Menonton Korupsi

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

MAU dong saya menonton film "Korupsi" (1956). Itulah film arahan Rd. Ariffien (1902-1976), sutradara ternama tedak Cimahi. Film ini dibintangi oleh Bambang Hermanto, Udjang, Sulastri, Moh. Mochtar, Nany Ruhimat, Tuty Suprapto, Dian Angriani, A. Sibarani, dll. Produksi Tjendrawasih Super ini ditujukan kepada orang dewasa alias kalangan 17 tahun ke atas. 

Tak tahulah saya ke mana mencarinya. Saya baru dapat membayangkan betapa, pada pertengahan dasawarsa 1950-an, film itu diputar di bioskop-bioskop ternama seperti Texas dan Varia di Bandung atau Flora di Sukabumi. Habis diputar di Varia, seperempat jam kemudian gulungan film diboyong ke Texas. 

Bioskop adalah tempat yang tepat buat menyalurkan hasrat mengintip. Di situ khalayak Indonesia mendapatkan hiburan dengan menonton keburukan Indonesia. Dalam kegelapan ruang bioskop adegan korupsi kiranya sekelas dengan adegan ranjang yang memang tidak pantas ditonton oleh kalangan di bawah umur. 

Gambar dan tulisan dalam poster film, juga pesan iklannya di halaman koran, mencerminkan semangat zaman. Lihat, misalnya, halaman advertensi Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode, 30 Oktober 1957. Posternya membetot perhatian dengan huruf-huruf tebal. 

Bunyinya, "Terror Korupsi dan Banditisme di Tanah Air". Pesan iklannya tak kalah serius. Bunyinya, "Selama Tukang Korupsi masih meradjalela peraturan 'Hidup Baru' selalu ditentang!" 

Sayang sekali, saya belum lahir pada masa itu. Sekarang pun saya belum berhasil mendapatkan kesempatan untuk menontonnya. 

Tantangan "Hidup Baru"

Saya tidak tahu, apa yang dimaksud dengan "hidup baru" dalam konteks semangat zaman dasawarsa 1950-an. Barangkali ungkapan itu lahir dari harapan kolektif setelah Indonesia merdeka. Mungkin orang mengangankan tumbuhnya watak manusia merdeka, bebas dari penghisapan dan penaklukan, bergiat mewujudkan kemakmuran dalam keadilan. 

Yang pasti, rintangannya tidak lain dari kehadiran "tukang korupsi". Rupanya, korupsi rupanya merajalela di Indonesia bahkan ketika negeri ini belum lama merdeka. Isyu tentang korupsi merupakan salah satu berita buruk yang turut mengiringi jatuh bangunnya pemerintahan. 

Coba simak lagi studi mendiang Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (2007). Bagi mereka yang tergugah oleh semangat kepahlawanan memperjuangkan kemerdekaan, pemerintahan Indonesia pada awal dasawarsa 1950-an antara lain ditandai dengan "kemalasan (laziness), korupsi (corruption), dan perkoncoan (clique infighting)". 

Rekan seperjuangan kemarin jadi lupa daratan hari ini. Kekuasaan membawanya ke pusaran dekadensi. Mereka hidup berfoya-foya dan hanya memikirkan diri sendiri. Bangsa tidak lagi kompak, melainkan cenderung terkotak-kotak. Kelompok ini tidak suka terhadap kelompok itu, dan hajat hidup orang banyak terabaikan oleh percekcokan antarkelompok. 

Gerakan antikorupsi

Saya tidak khawatir. Ketika korupsi merajalela, semangat kolektif buat memeranginya tumbuh pula. Dalam bahasa jurnalistik dasawarsa 1950-an, semangat itu antara lain digambarkan sebagai "anti-corruptie beweging" alias "gerakan antikorupsi".

Di Jakarta, tidak kurang dari tokoh sekaliber Mr. Mohammad Yamin yang tergabung ke dalam Gerakan Anti Korupsi. Di Bandung, pada 1953, terbentuk Perkumpulan Anti Korupsi. Di Palembang, juga di kota-kota lainnya, gerakan sejenis timbul.

"Di satu pihak, terjadi peningkatan yang pesat dalam korupsi besar-besaran yang disimbolkan oleh keberadaan bungalow dan dikecam secara pedas dalam berbagai cerita pendek Achdiat K. Mihardja dan dalam film Usmar Ismail yang sangat terkenal, 'Krisis'. Di pihak lain, korupsi kecil-kecilan telah berlaku umum dan dianggap lumrah," tulis Herbert Feith seputar situasi politik di Indonesia pada permulaan dasawarsa 1950-an. 

Ada hal yang membuat diri saya takjub bukan main. Apa yang diuraikan oleh Herbert Feith seputar situasi politik di Indonesia dulu terasa masih aktual buat situasi politik di Indonesia hari ini. Slogan dalam poster dan iklan film "Korupsi" karya Rd. Ariffien terasa masih relevan dengan kegeraman banyak orang hari ini. ***