Dosa Para Legenda

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

TULISAN ini bisa dikatakan respons atas tanggapan beberapa kawan terhadap tulisan saya minggu lalu yang berjudul "Tindak Pidana Pengaturan Skor". Tulisan itu dianggap terlalu bergaya yuridis dan hanya memanjakan mereka familiar dengan dunia hukum, kali ini perspektif bergeser dalam konteks historis dan sosiologis. 

Namun, dialektika ini tentu akan membuat sedih dan mengusik sisi sentimentil kita para bobotoh Persib, karena pemain-pemain besar yang selalu kita banggakan dan puja saat bernostalgia ternyata tak lepas dari lumuran skandal pengaturan skor. Air mata bisa jadi menetes namun tak menyembunyikan fakta bahwa para legenda pun terkadang tak selalu menjunjung kehormatan dan sportivitas.

Motif ekonomi

Sebenarnya tak ada korelasi positif antara jagonya seorang pemain dan bersihnya dia dari skandal suap. Fakta membuktikan justru semakin hebat seorang pemain maka dia semakin wajib "ditawar" agar tak melakukan aksi-aksi di luar dugaan yang dapat mengacaukan skenario.

Tak ada pula korelasi antara hebatnya seorang pemain sepak bola dengan tercukupinya kebutuhan hidup dan syahwat materi. Hanya kehormatan dan imanlah yang mampu menjadi pembatas tegas.

Jangankan di masa lalu, saat sepak bola Indonesia masih belum memasuki gerbang profesional, di era profesional seperti sekarang pun tak ada jaminan hidup sejahtera bagi pemain bola. Pada masa lalu, pemain bola justru bergelimang harta dari "usaha sampingan".

Seorang mantan pemain Persib dan timnas (yang tentu takkan saya sebutkan namanya) pernah mengatakan bahwa godaan suap tak bisa ditolak semudah diri menggenggam idealisme. Dulu, seorang pemain tak digaji tetap. Paling hanya mendapat bonus dan uang saku.

Sementara tawaran dari bandar judi bukan lagi puluhan kali lipat dari uang yang biasa diberikan oleh pengurus namun bisa ratusan kali lipat. Jika pemain biasa mendapat bonus 50 rupiah dari pengurus klub jika menang, maka si bandar bisa menjanjikan uang hingga 5.000 rupiah. Gelimang uang jelas menjadi tujuan utama para pemain melakukan aksi "main sabun".

Main mata pemain dan wartawan

Transaksi suap di masa lalu tak semodern sekarang yang bisa dilakukan melalui transfer antarbank. Dulu, si pemain akan menenteng kantong atau tas berisi uang haram malam setelah pertandingan. Biasanya wartawan-wartawan olah raga sangat paham pemain mana yang menerima suap karena memang wartawan olah raga tempo dulu adalah pengamat yang akurat termasuk mampu menangkap gestur dan hal tak biasa dari seorang pemain bola.

Wartawan yang paham, akan langsung menodong saat memergoki pemain yang baru saja mengambil "fee". Yang terjadi kemudian adalah hal yang tak kalah amoral karena si wartawan akan mendapat juga sejumlah uang untuk tutup mulut dan tak memberitakan yang aneh-aneh.

Namun, selalu ada perkecualian untuk semua hal. Ada satu wartawan senior sekaligus budayawan yang benar-benar mengutuk aksi pengaturan skor ini. Beliau adalah almarhum RAF (Rahmatullah Ading Affandi). Sebelum beliau wafat, bertempat di kediamannya di Guruminda Soekarno-Hatta, RAF sempat menceritakan kisah-kisah memalukan terkait pemain-pemain Persib yang pernah menerima suap, beberapa di antaranya adalah nama-nama tenar yang masih hidup hingga kini.

RAF adalah jurnalis yang menjunjung kehormatan dan sportivitas. Ia bahkan pernah begitu lantang menyuarakan agar para pemain Persib yang terbukti terlibat pengaturan skor untuk diberi sanksi tegas. 

Ajang perjudian

Jika kompetisi sekelas Liga Eropa saja bisa diatur oleh bandar judi, maka terlalu naif rasanya jika mengatakan kompetisi di negeri ini bersih 100% dari tangan mafia judi bola. Otak utama pengaturan skor ini sebenarnya masih saudara serumpun.

Dalam suatu perbincangan dengan Hinca Panjaitan, mantan Ketua Komdis PSSI, beberapa waktu lalu, saya mendapat info bahwa sebenarnya pengaturan skor liga-liga Eropa justru dikendalikan dari Malaysia dan Singapura. Maka sangat masuk akal jika Indonesia yang terbaca minat judinya sangat tinggi akan menjadi target juga.

