Geotrek di Ci Kapundung

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

TERIAKAN dan tawa pelajar yang sedang berkunjung ke Curug Dago di utara Kota Bandung, mengalahkan gemuruh airterjun. Pada akhir pekan, banyak sekali yang datang ke sini, namun, setelah foto-foto dengan berbagai gayanya, lalu mereka pulang. Foto-fotonya dengan latar air terjun langsung beterbangan di angkasa raya dunia maya. Memperkenalkan lokasi yang sudah dikunjunginya, kini dapat dengan mudah disebar-luaskan melalui jejaring media sosial. Sungguh luar biasa kedahsyatan penyebaran informasi melalui jejaring sosial ini. Tayangan foto-foto dengan sedikit teks, telah menggugah kesadaran sahabat-sahabatnya untuk berkunjung ke tampat yang sama, atau berkungjung ke tempat-tempat lainnya, lalu sesegera mungkin diunggah ke media sosial.

Semangat belajar para siswa di luar dinding sekolah, apakah sudah difasilitasi di dalam cara pembelajaran di sekolahnya? Bukankah salah satu prinsip belajar mengajar itu, “salami dunia siswa, agar dapat membawa dunia siswa ke dunia guru?” Kongkretnya, pernahkah orang dewasa, guru, misalnya, mengomentari foto-foto siswa yang berlatar Curug Dago, atau gejala kebumian lainnya dengan informasi yang memberikan pengertian bagi siapa saja yang membacanya? 

Bila komentarnya mengandung informasi yang dapat dipahami siswa, akan terjadi pemaknaan suatu tempat, hal ini akan menambah pengetian yang menambah rasa takjub. Sangat mungkin nantinya, bila para siswa itu akan pergi ke suatu tempat, mereka akan bertanya terlebih dahulu kepada gurunya, ada gejala kebumian apa di lokasi yang akan dikunjunginya, sehingga kunjungannya itu untuk melihat apa yang sudah diterangkan atau melihat gejala lain yang terlihat kemudian. 

Belajar Gunungapi

Bila akan belajar tentang gunungapi, pada umumnya orang datang ke gunungnya, lalu mendaki untuk mendekati kawahnya. Namun, sesungguhnya belajar gunungapi dapat juga dilakukan di tempat yang berjauhan dengan gunungapinya, di lembah-lembah yang dialiri lava, misalnya, atau di tempat diendapkannya breksi, lahar, lava, atau tempat tertimbunnya material jatuhan lainnya.

Para pelajar dan mahasiswa di Kota Bandung, misalnya, dapat belajar tentang gunungapi di aliran Ci Kapundung. Di Curug Dago, misalnya, tempatnya mudah dijangkau, di sana dapat belajar tentang lava, batuan cair pijar dengan suhu lebih dari 1000 derajat C yang keluar dari gunungapi saat terjadi letusan. 

Di Curug Dago terdapat aliran lava yang wujudnya seperti kue bikaambon warna hitam yang banyak lubangnya. Ini terbentuk karena gas dalam lava itu meletup-letup lepas saat meleleh. Bukan hanya tentang wujud lava, kita pun dapat belajar tentang lama leleran lava dari sumbernya di Gunung Tangkubanparahu. Dengan menghitung jarak antara Gunung Tangkubanparahu hingga Curug Dago, kemiringan lereng, kekentalan lava, dapatlah dihitung berapa pergerakan leleran lava itu sampai di Curug Dago.

Di aliran Ci Kapundung pun kita dapat belajar tentang breksi, batuan sedimen yang mirip konglomerat, kumpulan batuan yang bersatupadu menjadi batu yang utuh. Kalau konglomerat itu batuan-batuan yang dipersatukannya bentuknya cenderung membulat, sedangkan breksi terdiri dari pecahan-pecahan batuan dengan sudut tajam, mirip batu beton dengan berbagai ukuran.

