Cihideung dan Lava Hitam Gunung Sunda

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

CIHIDEUNG sangat terkenal karena menjadi pusat tanaman hias. Walau namanya Cihideung, air hitam, namun saat ini menjadi penuh warna. Berbagai warna bunga memberikan keceriaan tempat ini. Berderet-deret bunga aneka warna yang dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

Ada juga tanaman yang daunnya beraneka warna yang mencolok. Kastuba berpucuk merah banyak menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah disamping aneka warna bunga lainnya.

Pada mulanya jalan yang melintas di samping Ci Hideung itu namanya jalan Cihideung, kemudian berganti nama menjadi Jalan Sersan Bajuri, merupakan jalan patroli dari Ledeng menembus Cihideung hingga Parongpong, sekaligus jalur kontrol pipa air ledeng untuk masyarakat Bandung yang dibangun pada zaman kolonial.

Ketika daerah Nyingkir dan Cihideung belum berubah menjadi kebun beton, dari sini sayur dan pisang lumut kualitas terbaik dihasilkan. Komoditas itu kemudian dikirim ke Bandung dengan cara ditanggung pada anyaman bambu yang khas.

Rombongan penanggung pisang yang sudah matang itu beriringan, dan beberapa kali berhenti di tempat-tempat tertentu sambil menjajakan dagangannya, seperti di Ledeng, Jalan Setiabudhi, Gegerkalong Girang, dan Gegerkalong Hilir. Setelah lewat pukul sepuluh, biasanya mereka sudah sampai di Jalan Cipaganti, yang dijadikan tempat terakhir untuk menjual pisangnya di bawah pohon mahoni. 

Keadaan kini telah berubah. Kompleks perumahan mewah, rumah makan, dan tempat hiburan, memenuhi kawasan ini. Lengkaplah kawasan Cihideung menjadi kawasan emas yang menawarkan berbagai kesenangan.

Lava Gunung Sunda

Pada mulanya, ketika Gunung Sunda meletus melelerkan lava dengan volume yang luar biasa banyaknya, lalu mengalir di lembah-lembah ke utara ke Kasomalang. Ke selatan mengalir di lembah-lembah seperti di Lebakcigugur, di Ci Beureum, Ci Hideung, Ci Mahi, dan lain-lain.

Leleran lava pijar itu kemudian panasnya menurun dan membeku. Itulah yang menyebabkan sepanjang lembah tadi terdapat aliran lava, batuan beku yang amat panjang, yang menjadi dasar dari lembah berwarna hitam yang kemudian dialiri sungai. Bila diukur dari Gunung Sunda sebagai sumber lavanya, maka jarak alirannya mencapai lebih dari 15 kilometer.

Di ujung lava yang membeku itulah air sungai menjadi jeram dan curug atau air terjun. Namun, ada pula lembah-lembah yang dipenuhi aliran lava, sehingga aliran sungai beralih ke sebelahnya yang lebih rendah.

Inilah yang terlihat di dinding-dinding sungai yang dibentengi lava yang panjang mengagumkan, seperti terlihat di Curug Sigay di aliran Ci Beureum. Sepanjang sungai yang mengalir ke utara dan ke selatan, banyak sekali jeram dan curug yang sesungguhnya sangat bagus bila dijadikan sebagai sumber belajar ilmu kebumian bagi para siswa dan mahasiswa.

Di kiri-kanan sempadan sungai, bila dibuat jalan setapak untuk jalan kaki dan berlari, sangat baik sebagai jalur rekreasi yang mengandung ilmu.

Asal mula nama Cihideung

Lembah yang dialiri lava hitam itu kemudian air mengalir di atasnya. Air sungai yang masih sangat jernih pada masa lalu, airnya akan lerlihat tembus pandang hingga ke dasar sungainya. Air yang mengalir itu kemudian terlihat seperti berwarna hitam. Maka disebutlan Ci Hideung, sungai hitam. Sudah menjadi kebiasaan, kawasan di sekitar sungai itu diberi nama Cihideung. 

Leleran lava itu bersumber dari letusan Gunung Sunda, yang mengalami beberapa kali letusan yang terjadi dalam rentang waktu antara tahun 210.000-105.000 tahun yang lalu. Satu di antara letusannya itu mengeluarkan lava, batuan pijar dari perut bumi yang panasnya seribu derajat celsius.

Jumlah lava Gunung Sunda sangat banyak, sehingga alirannya sangat jauh. Cairan batu kental membara itu menggelegak mengikuti lembah-lembah ke selatan dan ke utara gunung ini.

Sungai-sungai menjadi lautan api. Bila terjadi malam hari, akan terlihat jelas aliran sungai api yang merah menyala, mulai dari puncaknya di utara hingga di lembah-lembahnya di selatan. 

Laboratorium alam

Saat beristirahat di salah satu curug di Cihideung, di bawah kerindangan rumpun bambu dan semak belukar, terasa seperti daerah yang sangat jauh dari pusat keramaian. Di lembah yang jarak dari jalan raya hanya 20 meter itu, namun suara kendaraan mampu diredam oleh berbagi tumbuhan yang masih merimbuni sungai.

Aliran lava sepanjang sungai itu baik bila dijadikan sumber belajar, tempat para siswa belajar tentang lava, lahar, dan tentang material vulkanik lainnya dari letusan Gunung Sunda dan Gunung Tangubanparahu. Belajar tentang letusan gunung api di lapangan, di lokasi terdapatnya material dari letusan gunung api itu, akan lebih menyenangkan dan memberikan pengalaman nyata bagi para pelajar.

Perlu adanya campur tangan pemerintah dalam menegakkan aturan agar sempadan sungai itu tetap menjadi milik publik, sehingga sumber belajar berupa leleran lava di dasar lembah dan di dinding sungai tetap terjaga, yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.***