Gempa dan Degradasi

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

AKHIR pekan ini kita dikejutkan dengan kabar terjadinya gempa berkekuatan cukup besar yang terjadi di Tasikmalaya dan sekitarnya. Gempa, sama halnya dengan tsunami dan gunung meletus, dapat dikatakan sebagai bencana alam yang benar-benar murni karena kehendak Tuhan. Bencana ini tidak dipengaruhi oleh ulah manusia seperti banjir, kebakaran hutan, atau longsor misalnya.

Karena pemikiran itulah, seorang kawan pernah membuat guyonan "Tuhan pun tak ingin Persib degradasi". Konteksnya adalah kejadian tahun 2006 saat Persib yang seharusnya turun kasta tiba-tiba selamat karena Tuhan mengirim gempa bumi. Tanpa bermaksud tidak bersimpati namun gempa Yogyakarta tahun 2006 ternyata menjadi "berkah" untuk Persib.

Persib yang saat itu memulai liga terseok saat ditangani almarhum Risnandar Soendoro ternyata tetap tak mampu beranjak dari zona merah hingga akhir kompetisi. Walaupun saat itu telah dilatih oleh pelatih asal Moldova, Arcaan Iurie.

Saat semua cemas dan bersiap menerima mimpi buruk bahwa tim kebanggaan warga Jawa Barat itu harus terlempar dari level teratas, tiba-tiba PSSI menghapuskan sistem promosi-degradasi musim itu. Alasannya cukup logis, karena beberapa tim divisi utama mengundurkan diri dari kompetisi akibat gempa yang melanda Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah.

Maka selamatlah Persib.

Degradasi

Degradasi, satu kata yang menjadi momok bagi elemen bola manapun. Padahal, dalam dinamika sepak bola itu adalah hal yang lumrah. Bahkan tim yang tak pernah berada di zona degradasi pun tetap bisa terdegradasi ke divisi bawah.

Juventus misalnya. Tim asal kota Turin Italia ini terdegradasi ke Serie B bukan karena prestasi yang anjlok, namun karena terlibat skandal calciopoli, tragedi pengaturan skor terparah yang pernah terbongkar di Italia.

Bicara tentang Persib, maka tim kebanggaan kita ini boleh dibilang cukup beruntung karena berhasil lolos berkali-kali dari degradasi, walau secara de facto layak terdegradasi. Selain tahun 2006, Persib pun pernah "diselamatkan" PSSI pada tahun 2003.

Saat itu Persib bisa dibilang hancur-hancuran. Musim pertama menggunakan pemain asing justru membuat Maung Bandung akrab dengan zona papan bawah. Koneksi Polandia pun didepak berganti koneksi Amerika Latin. Pelatih Juan Antonio Paez masuk menggantikan Marek Andrezj Sledzianowski.

Performa Persib memang meningkat melalui aksi-aksi Alejandro Tobar, Claudio Lizama, serta Rodrigo Sanchueza. Penampilan mereka jauh lebih memikat dibanding trio Polandia: Muharski, Orlinski, Dolega.

Namun, penampilan impresif Maung Bandung tak cukup untuk membuat mereka lepas dari jerat zona degradasi. Persib saat itu hanya mampu finish di posisi ke-16, alias tetap di zona merah degradasi.

Namun, tiba-tiba PSSI melakukan manuver dengan mengubah regulasi. Tiba-tiba diberlakukan laga play off untuk dua tim di posisi 15 dan 16 dengan posisi 3 dan 4 divisi di bawahnya. Misi menyelamatkan nyawa ini sukses setelah Persib mampu menjinakkan Persela Lamongan dan PSIM Yogyakarta di babak play off yang digelar di Stadion Manahan Solo.

Persib pernah merasakan hinanya degradasi pada tahun 1978 dan baru bisa kembali bertarung di jajaran elite klub bola tanah air pada tahun 1983. Namun, masa menyakitkan itu mampu membuat Persib dan seluruh anggota tim menempa diri. Latihan keras dan tekad baja membentuk tim tangguh yang terus diperhitungkan hingga 1995.

Harusnya Persib degradasi lagi?

Beberapa waktu lalu muncul perdebatan bahwa seharusnya Persib dihukum degradasi karena dianggap melakukan WO (walk out) saat dijamu Persija di putaran 2 Liga 1. Opini serangan itu mereda setelah operator liga menyatakan bahwa itu adalah diskresi wasit saja yang menghentikan pertandingan. Persib hanya dinyatakan kalah dan pertandingan diakhiri lebih cepat.

Namun, putusan aneh muncul dari organ yudisial PSSI. Komisi Disiplin PSSI justru menjatuhkan sanksi bahwa Persib dinyatakan kalah 0-3 yang berarti mengarah kepada kondisi kalah WO. Dan jika Persib dianggap kalah WO, maka konsekuensi logis menurut regulasi adalah terlempar dari Liga 1 alias degradasi.

Namun, beberapa kawan melihat dengan perspektif lain. Bahwa sebenarnya putusan Komdis tak memiliki pertimbanagn yang jelas. Mengingat apa yang dilakukan oleh Persib saat laga lawan Persija seharusnya tak cukup dinyatakan kalah 0-3. Karena kalah 0-1, 0-3, 0-10 pun ya sama saja, takkan ada efek kejut bagi mereka yang menyebabkan pertandingan terhenti.

Kawan saya menganggap bahwa sanksi yang layak adalah poin Persib dikurangi, terlepas dari implikasi terburuk bahwa Persib akan masuk zona degradasi karena poin yang berkurang signifikan. Karena efek pengurangan poin yang berimbas ke degradasi sebenarnya lebih disebabkan Persib memang berada di posisi kritis.

Dua argumen yang masuk akal terkait Persib seharusnya terdegradasi memang membuat saya mual dan pusing. Tanpa Persib, memang tak ada lagi alasan logis bagi saya untuk menikmati Liga 1 musim depan.

Namun, entah bagaimana caranya, Persib masih ada di kasta teratas kompetisi sepak bola Indonesia. Mungkin ungkapan itu benar adanya: Tuhan pun tak ingin Persib terdegradasi.***