Monas dan Gasibu

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SAYA ajak Gilang pergi ke Monas. Kami naik bajaj dari Cikini. Waktu itu Gubernur Basuki baru saja kalah dalam kontes pilkada, tidak bisa terus ke termin kedua. Begitu banyak karangan bunga di depan Balai Kota seperti sedang ada pesta. Banyak orang berkerumun di situ. Kami hanya memperhatikannya sambil lalu.

Kami jarang pergi ke Jakarta. Buat apa pula? Hawanya panas, lingkungan sosialnya keras. Buat Gilang sendiri, hari itu adalah kali pertama dia berkunjung ke ibukota negara. Terpikir begitu saja oleh saya bahwa bajaj dan Monas barangkali akan jadi kenangan tersendiri bagi dirinya di kemudian hari. Lagi pula, buat orang kampung seperti saya, tugu dari zaman Soekarno itu adalah ikon terpenting Jakarta.

Anak kami, yang baru duduk di kelas empat sekolah dasar, adalah lelaki. Pada hemat saya, Monas adalah tempat yang cocok baginya. Dari kejauhan, apalagi dari dekat, Monas tampak seperti kelamin jantan raksasa yang mengacung ke langit. Tugu itu seperti phalus atau lingga. Tentu saja, perhatian kami juga tertuju kepada semacam yoni yang terhampar di bagian bawahnya, seperti kelopak bunga yang sedang mekar. Lingga ketemu yoni, lelaki ketemu perempuan, langit ketemu bumi.  

Begitu sampai di pelataran, kami berdua tegak berdiri, setegak tugu di latar belakang, buat diabadikan dengan kamera ponsel dalam genggaman istri saya.

Kami kemudian naik kereta turis yang berulang-alik melintasi pelataran, mendekati tugu. Beberapa remaja, dengan mengenakan jas almamater, sedang belajar jadi pemandu wisata dengan mikrofon dalam genggaman. Sepanjang jalan, mereka menyampaikan informasi kesejarahan yang beberapa rinciannya terdengar tidak begitu

“Hayu, Jang! Urang asup,” ujar saya kepada Gilang begitu tiket masuk sudah di tangan.

Kami masuk ke dalam yoni, seperti liliput masuk ke dalam guagarba raksasa. Di dalamnya kami mengelilingi diorama, memelototi visualisasi pengetahuan sejarah Indonesia dalam sekian kotak kaca. Waktu sampai ke depan display R.A. Kartini, agak lama kami berhenti. Dalam diorama itu tampak Ibu Kartini, dengan sanggul dan kebaya, sedang berdiri di depan kelas, di hadapan sejumlah murid. Saya agak menggerutu. Kepada gilang dan ibunya, saya bilang bahwa seharusnya ibu yang diperlihatkan sedang berdiri di depan kelas adalah Dewi Sartika.

Ku naon kitu, Yah?” tanya Gilang.

"Ibu Kartini menulis surat. Ibu Dewi Sartika membuka sekolah,” tukas saya.

Naik dari situ, kami menuju teras yoni. Sekian puluh menit diperlukan buat antre. Banyak anak sekolah ikut antre bersama guru mereka. Ada pula serombongan turis dari Sumatra. Turis asing pun ada, beberapa orang.

Sebuah lift membawa kami ke puncak, dekat dengan pucuk obor mas sumbangan pengusaha Aceh. Melihat Jakarta dari atas sana seperti melihat pemandangan dari pesawat terbang yang hendak mendarat. Di pojokan teras terdapat teropong. Kami dapat melihat panorama sekeliling dengan jangkauan lebih jauh. Setelah main selfie, kami pun turun lagi. Berlama-lama di tempat yang begitu tinggi menimbulkan perasaan ngeri.

Sambil menunggu giliran jemputan kereta turis, saya memperhatikan pelataran luas di sekeliling Monas. Terpikir oleh saya, begitu banyak kalangan yang sesungguhnya berkepentingan dengan lapangan ini, terlebih-lebih belakangan ini ketika politik sering kali membuat beragam kalangan banyak aksi. Monas seakan jadi identik dengan mobilisasi, baik mobilisasi antipemerintah maupun mobilisasi propemerintah.

Dalam fungsi seperti itu, lapangan Monas tak ubahnya dengan lapangan Gasibu di Bandung. Lapangannya itu-itu juga, tapi pemakainya beragam nian. Pejabat pemerintah daerah, aktivis organisasi massa, penyelenggara pameran, penyelenggara seni pertunjukan, demonstran, dan banyak lagi, sama-sama berkepentingan dengan lapangan Gasibu. Senin lapangan itu jadi tempat upacara, Jumat jadi arena demonstrasi, Sabtu jadi tempat pameran, Minggu jadi pasar tumpah, dan seterusnya.

Monas, Gasibu, atau lapangan sejenisnya, memang seperti panggung. Tempatnya satu, aktornya banyak, dan agendanya beragam. Keragaman itu bukan hanya mencakup kegiatan massal yang gegap gempita, riuh bergemuruh, menciptakan drama dalam liputan media. Keragaman itu sesungguhnya juga mencakup kegiatan sepele, yang bersifat pribadi, dan sunyi, seperti yang kami alami ketika mengajak Gilang pergi ke Monas naik bajaj dari Cikini.***