Silakan cek media sosial masing-masing. Akan sangat banyak akun-akun lokal yang melakukan promosi judi online. Secara prinsip, sebenarnya judi dalam sepak bola adalah hal yang legal selama tidak berimbas intervensi dan memengaruhi pertandingan.

Judi sama legalnya dengan industri terkait 3G (girl, game, gambling) yang selalu memiliki segmen abadi di setiap era. Yang berbeda hanyalah pengemasannya yang lebih modern.

SEORANG pria berjalan melewati sebuah iklan anti-perjudian Piala Dunia di sebuah pangkalan taksi di Singapura, Rabu (9/7/2014). Singapura mencetak 'gol bunuh diri' dengan iklan anti-perjudian yang menampilkan seorang anak kecewa memberitahu temannya, ayah

Namun ingat, berbeda di negara lain yang melegalkan judi namun melarang judi ilegal (terkait manipulasi hasil), maka di Indonesia segala jenis bentuk judi adalah terlarang termasuk judi terkait sepak bola. Karena memang hukum positif Indonesia memasukkan perjudian sebagai delik pidana dan diatur oleh undang-undang.

Secara de jure, maka sebenarnya Indonesia justru harus lebih bersih dari pengaturan skor, karena judi sebagai koridor utama praktik kotor ini pun sudah menjadi hal yang dilarang. Belum lagi eksistensi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1980 Tentang Tindak Pidana Suap yang sangat memadai untuk menjerat para pelaku suap terkait pengaturan skor. 

Namun untuk menegakkan hukum, substansi saja tidaklah cukup. Ada dua hal lain yang berperan vital yaitu struktur (aparat) dan budaya hukum masyarakat. Kebobrokan klasik dan laten terkait lemahnya aparat tak kita bahas namun menarik ketika kita menyimak budaya dan perilaku masyarakat yang ternyata memang gandrung taruhan (judi).

Saat judi toto dan SDSB eksis secara "legal", ternyata masyarakat menyambutnya dengan antusias. Begitupun segala bentuk perjudian hingga saat ini senantiasa diramaikan oleh antusiasme tinggi khalayak. Tak terkecuali judi bola dalam segala bentuk termasuk online.

Judi bola Jaya

Bicara judi bola, Jawa Barat khususnya Bandung pernah gandrung dengan judi toto di era 60-70an, pernah juga ada tren kupon judi bola "Jaya" di era tahun 2000-an yang menantang prediksi para penggila bola terkait hasil akhir sejumlah pertandingan sepak bola setiap pekannya. Pilihannya cukup sederhana yaitu K jika memilih tim tuan rumah (Kandang) menang, T jika memilih tim tamu (tandang) menang dan S jika hasil pertandingan diprediksi.

Para petaruh bisa mendapat uang puluhan hingga ratusan kali lipat (tergantung jumlah uang yang dipasang) jika mampu menebak seluruh hasil pertandingan. Dengan memasang taruhan minimal Rp 2.000, maka hampir seluruh penggila bola di kota Bandung bisa ikut bertaruh

Kupon Jaya ini sangat populer. Peminatnya begitu banyak. Agen-agen judi bertebaran di berbagai tempat. Perputaran uang dalam lingkaran judi bola memang tak bisa dianggap remeh, nominalnya bisa mencapai miliaran rupiah untuk skala sedang setiap pekan. 

Melihat kenyataan seperti itu, maka akan banyak pihak yang berusaha merekayasa hasil pertandingan dengan melakukan suap. Entah itu kepada wasit ataupun pemain. Hal yang dilakukan demi meraup keuntungan haram semata tanpa berpikir dampak kerusakan terhadap suatu sistem sepak bola di suatu negara.

Pengaturan permainan

Kembali meninjau tim kesayangan kita yang ternyata tak bersih juga dari suap dan pengaturan skor, sebenarnya (tak) sulit merinci periode saat suap meracuni mereka yang pernah berbaju biru. Dari mulai asumsi miring saat digelar kompetisi internal berbalut judi toto "legal" di Kota Bandung hingga periode keemasan Persib di era 1980-1990.

Bisa kita lihat arsip tentang beberapa skor akhir yang cukup kontroversial walau itu untuk kemenangan Persib saat itu. Cerita tentang aroma suap pun sedikit saya tangkap saat berbincang dengan mantan playmaker Persib dan Timnas Indonesia, Profesor Himendra Wargahadibrata usai Lebaran lalu.

