Bonek Bukan Bobotoh Nekat

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

SEPEKAN terakhir, kita dibuat kaget oleh hal yang sebenarnya tak mengagetkan tentang polah bonek, julukan bagi pendukung klub sepak bola Persebaya Surabaya.

Insiden pertama adalah peristiwa pengeroyokan dan penjarahan yang dilakukan terhadap petugas GBLA, belakangan muncul pemberitaan bonek yang mengambil makanan tanpa membayar, meminta uang ke warga untuk makan, walau sebagian melakukan aksi cukup “niat” dengan cara mengamen (walau memaksa) dan menjadi juru parkir.

Tulisan ini tentu bisa dibantah oleh berbagai pihak dengan argumen berdasar persepektif dan pengalaman yang berbeda dengan saya. Namun, inilah pandangan dan kesan saya terhadap bonek.

Nekat

Bonek adalah singkatan dari Bondo Nekat, dalam konteks suporter sepak bola, sematan yang berlebihan memang sering kali ada. Namun, saat kita bicara bonek, sesungguhnya julukan itu tidaklah berlebihan karena mereka benar-benar nekat dalam artian sesungguhnya.

Citra berani dari kota pahlawan bisa jadi mereka amalkan betul. Kolega dekat yang berasal dari Surabaya memang seperti itu adanya, mereka dikenal berani dan teguh jika sudah memiliki tekad, citra keras bagi orang Jawa pun sangat lekat bagi mereka yang tinggal di jawa bagian timur jika dibanding orang Jawa Tengah apalagi Jawa Barat.

Seorang kawan berfilosofi bahwa jika pulau Jawa diibaratkan sosok manusia yang merebahkan diri, Jawa Barat adalah kepalanya, Jawa Tengah itu perutnya dan Jawa Timur adalah kakinya. Lebih lanjut, kawan tersebut mengatakan, karakter warganya pun sesuai, urang Jawa Barat yang someah, berpikir, banyak kaum intelektual lahir dari sini.

Jawa Tengah lekat dengan penguasaan ekonomi dan kesejahteraan untuk membuat kondusif. Jawa Timur dikenal maju dalam bdiang ekonomi, pendidikan, dan pembangunan ettapi juga keras serta bertensi tinggi. Maka, konflik pilkada, agraria, dan sebagainya rentan terjadi di provinsi ini.

Walau permasalahan yang sama hadir di daerah lain, watak dan karakter orangnya membuat hasil yang berbeda. Bisa jadi apa yang dikatakan kawan saya itu hanyalah asumsi berlandas “cocokologi”. Namun, dalam konteks militansi suporter sepak bola, bisa jadi relevan dengan apa yang saya alami.

Contoh paling simpel adalah membandingkan kedua suporter (bobotoh dan bonek) saat melakukan invasi besar-besaran dalam rangka mendukung tim kesayangannya. Kadar nekatnya sungguh berbeda.

Jika seorang bobotoh akan berangkat mendukung Persib ke luar kota, hal nekat yang dilakukan mungkin hanya sebatas bolos sekolah, bolos kerja hingga terancam dipecat, menjual barang-barang berharga, dan sebagainya. Namun bobotoh tak akan berani mengambil risiko yang membahayakan dirinya sendiri.

Keberanian bobotoh dapat ditakar dan masih bisa ditebak. Namun bonek akan siap berangkat mendukung Persebaya dalam kondisi apapun walau membahayakan dirinya atau membuat dirinya berada dalam kesulitan.

Saya pernah bertemu dengan bonek yang datang ke Bandung hanya membawa uang Rp 2.000 dan baju yang melekat di badan. Beberapa orang lainnya saya tanya dan kondisinya tak jauh beda. Mungkin ada yang membawa uang Rp 10.000, Rp 20.000, intinya mereka hanya memaksakan untuk tiket pertandingan.

Perkara biaya makan tak mereka hiraukan. Terlebih soal transportasi karena sebelum PT. KAI mereformasi diri, bonek terbiasa melakukan perjalanan lintas provinsi belasan jam walau harus berada di atap gerbong kereta.

Kali ini pendukung Persib harus mengakui bahwa walau sama-sama loyal dan militan, keberanian dan militansi bobotoh memang tak ada apa-apanya jika dibanding pendukung Persebaya kategori bonek jenis ini.

Seperti pernah saya katakan bahwa bobotoh mah “garaya” dan “maranja”, ke stadion mandi dulu, tidur di kota lain harus nyaman hingga harus menyewa hotel walau bukan hotel mewah dan satu kamar diisi hingga lima orang.

