Momentum

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

BANYAK partai menunda mengumumkan calon gubernur dengan dalih menunggu momentum yang tepat. Ridwan Kamil yang telah lebih dulu menggenggam tiket ke bursa calon gubernur berkat dukungan Partai Nasdem, PKB, PPP dan Partai Golkar belum juga mengumumkan calon wakil gubernurnya. Sementara Partai Gerindra yang sejak lama disebut-sebut akan mengusung Deddy Mizwar malah memunculkan Mayjen (Purn.) Sudrajat, sementara calon pendampingnya diserahkan kepada partai pengusungnya. Adapun Deddy Mizwar yang sejak lama disebut-sebut akan maju bersama Akhmad Syaikhu baru didukung Partai Demokrat, minus Akhamd Syaikhu yang masih menunggu keputusan PKS.

Dalam perbendaharaan kata politik Indonesia, momentum dimaknai sebagai saat yang tepat (untuk deklarasi, mengumumkan nama calon dan pasangannya, atau saat yang tepat untuk melakukah hal strategis lainnya). Sementara dalam khazanah kepemimpinan, momentum dimaknai sebagai salah satu kunci sukses seorang pemimpin karena ia tampil pada saat yang tepat.

Setelah melakukan penelitian terhadap kunci sukses Presiden Amerika yang dinilai hebat, Waller R. Newell (dalam The Soul of A Leader: Character, Conviction, and Ten Lessons in Political Greatness. HarperCollins e-book), menyimpulkan bahwa setiap pemimpin memiliki momennya. Momen kemunculan seorang pemimpin dihubungkannya dengan kharisma. Seorang pemimpin yang menemukan momennya akan diidentifikasi sebagai sosok yang dekat atau sudah dikenal pemilih. Akan banyak pemilih menyambut kemunculannya dengan mengakui, "Dia seperti kita, Dia menghadapi apa yang kita hadapi".

Penjelasan ini pun sekalipun mengoreksi makna harisma semula dihubung-hubungakan dengan faktor yang mistis menjadi pengakuan pengikut karena mereka merasa dekat, dan menjadi bagian dari kehidupan pemimpinnya. Kharisma muncul karena pemimpin dan pengikut berbagi pengalaman yang sama.

Newell menyebut contoh yang dikemukakan  John Morely ketika menggambarkan kemunculan Theodore Roosevelt, yang karena ketegasannya sering diidentifikasi sebagai “Dia seperti saya. Bahkan Dia mirip sekali ayah saya”. Demikian juga dengan Reagan, yang dipandang selalu menyelesaikan urusan publik lebih baik ketimbang orang-orang terpelajar sekalipun. Pengakuan yang sama dialamat kepada Franklin Roosevelt, seorang aristocrat yang dinilai penuh kharis, karena kemunculannya menyelamatkan kapitalisme dengan menentang orang-orang kaya dan meminjam ide-ide dari demokrasi sosial.

Momentum pun menyambut kemunculan Hillary Clinton, dan karenanya dengan sangat cerdas menyebut dirinya dengan “Hillary” saja. Pilihan sebutan ini secara persuasif bermakna, “kalian tahu perempuan ini, dan nama itu telah kau simpan dari dulu sampai sekarang”.

Prinsip setiap pemimpin memiliki momennya, dan setiap momen ada pemimpinnya, adalah kearifan perenial dalam memaju-mundurkan seorang kandidat. Memang kemenangan dan kekalahan berbalut takdir. Bila Tuhan sudah menggaris takdir maka tidak ada kekuatan yang akan menggugurkannya. Namun bukankah ruang politik dicipta hanya karena yakin bahwa apa pun bisa terjadi menurut  cara-cara yang diperjuangkan.

Kendati momentum tidak menjamin kemenangan, namun mempertimbangkannya adalah setengah dari kemenangan itu sendiri. Sama seperti seorang designer yang akan mengeluarkan rancangannya, dia tidak hanya berpatokan pada ide kreatif atau kemauan bebasnya, namun ia berpatokan pada aspek fungsi yang diharapkan penggunanya.

Dalam konteks pemilihan gubernur, sang “king maker” bukan hanya menggembalakan ide kreatifnya dalam mengusung pasangan kandidat, namun juga mempertimbangkan aspek “keamanan” dan “kenyamanan” bagi masyarakat dan pemilihnya. Dimaksudkan dengan keamanan adalah jaminan bahwa kandidat yang diusung bila terpilih tidak akan memenjarakan kantornya karena potensi masalah di masa lalu. Kemunculan dia tidak akan mencelakakan siapa pun, tidak akan “nangkeup mawa eunyeh”, namun sebaliknya, semua orang akan merasa tenang bersamanya.

Pun kenyamanan, bukan hanya kemampuannya mendatangkan apa yang didamba masyarakat, namun sosok dan pemikirannya berada dalam jangkauan pemikiran manusia biasa. Lebih dari sekedar tokoh yang dipercaya paling mampu menunaikan tugas, namun dia pun akan menjadi tempat menemukan gambaran diri masing-masing pemilih. Ketika pemilih dituntut bersabar, wujud kesabaran ditunjukan oleh pemimpinnya. Pun ketika ibu pertiwi sedang sedih dan bersusah hati, dia hadir menjadi penyembuh dan pembawa semangat.***