Agak ke hilir dari Curug Dago, terutama di Leuwi Beurit, di sana dapat belajar tentang lahar yang sudah membatu dengan baik. Lahar, baik lahar letusan ataupun lahar hujan, sama-sama menyimpan potensi bencana bagi manusia. Lahar hujan, adonan yang berasal dari material letusan gunungapi yang ada lereng, lalu tercampur air hujan, akan menjadi lumpur pekat yang mampu mengangkat batu-batu besar dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Lahar letusan terjadi pada saat letusan, utamanya di gunung yang mempunyai danau kawah, seperti Gunung Galunggung di Tasikmalaya.

Di pinggir aliran Ci Kapundung, kita dapat juga belajar tentang ignimbrit, bahan vulkanis yang dihamburkan saat letusan gunungapi, lalu mengendap. Batuan ini dapat dilihat dengan baik di Goa Belanda dan Goa Jepang. Dinding yang diterobos itu adalah material jatuhan dari letusan Gunung Sunda.

Gunung Sunda itu dasar gunungnya selebar +20 km dengan ketinggian lebih dari 4.000 m.dpl. Pada masa prasejarah, gunung ini meletus dengan jenis letusan plinian, letusan yang banyak mengeluarkan gas gunungapi. Tetusan tipe ini menyebabkan material gunungapinya disemburkan ke berbagai wilayah di kawasan seluas 200 km2.

Karena begitu banyaknya material dari dalam bumi yang dikeluarkan itulah maka terjadi kekosongan dalam dapur gunungapinya. Inilah salah satu yang mengakibatkan ambruknya sebagian besar dari tubuh Gunung Sunda hingga membentuk kawah yang sangat luas yang disebut kaldera Gunung Sunda. Dari kaldera ini kemudian lahir Gunung Tangkubanparahu, yang kemudian meletus beberapa periode. 

Mochamad Nugraha Kartadinita menyimpulkan, bahwa ada gunungapi yang lebih besar lagi sebelum adanya Gunung Sunda. Gunung Sunda lahir dari kaldera Pra-Gunung Sunda atau saya menamainya Gunung Jayagiri yang meletus antara 560.000-500.000 tahun yang lalu. 300.000 tahun kemudian, dari kalderanya itu lahir Gunung Sunda. Kaldera Gunung Sunda berukuran 6,5 x 7,5 km, yang meletus antara 210.000 – 105.000 tahun yang lalu. Dari kaldera Gunung Sunda inilah lahir Gunung Tangkubanparahu yang terus membangun diri hingga kini. 

Cagar Bumi

Sisa-sisa kedahsyatan letusan Gunung Sunda, Gunung Tangkubanparahu merupakan keragaman bumi yang sangat baik bila dijadikan museum atau laboratorium lapangan untuk pembelajaran bagi warga kota. Di sana dapat belajar tentang kegunungapian, seperti tentang: lava, lahar, ignimbrit, kecepatan lelehan lava, kekuataan letusan, sumbermata air panas. Di sana juga bisa belajar geohidrologi dan geomorfologi sungai.

Rahmat Fajar Lubis (2000), dapat memberikan pengertian yang baik tentang relasi air tanah dengan sungai di Ci Kapundung. Misalnya antara Curug Dago hingga Banceuy, air tanahnya ke luar merembes dari badan tanah ke sungai. Itulah yang telah menyebabkan begitu banyaknya mataair sepanjang aliran itu.

Di sekitar Curug Dago, kita dapat belajar tentang pergerakan batuan dalam air. Bagaimana batu sekepal bergerak di dalam air sungai, demikian juga yang batu seukuran kemiri atau yang seukuran pasir. Mengapa ada batu yang bersudut dan mengapa ada batu yang membulat, contonya berserakan di pinggir sungai, dapat dijelaskan bagaimana hal itu terbentuk. 

Mari belajar ilmu kebumian di sekitar kita!***