Kultur urang Bandung yang serba sungkan membuat mereka berhitung cermat tentang baju ganti, kebutuhan makan, dan sebagainya selama berada di kota orang karena jangankan mengganggu warga, sesama bobotoh saja akan sangat canggung meminta makanan jika tak benar-benar saling kenal.

Karakter bobotoh yang seperti itu membuat mereka tak akan merepotkan otoritas setempat saat membanjiri kota lain ketika mendukung Persib.

Contoh nyata adalah ketika puluhan ribu bobotoh memenuhi kota Palembang untuk mendukung Persib di semifinal dan final ISL 2014.

Alih-alih mengganggu ketertiban, bobotoh Persib justru menimbulkan dampak positif karena okupansi hotel meningkat dan ekses ekonomi lain. Seorang kawan menceritakan bahwa  gerai minimarket di sekitar bobotoh menginap hanya menyisakan obat nyamuk, pembalut wanita, dan keperluan rumah tangga karena makanan dan minuman ludes diborong bobotoh.

Gaya hidup

Bonek beneran pastilah nyeker. Ya, saya tidak sedang bergurau. Mereka sanggup dan terbiasa berkelana tanpa menggunakan alas kaki walau harus berpindah kota hingga ratusan kilometer.

Lalu apakah fenomena ini selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi? Tampaknya tidak karena beberapa kolega saya yang termasuk kategori mapan dan berpenghasilan baik pun terkadang turut nyeker jika menonton Persebaya.

“Bonek ya seperti ini, Mas Eko” ujarnya.

Bisa jadi, karakter dan kultur bonek bukan lagi karena suatu keadaan tertentu namun memang sudah menjadi gaya hidup yang menjadi acuan bagi mayoritas pendukung Persebaya.

Maka jangan heran jika ada pendukung Persebaya yang menggunakan pesawat namun dia tak membawa baju ganti dan tak keberatan tidur berbaur di musala dengan bonek lainnya walau memiliki cukup uang untuk tidur di hotel yang nyaman. Namun satu yang pasti, solidaritas yang pekat ini adalah aset dan potensi yang tidak main-main. Insiden bentrokan bonek dengan sebuah padepokan silat beberapa waktu lalu menjadi contoh betapa dahsyatnya efek sosial bonek walau dipicu keberanian yang tak rasional.

Ungkapan dan slogan semacam “wani”, “nyali”, “berani mati” “diam menakutkan bergerak mengancurkan” adalah sinyalemen bahwa pergerakan mereka memang berlandaskan nyali dan mental berani. Bonek adalah suporter sepak bola yang paling banyak memiliki musuh dengan pendukung tim lain.

Kedekatan bonek dan bobotoh

Bahkan di Jawa Timur sendiri, mereka  tak diterima di beberapa kota. Malang dan Lamongan misalnya. Terkait kedekatan bonek dan bobotoh, sebenarnya dapat dijelaskan secara historis dan logis.

Bonek dan bobotoh telah eksis puluhan tahun lalu, jauh sebelum tren kelompok suporter dengan embel-embel “mania” bermunculan di Indonesia.

Sebagai suporter tradisional di negeri ini, tentu ada pengakuan dan rasa hormat di antara pendukung Persib dan Persebaya karena mereka sama-sama telah berpengalaman membirukan dan menghijaukan Senayan ketika pendukung sepak bola di kota lain baru “belajar” menonton sepak bola.

Terlebih, eksistensi kedua pendukung sama melegendanya dengan klub yang mereka dukung, Persib dan Persebaya adalah dua nama besar di era perserikatan yang begitu dicintai warga kotanya.

Komitmen seluruh warga tercermin dari jumlah pendukung yang selalu memenuhi stadion dan peran serta elemen strategis seperti birokrat, pengusaha, dan artis-artis masing-masing kota di masa lalu.

Batas toleransi

Menyimak berbagai pemberitaan belakangan ini, kita akan menganggap bonek sebagai momok dan memang itulah kenyataannya. Di balik kedekatan dan ketiadaan masalah antara bonek dengan pendukung Persib, kehadiran mereka tetap meresahkan utamanya warga yang tak ada sangkut pautnya dengan euforia stadion.

Kejadian-kejadian yang terjadi selama kehadiran mereka di Bandung saat mendukung Persebaya di babak 8 Besar Liga 2 tentu bisa menjadi tolok ukur bahwa ikatan emosional antara bobotoh dan bonek tak lantas membuat bonek berlaku baik di Kota Bandung.

