Palembang 3 Tahun Lalu

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

BAGI mereka yang aktif ber-medsos ria, pekan lalu tentu terasa sangat sentimental karena cukup banyak akun yang membahas nostalgia terkait momentum juara 3 tahun lalu, lengkap dengan berbagai foto dan video.

Hal yang sangat wajar kiranya karena prestasi Persib musim ini sungguh paradoks dengan euforia tahun 2014.

Sudah menjadi kecenderungan manusia untuk mencari pelipur lara dan melupakan hal buruk dengan mengingat hal indah di masa lalu. Berbicara tentang kejayaan silam tak selalu buruk karena selalu ada hikmah ketika kita meninjau masa lalu untuk menatap masa depan.

APAKAH Persib bisa mengulang kejayaan seperti saat merebut Piala Presiden?

Tulisan ini bicara jujur bahwa kita memang akan melarikan diri dari kenyataan musim ini. Mari kita menembus lorong waktu, merasakan kembali betapa pekatnya nuansa biru 3 tahun lalu, hegemoni sepak bola priangan yang ditancapkan di bumi Sriwijaya dan menyebar ke seantero negeri.

The final

Hari itu, 7 November 2014, suasana bandara Soekarno-Hatta lain dari biasanya. Di setiap terminal keberangkatan, mudah ditemukan orang-orang berbaju biru. Banyak di antaranya mengenakan syal khas suporter sepak bola.

Mereka adalah bobotoh Persib yang akan berangkat menggunakan berbagai maskapai penerbangan. Tujuannya hanya satu, Palembang, kota tempat dilangsungkan laga final ISL 2014 antara Persib Bandung dan Persipura Jayapura.

Suasana membiru di Bandara Soekarno-Hatta berlangsung dari pagi hingga sore hari dan kabarnya nuansa serupa terjadi di bandara Halim Perdana Kusumah dan Husein Sastranegara. Seluruh penerbangan menuju Palembang hari itu terisi penuh.

Beberapa bobotoh yang keukeuh dan kehabisan tiket pesawat memilih cara yang agak gila, yaitu memilih terbang ke Jambi untuk melanjutkan perjalanan menggunakan mobil travel ke Palembang selama hampir setengah hari atau menuju kota lain yang masih memiliki kursi penerbangan kosong ke Palembang.

Saat itu, saya mendengar Yogyakarta dan Semarang menjadi pilihan para bobotoh untuk bertolak ke Palembang. Kegilaan menjelang final sejatinya dimulai usai Persib sukses menaklukkan Arema di laga semifinal tiga hari sebelumnya.

Pendaftaran tur Palembang menggunakan bus begitu diminati dan menghasilkan rombongan hingga berpuluh bus. Bobotoh melakukan segala upaya untuk dapat menyaksikan tim idolanya di laga final.

Aksi jual barang kesayangan melalui gerakan #modalfinal sukses mencuri perhatian warganet negeri ini. Selama tiga hari, lini masa dunia maya dipenuhi cerita tentang persiapan-persiapan menuju partai puncak di Palembang.

Sementara itu, beberapa teman ada yang menyesali nasib karena menyaksikan laga semifinal namun batal menonton final karena banyak juga yang telah terlanjur menghabiskan segalanya saat menonton laga semifinal.

Asal tahu saja, saat itu “kondisi kebatinan” sepak bola nasional memang menganggap Arema yang akan lolos karena “bantuan-bantuan” yang tampak sejak babak penyisihan. Publik menganggap ada kekuatan yang akan melanggengkan Arema menuju podium juara sehingga banyak bobotoh yang mengangap partai melawan Arema adalah final sesungguhnya bagi Persib.

Mereka takut menyesal jika tak mendampingi tim kesayangan hingga partai terakhir (yang mereka anggap bisa jadi langkah Persib hanya hingga semifinal) musim itu.

Tiada yang meragukan keinginan mereka untuk mendukung Persib di babak final namun agenda kepulangan tetap harus dilakoni. Menunggu hingga tanggal 7 November akan sangat menguras dompet. Beberapa ada yang kembali namun tak sedikit yang harus rela menyaksikan laga final justru dari layar televisi.

Sementara itu, banyak bobotoh jungkir-balik mengondisikan diri untuk dapat menyaksikan laga final. Mereka yang memiliki akses dan kuasa tampaknya tak terlalu kesulitan. Seperti jajaran pejabat Kota Bandung yang mencarter pesawat Hercules untuk berangkat ke Palembang, termasuk tentunya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Bobotoh tea atuh

Banyak cerita tentang kehadiran bobotoh sejak laga semifinal hingga usai final di Palembang. Mulai okupansi hotel yang meningkat dan begitu sulit mencari penginapan di Palembang saat hari H final, hingga kewalahannya rumah makan dan warung sekitar memenuhi kebutuhan makan suporter Bandung.

Akan tetapi, apakah warga Palembang senang? Saya pastikan jawabannya adalah ya karena kehadiran suporter Persib yang begitu banyak jumlahnya selama beberapa hari di Palembang telah memberi dampak positif khususnya terkait ekonomi.

Tak sekadar penginapan, transportasi, dan kuliner, permintaan akan oleh-oleh khas Palembang pun meningkat pesat. Terlebih, euforia juara membuat para bobotoh begitu bergairah untuk belanja.

Hal yang bisa jadi di luar dugaaan otoritas setempat yang membayangkan invasi pendukung sepak bola identik dengan gangguan ketertiban, meresahkan warga, koordinasi ekstra dengan pemda asal suporter untuk menyediakan penginapan, makan, dan hal merepotkan lainnya.

Saya bisa mengatakan bahwa hanya bobotoh yang bisa menjadi pembeda terkait invasi suporter. Tentunya kita masih bisa mendengar cerita bahwa ada masanya ketika jalur Puncak hingga Padalarang macet total oleh bobotoh yang berpesta merayakan Persib juara di era perserikatan dulu.

Begitulah seharusnya bobotoh. Jangan sampai kehadirannya dianggap sebagai ancaman dan momok. Perilaku someah, santun, dan adab yang bersahabat harus tetap melekat walau secara ekspresi dan kultur bobotoh akan terus berubah dari waktu ke waktu. 

Tragedi di Jakarta

Peristiwa diserangnya rombongan bobotoh saat melewati Jakarta adalah tumbal terbesar dari pesta juara Persib. Pengorbanan sekaligus ujian terberat. Itulah yang dirasakan saat bus-pus dengan kaca pecah tiba di Gasibu. Korban-korban masih perlu perawatan lebih lanjut dari mulai kepala yang bocor hingga patah tulang. Seharusnya tak perlu sebesar itu harga yang dibayar untuk menonton sepak bola. Bahkan laga final terbesar sekalipun.

Akan tetapi, selalu ada hikmah dalam setiap kejadian bahwa bobotoh memerlukan figur yang disegani untuk dapat menyinergiskan energi besar yang tulus untuk Persib. Tak habis pikir rasanya rombongan besar dari Palembang bisa benar-benar tak berdaya dan menjadi bulan-bulanan sekelompok oknum.

Gilanya lagi, hingga detik ini, tak ada upaya serius dan langkah nyata menyikapi tragedi 3 tahun lalu. Bisa jadi, euforia juara mengalahkan semua duka karena tujuan dan puncak bahagia telah tercapai, Persib juara Indonesia.

Selain klubnya, para pendukung setia pun layak disebut sebagai juara dengan apa yang telah mereka tempuh. Semoga loyalitas dan energi besar itu tak dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan di luar konteks ke-Persib-an. ***