Nama Geografi di Pinggir Jalan Tol

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

JALAN-jalan utama yang dibangun pada zaman kolonial dua abad silam memang lebar jalannya sempit untuk ukuran sekarang. Ketika jumlah kendaraan tak terbendung serta pelebaran jalan tidak sesuai dengan kapasitasnya, maka jalan itu menjadi sangat padat oleh berbagai jenis kendaraan.

Hal ini telah mengakibatkan kemacetan kronis sepanjang hari dan terjadi di mana-mana. Kerugian bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal bahan bakar yang terbuang percuma, dan pencemaran udara di jalanan yang macet kronis itu akan semakin buruk. 

Apalagi bila terjadi penambahan jumlah kendaraan yang melintas di kawasan itu untuk menuju suatu tempat pada waktu-waktu tertentu. Saat akhir pekan, libur panjang, atau libur hari raya, sudah dapat dipastikan akan menimbulkan kemacetan luar biasa.

Kemacetan kronis itu telah menginspirasi dan membuka peluang baru untuk investasi dalam pembangunan jalan tol. Maka dibangunlah jalan-jalan tol dalam kota, lingkar luar, lingkar dalam, serta jalan tol antar daerah antar provinsi. Siapa saja yang masuk ke jalan bebas hambatan itu diharuskan membayar tol sesuai dengan tarif yang sudah ditentukan. 

Namun, ternyata, sekarang ini di jalan tol pun tidak bisa terbebas seratus persen dari kemacetan. Melaju di jalan tol pun bukan jaminan akan selalu lancar tanpa hambatan. 

Kini, di jalan tol dalam kota juga sering terjadi kemacetan yang parah. Pengendara dapat menghabiskan waktu berjam-jam saat terjebak kemacetan. Kendaraan yang melaju kencang kemudian melambat dan terus melambat ketika sampai di gerbang tol. Kemacetan akan dilanjutkan pada saat memasuki jalan lama non-tol. 

Wilayah terpisah jalan tol

Jalan tol dibangun dengan tujuan untuk mempercepat perjalanan bagi yang menggunakan kendaraan roda empat atau lebih. Dalam pembangunnya, pastilah jalan tol banyak membelah lahan-lahan subur yang berupa persawahan, kebun buah-buahan, dan hasil bumi lainnya. 

Juga jalan tol itu ada yang asalnya berupa perbukitan, lembah, tegalan, hingga perkampungan. Satu kampung yang mengelompok, atau yang rumah-rumahnya tersebar di dalam kebun rambutan, misalnya, mendadak terpisah karena daerahnya dilintasi jalan tol. 

Keeratan hubungan kekerabatan penghuni kampung tiba-tiba dipisahkan oleh jalan bebas hambatan dengan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Kekerabatan sesama warga kampung merenggang, menjadi terasa sangat jauh, padahal hanya dipisahkan oleh dua jalur jalan tol. Walau pun secara jarak lurus sangat dekat, tapi karena jalan tol tidak memungkinkan untuk menyeberang di sembarang tempat. 

Jembatan di atas jalan tol sudah disediakan, namun lokasinya sangat jauh dari tempat mereka bermukim, atau tidak ada sama sekali.

Sebagai contoh, Jalan Tol Purbaleunyi yang menghubungkan Kabupaten Purwakarta dan Bandung. Tol ini selesai dibangun pada akhir April 2005 dan membentang dari Cikampek-Purwakarta sampai Padalarang sepanjang 58,5 kilometer.

Jalan tol ini membelah bentang alam dan perkampungan yang sudah memiliki namanya secara mandiri. Sebut saja itu lahan-lahan kebun, perbukitan, persawahan, tegalan, dan perkampungan.

Nama dan angka

Namun, nama-nama geografi itu seketika lenyap tak dikenali lagi di sepanjang jalan tol karena nama-nama geografi itu disederhanakan menjadi sekadar angka-angka. Misalnya saja tempat-tempat istirahat di tol dari Jakarta ke Cileunyi: Rest Area KM 19, Rest Area KM 39, dan Rest Area KM 57. Sebaliknya, tempat-tempat istirahat di jalan tol dari Bandung ke Jakarta adalah: Rest Area Pasteur, Rest Area KM 57, dan Rest Area KM 147.

Demikian juga dalam pemberitaan di media masa, seperti yang ditulis dalam judul Pikiran Rakyat tentang insiden kecelakaan di jalan tol. Nama-nama daerah berubah menjadi angka-angka.

Untuk kemudahan teknis pengelolaan jalan tol dan untuk ketepatan lokasi, angka-angka yang menunjukkan jarak dalam kilometer itu baik tetap digunakan. Namun, ada baiknya perlu ada penambahan nama-nama geografi yang dipasang di pinggir jalan tol.

Oleh karena itu, perlu dibuat papan-papan nama geografi yang menunjukkan awal batas kawasan, yang akan diganti dengan papan nama geografi di awal batas kawasan berikutnya. Dengan cara itu, semoga pengendara di jalan tol itu mengetahui di daerah mana mereka sedang berkendara.***