Walau ini bukanlah kali pertama bonek hadir di Bandung, kali ini menjadi berbeda dengan kehadiran mereka sebelumnya. Jika biasanya mereka hanya hadir untuk satu pertandingan dan segera meninggalkan Kota Kembang, kali ini mereka berkeliaran cukup lama karena akan menonton Persebaya untuk beberapa pertandingan.

Asal tahu saja, secara umum, bonek ya seperti itu juga di Surabaya, meminta rokok, mengamen, dans ebagainya. Namun, bisa jadi warga Surabaya terbiasa dengan hal itu dan tak segan menolak atau menghardik lebih keras jika keberatan.

Wajar jika warganya pun lebih berani karena sama-sama orang Surabaya, sama-sama pendukung Persebaya juga, dan bisa jadi lebih galak dari bonek.

Kondisi psikologis dan kultur warga kota lain yang syok bisa jadi membuat bonek-bonek ini lebih ngelunjak dan bertingkah jika sedang berada di kota lain. Terlebih, jika kita kaitkan dengan kultur warga Bandung yang cenderung terlalu ramah, tak mau ribut, dan menghindari konflik.

Tak perlu kita mengungkit lagi kasus aktual di Bandung namun kemarahan warga kota lain terhadap bonek dapat kita lihat dengan reaksi warga Solo.

Saking buruknya pengalaman mereka dengan bonek, bobotoh yang dianggap bersekutu dengan bonek pun menjadi incaran. Dulu setiap kali bobotoh menonton sepak bola ke Jawa Timur menggunakan Kereta Api, harus bersiap menerima serangan lemparan batu ketika kereta melewati daerah Solo.

Kebiasaan buruk oknum bonek adalah meminum minuman beralkohol. Hal ini bukan fitnah lho ya. Insiden tewasnya bonek yang meminum miras oplosan di Subang awal tahun ini usai aksi di Bandung bisa menjadi bukti.

Tingkat dan tekad mabuk mereka pun memang tak lepas dari kategori nekat. Jika Anda ingin tahu minuman apa yang mereka minum saat ingin mabuk namun dana pas-pasan, Anda bisa membayangkan seperti apa rasanya jika alkohol 70% dicampur dengan coca-cola, losion antinyamuk dan beberapa kemasan minuman energi berbentuk serbuk.

Ya, gila memang tapi beberapa di antara mereka langsung mencampur zat berbahaya tanpa pertimbangan dan takaran yang jelas. Mereka tak memahami bahwa karakter alkohol yang bisa ditoleransi tubuh dan digunakan untuk minuman sangatlah berbeda dengan alkohol pembersih luka.

 Ada cerita, saat bonek berkumpul di Jalan Gurame, Kota Bandung beberapa tahun lalu, teman saya yang peminum sampai menolak dan mengatakan bahwa gak sanggup jika harus mabuk bareng bonek karena entah apa yang mereka minum namun efek seteguk pun pusingnya langsung terasa.

Silakan buka arsip berita tentang bonek yang tewas karena miras oplosan, Anda akan menemukan lebih dari dua berita di berbagai lokasi.

Almarhum Ayi Beutik, panglima Viking, pernah mengatakan bahwa bobotoh disebut suka mendramatisasi oleh bonek, mereka mengatakan, “Kalau bobotoh, ada satu tewas saja sudah heboh, Kami bonek setahun bisa tewas belasan, ada yang jatuh dari kereta, dikeroyok, dan tewas menenggak miras, tapi biasa saja.”

Mang Ayi Beutik mengatakan ini saat kami menjenguk bobotoh yang jatuh dari kereta usai badan mereka membentur semacam tembok karena mereka duduk di atas gerbong. Korban dirawat di rumah sakit Santosa dekat Stasiun Bandung, entah tahun berapa, namun yang pasti saat itu PT. KAI belum mereformasi diri karena para suporter bisa berada di atas gerbong.

Bonek-bobotoh akan selalu bersaudara. Namun jika bonek sejati yang selalu menyangkal tindakan kriminal dilakukan kelompok mereka tak mampu untuk mengatasi pencemar nama bonek itu sendiri, saya khawatir warga Bandung akan menafsirkan secara mengeneralisasi dan pukul rata bahwa seburuk itulah bonek pendukung Persebaya. Padahal, kita semua percaya tak semua bonek seperti itu.***