Curug Citambur

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SUARA airterjun bergemuruh, bur… bur… bur… seperti tambur yang dipukul keras. Karena suaranya yang mirip tambur itulah maka air terjun ini dinamai Curug Citambur. Butir-butir air tertiup angin, terbang melayang-layang, lalu jatuh di sekujur tubuh pengunjung yang mendekat. Tidak perlu menunggu lama bila berada di sana, baju sudah berubah menjadi basah-kuyup.   

Keindahan dan kemegahan Curug Citambur, sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Sepanjang perjalanan menyuguhkan bentang alam yang mengagumkan. Tebing tegak lurus yang membentang, dihiasi airterjun yang berjajar. Jalan berkelok menurun dan menanjak, dengan lembah curam di bawahnya.

Perubahan dari bentang budaya ke bentang alam tersaji dengan sempurna sepanjang perjalanan ke Curug Citambur di Desa Karangjaya, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Cianjur, yang menapaki lereng-lereng gunungapi purba. Selepas dari Ciwidey, Kabupaten Bandung, bentang alam berupa lereng Gunung Patuha tua dengan bongkah-bongkah lava raksasa yang terdapat di sepanjang jalan. Bila berjalan dari arah Bandung, begitu sampai di Ciburial, Rancabali, dua material letusan gunungapi purba bersalaman di kaki gunung. Jalan yang mengular itu berada di celah antara dua benteng alam, di antara dua material letusan gunungapi purba. Di sebelah utara jalan berasal dari letusan Gunung Kendeng dan di sisi selatannya berasal dari letusan Gunung Patuha tua.  

Di kiri kanan jalan, sepanjang kawasan itu sudah dikelola menjadi perkebunan teh Rancabali dan Sinumbra yang menghijau subur. Sepanjang jalan akan dimanjakan dengan bentang alam yang hijau bergelombang, seperti yang diiris-iris menjadi lengkungan yang ritmis. Sesungguhnya, garis-garis itu adalah jarak antar pohon teh yang mengikuti garis ketinggian lahan.

Di antara lembutnya daun teh yang hijau, mencuat bongkah-bongkah batu raksasa yang kokoh hasil letusan gunungapi purba. Perpaduan yang harmonis antara kokohnya lava dengan lembutnya pucuk-pucuk teh yang segar. Harmoni ini sangat bagus bila dijadikan “Taman Lava” Rancabali. Dengan penataan sedikit saja, dan membiarkan keutuhan alamiahnya, bongkah-bongkah raksasa, ditambahkan papan informasi tentang sejarah perkebunan teh dan asal-usul bongkah lava itu, dengan penataan yang tidak mengganggu, pengunjung akan mengetahui makna di balik pesona karpet hijau perkebunan teh dan asa-usul kejadian, dan keberadaan bongkah lavanya. 

Perjalanan menuju Curug Citambur dari Bandung melalui Soreang – Ciwidey – Rancabali – Sinumbra – Cipelah – Cisabuk – Citambur sejauh 81 km. Pesona alam itu terganggu karena kondisi jalan yang masih rusak antara Cipelah – Cisabuk yang berada di wilayah Kabupaten Bandung. Setelah melewati aliran Ci Sabuk yang menjadi pembatas dua kabupaten, jalan di wilayah Kabupaten Cianjur itu benar-benar ngageleser, sudah mulus. 

Curug Citambur itu aliran sungainya berhulu di Gunung Kendeng, yang aktif membangun tumbuhnya antara 1.800.000-700.000 tahun yang lalu. Gunung ini meletus dahsyat, menghembuskan material dari dalam tubuhnya dalam jumlah yang sangat banyak, hingga bagian atas gunung itu tak mampu lagi menahan beban, akhirnya tubuh gunung itu ambruk membentuk kaldera dengan diameternya yang mencapai 12,5 km. Kaldera itu kawah yang diamaternya lebih dari 2 km. Di dalam kaldera Gunung Kendeng pada periode akhir, pernah terbentuk danau kaldera dengan diameter sekitar 5 km.

Dari ketinggian maksimal 1.797 m.dpl. di lereng selatan Gunung Kendeng, mengalir Ci Tambur sejauh 15 km, melewati hutan dan perkebunan teh. Ujung gawir material letusan Gunung Kendeng membentuk tebing tegak yang berupa perselingan antara lava dan breksi. Di beberapa tempat, dinding curam itu tingginya ada yang mencapai lebih dari 150 m. Inilah yang menyebabkan aliran sungai di sisi selatan Gunung Kendeng membentuk airterjun bila sampai di ujung gawirnya. Seperti Curug Citambur yang tingginya 130 meter. Airterjun ini jatuh dari tebing tegak dengan ketinggian 1.100 m.dpl., yang membentuk beberapa tingkatan air terjun, hingga mengalir di aliran Ci Sabuk pada ketinggian 900 m.dpl. Anak sungai ini terus mengalir sejauh 3 km untuk menemui ibunya di Ci Buni. 

Ketika air terjun bersalaman dengan udara, saat itulah terjadi peng-oksigen-an kembali air. Oksigen akan masuk ke dalam butir-butir air yang halus. Inilah salahsatu cara alam memasukan oksigen ke dalam air melalui air terjun, dan menerbangkan zat-zat dalam air yang berlebih. Inilah yang menyebabkan, bila berada di dekat air terjun, dan membiarkan hembusan butir-butir halus air yang tertiup angin mengelus tubuh kita, kesegarannya akan terasa nyata.

Para pencinta kemegahan alam selalu datang berulang dengan penuh hidmat di situs-situs alam, karena dengan cara itulah semesta kembali mengisi relung jiwanya dengan energi alam yang selalu menumbuhkan harapan.

Menjelang sore, di keheningan lembah bersawah, airterjun menimbulkan suara berdebur yang tertiup angin hingga jauh. Bunyinya kadang keras, kadang pelan, terdengar seperti suara tambur, bur… bur… bur… berdebur-debur air curug Citambur.***