Beliau bercerita ketika Persib dipimpin oleh ketua umum legendaris, Solihin GP. Sebenarnya, pemain-pemain yang kena suap sudah bisa ditebak. Apalagi, pengamatan seorang militer seperti Mang Ihin (panggilan akrab Solihin GP) yang tentunya tak bisa dibodoh-bodohi. Namun, jiwa prajurit Mang Ihin membuat gentar siapa saja yang hendak "bermain-main" dengan nama besar Persib.

Pernah ada satu laga di mana "sebaiknya Persib kalah" semata demi strategi memilih lawan. Jika tidak salah, untuk menghindari PSM yang saat itu sedang on fire. 
Namun, Mang Ihin menolak strategi seperti itu. Bahkan, walau yang diturunkan adalah pemain-pemain muda, namun Mang Ihin justru tetap ingin menang dan memotivasi ala militer (baca: mengancam).

Hasilnya adalah Persib justru menang. Belakangan, gara-gara menang inilah maka Persib bertemu lawan yang sebenarnya ingin dihindari dan harus tersingkir. Tentu tak ada yang salah dengan kemenangan itu karena setiap pertandingan memang tidak dijalani untuk kalah.

Sosok-sosok birokrat, militer dan tokoh masyarakat yang hidupnya tidak 100% di sepak bola sangat berperan untuk meredam ego para pemain, Profesor Himendra pernah memberi wejangan yang isinya kira-kira seperti ini:

"Maraneh lamun teu bener maen, aya nanaon. Nu rugi nu maraen, da urang-urang mah bisa keneh ngalakonan hirup. Tapi, pandangan masarakat bakal nutur saumur hirup."


Skandal Senayan

Jangan samakan persepsi masyarakat zaman dulu terhadap suap yang mungkin bisa saja menjadi terbiasa dan menganggap suap adalah hal biasa saat ini. Dahulu, suap adalah perbuatan yang dianggap sungguh hina dan bisa menghancurkan karier seseorang.

Sialnya, jika kita bicara salah satu skandal suap bola terbesar di negeri ini, maka kita akan bicara para pemain Persib yang saat itu mendominasi tim nasional. Mereka terlibat dalam tragedi bernama "Skandal Senayan".

Ada 10 pemain hebat yang terlibat dan sempat dijatuhi skorsing seumur hidup dan 6 pemain di antaranya adalah pemain Persib!

Terbongkarnya Skandal Senayan bisa dikatakan salah satu upaya serius sekaligus kolaborasi terbaik antara negara dan federasi untuk memberantas suap di sepak bola. Walau belakangan, sanksi berat yang direvisi membuat komitmen otoritas terhadap pemberantasan pengaturan skor kembali dipertanyakan.

Kamis lalu, saya diundang dalam suatu diskusi tentang refleksi Liga 1 2017. Salah satu poin yang dibahas adalah indikasi adanya pengaturan skor menyusul dugan keterlibatan empat bandar besar yang terlibat.

Namun, kali ini bukti dan pelaku tak berhasil didapatkan. Bisa jadi, keberhasilan sekelompok penggemar sepak bola yang sukses menyadap pembicaraan terkait pengaturan skor justru membuat para pelaku jauh lebih waspada.

Namun, ibarat bau kentut walau tak kasat mata namun aromanya membuat kita bisa merasakannya. Pembuktian semakin sulit jika federasi pun tak memiliki komitmen kuat. Lihat saja, beberapa tahun lalu, hasil rekaman dan bukti-bukti yang diserahkan ke PSSI ternyata tak ditanggapi dengan serius.

Tiada tindak lanjut. Kasus menguap begitu saja. Padahal, federasi mengetahui bahwa dari informasi yang mereka peroleh maka dugaan tentang pengaturan skor sangatlah kuat.

Jangan lupakan rumus untuk memberantas pengaturan skor dan suap sepak bola hanya bisa dilakukan jika Federasi serius dan berkomitmen kuat. Salah satunya adalah menggandeng otoritas negara untuk masuk karena kemampuan PSSI tentulah terbatas terkait fungsi investigasi, penyelidikan, dan penyidikan.

Tak ada kedaulatan yang diganggu jika semua berperan sesuai porsi dan kewenangannya. Yang diperlukan adalah itikad baik. Lihat saja, terbongkarnya skandal Calciopoli di Italia. Ada peran federasi dan negara di sana.***