Pahlawan Milenial

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

DI tengah gempita peringatan hari pahlawan 10 November kita dibuat sibuk menoleh ke belakang. Kita hanya fasih menyebut nama-nama pahlawan, namun kesulitan menunjukan sosoknya, karena mereka yang kita sebut sebagai pahlawan umumnya sudah berada di alam kubur. Sedih memang.

Namun saat saya akan ke kelas, saya temukan sebuah embrio  spirit kepahlawanan. Atau bahkan mungkin jenis kepahlawanan paling genuine, sebuah corak  pahlawan milenial, yang sering dirisaukan sebagai atribut yang hilang dari generasi “zaman now”.

Benih kepahlawanan itu adalah kreativitas mahasiswa yang tidak ada habisnya. Keinginan mereka adalah sumber pilihan jalan tak berbilang. Bila usaha yang satu gagal, mereka mencari cara lain. Kegiatan mereka tak kan bisa dihentikan oleh ketiadaan dana.  Mereka takan menyerah karena keterbatasan, sebab seperti takut, kadang keterbatasan hanyalah ilusi belaka.

Menyiasati sulitnya mencari sponsor kegiatan, sebagian mahasiswa menghimpun kekuatan sendiri. Beberapa mahasiswa membawa kue ke kampus. Kue-kue di dalam tupperware besar itu ditaruh di lantai dekat pintu masuk ruang kelas. Tidak ditunggui. Di sebelah kue yang dijual, ditulis harga kue, dan plastik untuk menaruh uang.

Keuntungannya tidak besar. Selain karena jumlah kue yang dijual tidak banyak, juga karena mereka  mengambil “bati” (keuntungan) tidak besar. Keuntungan inilah yang menjadi danus (dana usaha), untuk membiayai kegiatan kemahasiswaan.

Memang ada mahasiswa yang berjualan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Mereka biasanya menjual dagangannya lebih murah. Kue yang sama, bisa mereka jual 50 rupiah lebih murah dibanding jajanan untuk danus. Berapa pun keuntungan yang mereka dapat, digunakan untuk dirinya sendiri.

Berbeda dengan agen danus, berapa pun keuntungan yang mereka dapat, mereka serahkan kepada kas kelas atau himpunan, untuk mendanai kegiatan.

Mahasiswa yang berjualan untuk danus harus pinter-pinter 'melobby' teman-temannya, agar mau membeli kue dengan harga yang lebih mahal. Idealisme menjadi senjata untuk meluluhkan hati dan membangun kesadaran bersama.

Selain menghadapi kompetitor para penjual kue, mereka yang berjualan untuk danus harus siap menghadapi hama yang mungkin datang. Hama dimaksud adalah mereka yang mengambil kue namun tidak membayar.

Seorang mahasiswa agen danus pernah mengaku, bukan hanya kue yang diambil, uang hasil penjualan yang disimpan bersama kue pun dicurinya. Namun ia dan teman-temannya tidak jera. Sebaliknya mereka tambah semangat. Mereka ingin tunjukan, keyakinan tentang cara mengumpulkan dana untuk kegiatan mereka tidak bisa dikalahkan perilaku culas murahan.

Alih-alih jera, beberapa agen danus mengaku ingin meluaskan praktiknya. Bila keinginan itu terwujud, mereka ingin menaruh tupperware di gedung DPR Senayan, atau gedung pemerintah.

Saya tidak ragu menyebut spirit yang ditunjukan para agen danus adalah embrio kepahlawanan generasi milenial karena dua alasan. Kesatu, aktivitas mereka menghimpun dana tidak didorong oleh motif mencari keuntungan pribadi, melainkan hanya untuk menutupi kebutuhan organisasi. Mereka tidak mengejar laba yang besar, namun sekedar menyelamatkan program kerja organisasinya.

Di tengah sulitnya mencari perusahaan yang mau menjadi sponsor kegiatan, mereka tidak berlutut. Mereka percaya, kekuatan sendiri takkan bisa dikalahkan kekuatan besar yang disewa.

Kedua, apa yang mereka lakukan tak ubahnya kisah David melawan Goliath. David yang kecil namun berjiwa besar bisa mengalahkan Goliath yang kuat dan berkuasa. Mereka telah menunjukan kekuatan karakter bisa mengalahkan kekuatan fisik.

Di kampus bukan hanya agen danus yang beroperasi. Selain mereka yang berjualan untuk kepentingan sendiri, ada kantin yang menjual barang lebih lengkap, di-back up pemodal atau pemegang otoritas kampus, sehingga bisa memasok barang layaknya toko serba ada.

Namun keuletan mereka telah membuka celah. Inilah nucleus kepahlawanan milenial, yakin atas kekuatan sendiri dan tidak bertekuk lutut pada keterbatasan.

Ketiga, tidak seperti kantin yang memiliki petugas kasir, para agen danus bekerja di atas landasan kejujuran. Pembeli mengambil kue dan menaruh uangnya sendiri. Jadi, lebih dari sekedar mengumpulkan dana untuk kegiatan, agen danus adalah pendakwah kejujuran. Tak heran bila kemudian mereka menginginkan meluaskan praktiknya ke Senayan atau gedung pemerintah.

Sama seperti jarum jam yang tidak bisa diulang, tindakan kepahlawanan pun tidak bisa direproduksi sama persis. Kini medan tempur sudah bersalin wujud, senjata pun sudah bersalin rupa. Satu-satunya yang tidak berubah adalah tekad untuk tidak menyerah pada keadaan, yakin pada kekuatan sendiri, dan pantang menyerah. Tekad seperti ini tidak tumbuh seperti jamur, namun dalam setiap saat akan tetap ada yang menyemainya.

Jiwa kepahlawanan bukan hanya ada pada mereka yang suka mengobral kata harga mati, atau milik ekslusif mereka yang lantang berucap demi bangsa dan negara, atau mereka yang fasih mengucap ulang ungkapan para pejuang. Jiwa pahlawan terpelihara dalam tindakan tanpa pamrih dalam mewujudkan mimpi jadi kenyataan, dan tidak berharap pujian untuk sebuah tindakan yang seharusnya dilakukan.

Pada generasi milenial masih kita temukan embrio nilai dan  jiwa  kepahlawanan meski dengan bentuk dan kadar yang berbeda. Menjadi tugas kita mendorong perkembangannya, sekaligus mencegahnya layu sebelum berkembang, lewat teladan dan tindakan nyata.***