadi prioritas utama. Ke-77 gunung api aktif itu sewaktu-waktu akan meletus. Gunung api tipe B dan C pun tidak menutup kemungkinan akan meletus, karena ada contohnya, seperti Gunung Sinabung yang semula tipe B. Bahkan, ada juga gunung yang tidak mempunyai rekaman sejarah letusan, sudah seperti bukit biasa yang di atasnya ditanami jagung dan pisang oleh penduduk, kemudian meletus pada tanggal 28 Desember 1987, seperti yang terjadi dengan Gunung Anakranaka di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kini, gunung api itu sudah dikelilingi permukiman masyarakat dan pusat kegiatan ekonomi. Tidak jauh dari gunung api itu terdapat bandar udara yang padat jalur lalu-lintasnya, sehingga bila terjadi letusan gunung api, seperti letusan Gunung Agung di Pulau Bali mulai November 2017. Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai ditutup untuk sementara sambil menunggu waktu yang aman untuk dibuka kembali. Kawasan rawan bencana Gunung Agung secara sederhana berada pada radius 8-10 km dari kawah. Di luar kawasan itu, sebenarnya masyarakat masih dapat terus berkegiatan. Apalagi letak Gunung Agung itu berada di Karangasem, di ujung timur Pulau Bali, sehingga pada jarak aman, para wisatawan dapat menyaksikan letusan gunung api dan membuat foto dan video.

Sebelumnya, Gunung Sinabung di Sumatra Utara meletus, bahkan masih terjadi sampai sekarang. Hujan abunya menyebar hingga Kota Medan dan Kabupaten Serdangbedagai, yang jaraknya 140 km dari Gunung Sinabung. Pada jarak 120 km dari gunung itu terdapat bandar udara internasional Kualanamu. Pengaruh hujan abu ini telah menunda jadwal penerbangan pada tanggal 24 November 2013.

Gangguan penerbangan karena abu letusan gunung api di Indonesia dapat dipastikan akan sering terjadi, karena Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, 77 di antaranya termasuk gunung api tipe A, yang pemantauannya menjadi prioritas utama. Gunung api tipe A ini tersebar di Sumatera dan Selat Sunda sebanyak 12 gunung api, di Pulau Jawa 19 gunung api, di Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 22 gunung api, Kepulauan Banda 7 gunung api, Sulawesi dan Kepulauan Sangir 11 gunung api, dan di Maluku Utara sebanyak 5 gunung api. 

Melihat penyebaran gunung api aktif tipe A, sehingga bila di antaranya ada yang meletus, dapat dipastikan akan mengganggu jadwal penerbangan untuk jalur yang di bawahnya terdapat gunung yang sedang meletus. Informasi dari Badan Geologi – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BG – PVMBG), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menjadi sangat penting artinya bagi keselamatan penerbangan, karena akan diketahui penyebaran abu letusannya, sehingga akan mengetahui kapan bandara harus ditutup, dan kapan bandara dapat dibuka kembali. 

Karena abu letusan gunung api itu sangat berbahaya bagi kselamatan penerbangan, maka perlu dibuat skenario-skenario pengalihan pendaratan pesawat, bagaimana pengangkutan barang dan orangnya, serta perlu informasi dan promosi agar dapat memindahkan tujuan wisata dari sekitar gunung yang meletus, digeser ke gunung atau tempat wisata lain, yang sama-sama mempunyai daya tarik tapi aman. Kalau tidak diupayakan dan tidak dipromosikan, maka wisatawan luar negeri akan mengalihkan tujuan wisatanya ke Negara lain.***