Di Balik Jalosi

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

KENAL istilah “jalosi”? Saya sih kenal, tapi dulu di masa kanak. Lama juga bunyinya tak terdengar. Karena jarang terdengar, saya melupakannya. Belakangan ia muncul lagi, bahkan jadi begitu dekat dengan diri saya.

Gara-garanya sih Mang Tata, teman saya dari Ciharalang. Sebagai sesama pencari barang rongsokan, dia mengajak saya pergi ke Cihapit. Dari lapak penjual kayu jati, kami mendapatkan sepasang benda yang sangat berguna.

“Jalosi,” ujar teman saya seraya menunjuk benda itu. Itulah kali pertama, setelah sekian puluh tahun, saya mendengar lagi kata itu.

Barangnya serupa jendela, tapi bagian tengahnya berupa susunan palang pendek yang bertumpuk dan mengarah ke bawah. Celah di antara palang-palang itu seperti susunan lubang angin. Lazimnya jendela bercelah ini terdiri atas dua bagian, yang menutup dan membuka ke samping.

Menurut Kamus Sunda Danadibrata (2009), istilah “jalosi” diserap dari bahasa Belanda. Artinya diterangkan sebagai “panutup jandéla imah nu dijieunna tina kusén jeung panel (penutup jendela rumah yang terbuat dari kusen dan panel)”. Dalam Kamus Sunda-Belanda susunan S. Coolsma (1913), istilah “djalosi” (Sunda) diterangkan sebagai padanan dari istilah “jaloezie” (Belanda).

Di telinga saya kini, istilah “jalosi” hampir-hampir terdengar arkhaik. Bunyinya seperti undangan dari masa silam, mengumpulkan lagi berkas-berkas ingatan yang hampir hilang. Mungkin itu sebabnya, saat itu juga, saya langsung merekrutnya. Bahkan saya segera meminta seorang tukang yang tangannya berotot mentul-mentul untuk mengerik catnya yang tebal biar raut kayunya terlihat lagi.

Berkat jasa Mang Endang dan Mas Dio dari Cicarita, jalosi buruk itu terpasang sudah di rumah tumbuh milik kami. Maksud saya dengan “rumah tumbuh” adalah rumah yang rincian arsitekturnya bergantung pada perolehan barang rongsokan sewaktu-waktu. Kebetulan, waktu itu bagian depan rumah kami belum punya dinding permanen. Alhasil, dinding semu menyingkir, dinding permanen terbangun lengkap dengan jalosi. Mantap sekali.  

Saya tidak tahu, dari mana datangnya istilah “jalosi”. Barangkali ia berasal dari Itali, lalu masuk ke Prancis, menyeberang ke Inggris, merambah Belanda, dan pada gilirannya menjelajah Melayu, Indonesia, juga Sunda.

Saya ingat-ingat lagi kemudian bahan-bahan bacaan yang memuat istilah itu. Rasa-rasanya, saya pernah membacanya dalam tulisan siapa begitu. Saya lupa.

Dasar kebetulan, baru-baru ini saya mesti ikut dalam sebuah rombongan ke Inggris. Sebelum naik Garuda, pilihan bacaan saya jatuh ke buku klasik karya Joseph Conrad. Saya pikir, novel Conrad yang sarat dengan permenungan cocok betul buat keperluan melupakan keharusan duduk selama lebih kurang 14 jam. Judulnya, Victory. Novel yang pertama kali terbit pada 1915 itu mengangkat cerita berlatar Indonesia. Di situlah saya bertemu dengan istilah “jalousies” alias jalosi versi Inggris dalam bentuk jamak.

Dalam deskripsi Conrad mengenai suasana di sebuah hotel di Surabaya, ia antara lain menulis sebagai berikut: “Mrs. Schomberg, in a dim upstair room with closed jalousies, was elaborating those two long pendant ringlets which were such a feature of her hair-dressing for her afternoon duties.”

Begitu saya sampai pada bagian itu, di halaman 153 buku terbitan Penguin tahun 1996, seketika saya berseru, “Aha!” Teman duduk di samping saya seketika menoleh sambil berkerut jidat. Ia pasti menyangka saya sedang “stress”.

Entah karena jetlag atau soal lain yang lebih masuk akal, bunyi istilah Inggris “jalousie” di telinga saya kedengarannya dekat dengan bunyi istilah “jealousy”. Istilah yang disebutkan belakangan, tentu saja, berarti “kecemburuan”. Itulah istilah yang merujuk pada keadaan runyam dalam jiwa manusia. Kata sebuah cerita, kecemburuan istri Nabi bisa menyebabkan sebatang pohon tempatnya bersandar hangus terbakar.

Kalau dipikir-pikir, jalosi memang tidak mustahil menimbulkan semacam kecemburuan. Misalkan, saya berdiri di luar, sedangkan di dalam, di balik jalosi, ada sosok lain. Sosok di balik jalosi bisa melihat saya, sedangkan saya tidak dapat melihat dia. Layaklah saya cemburu padanya. Dia mungkin seperti “engkau” dalam sajak “Padamu Jua” dari Amir Hamzah. “Engkau pelik menarik ingin/serupa dara di balik tirai,” ungkapnya.

Apakah dunia ini serupa jalosi juga? Di baliknya ada sosok yang dapat melihat kita, sedangkan kita tidak dapat melihat dia? Saya tidak tahu.***