Mursyid Kopi dari Garut

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

MANG Maher, sahabat saya dari Garut, punya cita-cita mulia. Dia ingin hirup réa banda, paéh moksa (hidup banyak harta, mati moksa). Begitulah, katanya, ajaran “tareqat happy”.

Sebagai sahabatnya, tentu, saya mengamininya. Saya bilang, sebelum kedua cita-cita luhur itu terlaksana, ada satu hal yang terbilang fardu, yakni minum kopi.  

Hayu, kita cari kopi Ebod,” ujar pria yang suka mengenakan jas hitam dan ikat kepala khas Banten itu.

Diajaknya saya ke sebuah kompleks perumahan yang tak jauh dari pusat kota Garut. Kami bertamu menjelang magrib. Sebuah jip kecil bercat kuning terparkir di garasi.

Tuan rumah, Mang Ebod, sedang makan nasi sambil duduk bersila, ditemani nyonya rumah. Kang Rofiq Azhar dari Musadaddiyah, yang sudah hadir lebih dulu di situ, turut menemaninya sambil bersandar ke dinding.   

Memang ada dua maksud utama keluyuran saya petang itu. Pertama, mau minum kopi. Kedua, mau tolabul ilmu kepada mursyid kopi. Mang Ebod, sudah pasti, adalah orang yang tepat. Darinya, saya tidak hanya mendapatkan suguhan kopi yang enak, melainkan juga mendapatkan pengetahuan mendetail seputar kopi.

Ebod adalah panggilan akrab buat Agus Setiawan. Sosoknya ramping dengan rambut panjang yang cenderung ikal serta kumis tebal. Ia anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya turunan Yogyakarta dan Padang, sedangkan ibunya berasal dari Pameungpeuk, Garut. Ia besar di Bandung, dan berpaling ke Garut pada 1996.

Semasa kuliah di jurusan pertanahan di Universitas Padjadjaran, ia tergolong aktivis. Sempat ia mencoba budidaya karet, tapi kemudian ia menemukan jalannya sendiri dalam budidaya kopi.
Begitu selesai makan, Mang Ebod menjerang air dalam teko kecil dengan kompor gas. Sambil menanti air mendidih, ia menuangkan biji-biji kopi hasil roasting ke dalam mesin penggiling kecil yang dihidupkan dengan listrik.

Bubuk kopi dituangkan lagi ke dalam penggiling. Setelah dua-tiga kali digiling, barulah bubuk yang wangi itu dituangkan ke dalam beberapa gelas. Ada aroma nangka dari bubuk kopi itu.

Air mendidih, kira-kira 80-an derajat Celcius, dikucurkan ke dalam tiap-tiap gelas. Kucurannya perlahan-lahan dengan gerak melingkar. Gelas tidak langsung penuh, melainkan sekadar dikucuri air buat melikatkan kopi.

Setelah dibiarkan beberapa detik, barulah bagian terbesar gelas dikucuri air lagi. Larutan kopi pada gilirannya mengendap sendiri. Kami seruput, enak sekali.

Petang itu saya melihat tradisi kopi tubruk dipelihara oleh tangan piawai. Sambil mempraktekkan keahliannya, Mang Ebod menerangkan banyak hal seputar budidaya, pengolahan, pengemasan, tata niaga, dan penyajian kopi.

Saya manggut-manggut sambil mencatat dan menggambar seperti seorang santri yang menyimak pengajaran dari seorang kiai.

Soal mengolah kopi, dia memang ahlinya. Saya terbengong-bengong sewaktu, misalnya saja, dia menerangkan rincian prosedur membuat cold brew, dan bermacam-macam sajian lainnya.

Pantaslah pada 2016 orang menjulukinya “seniman kopi”. Sering ia mengadakan presentasi kopi di berbagai kota, tak terkecuali di Bandung. Tahun ini kopi pula yang ia presentasikan di Laos.

“Saya berupaya menyediakan kopi sehat. Kopinya ditanam sendiri, di kebun sendiri, dan diolah sendiri. Specialty,” ujar Mang Ebod.

Repetisi kata “sendiri” menggugah pikiran saya. Sekali pernah saya membuka-buka buku jadul, De Landbouw in De Indische Archipel (1949) suntingan C.J.J. Van Hall dan C. Van de Koppel Jilid IIb.

Di situ ada dua artikel panjang tentang sejarah budidaya kopi di Hindia Belanda, masing-masing dari A.J. Ultée dan B.H. Paerels. Terbayang jadinya betapa pentingnya kopi sebagai bagian dari sejarah petualangan Eropa di Nusantara.

Amsterdam mula-mula terpikat oleh “kalwa” yang dinikmati bangsa Arab. “Mokka koffie” jadi barang dagangan. Kumpeni membuka jalan bagi budidaya (cultuur) kopi di Tanah Jawa dan pulau-pulau lainnya. “Java-koffie” pernah beken di pasar dunia.

Tidak kurang dari tiga abad, kopi melekat pada mereka yang datang ke Hindia dengan kapal uap dan mengendalikan monopoli dalam bisnis hasil bumi. Ringkasnya, buat orang Indonesia dahulu kala, kopi bukanlah milik sendiri.

Alhamdulillah, petang itu, di rumah Mang Ebod, saya lagi-lagi merasakan bahwa hari ini kopi dapat menjadi bagian penting dari kreativitas kolektif buat mengolah tenaga sendiri, buat merawat kedaulatan atas tanah sendiri. Mang Ebod sendiri, sejak lebih kurang tiga tahunan yang lalu, sedang bekerja keras menjadikan kopi Garut, khususnya “Kopi Ebod”, sebagai produk unggulan tersendiri di tengah jagat perkopian kini.

Bersama keluarga dan handai taulan, serta para petani setempat, secara swadaya, Mang Ebod membudidayakan kopi di Margamulya, Papandayan, Dayeuhmanggung, Sukawening, Cisurupan, dan Cibeureum.

Biji kopinya berwarna kuning. Jenis kopi andalannya Arabica, yang ditanam dalam ketinggian tak kurang dari 1.200 meter di atas permukaan laut.

Tentu, masih banyak pekerjaan rumah yang tak kurang pentingnya, terutama dalam kaitannya dengan kreativitas mewujudkan budaya—bukan sekadar budidaya—kopi.

Edukasi seputar kopi, termasuk aspek literasinya, juga merupakan tantangan tersendiri. Setidaknya, bagi penghayat “tareqat happy” seperti Mang Maher, juga bagi saya sendiri, agenda seperti itu membuka jalan tersendiri bagi majelis kopi di hari-hari mendatang.

Okay, Mang Brow. Jangan moksa dulu. Masih banyak pekerjaan rumah,” ujar saya kepada Mang Maher seraya pergi meninggalkan Garut menjelang tengah malam.***