Penambangan Emas di Bunikasih

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

ELANG hitam terbang berputar-putar di atas tajuk pohon. Di pagi yang berselimut kabut tipis, elang hitam terlihat sangat besar. Badannya dimiringkan dengan sayap yang terentang panjang, kemudian menukik, suaranya terdengar nyaring memecah kesunyian, keliiik… keliiik… keliiik… 

Ia lalu menghilang di antara lipatan perbukitan yang hijau kebiruan. Atraksi pagi hari yang indah. Elang yang gagah berwarna dominan hitam itu seolah menyambut kehadiran kami di lembah Cibaliung, di perbatasan antara Kabupaten Bandung, Garut, dan Cianjur.

Setelah menuruni Perkebunan Teh Kebontilu, terdapat hutan dengan kayu rasamala. Walau tak terlihat, namun suara patik (kapak besar dengan gagang panjang) yang menghantam pohon dengan suara yang teratur, pastilah di hutan itu ada orang yang sedang menebang pohon. Jalan setapak itu semakin menurun licin, di kiri kanan terlihat singkapan bebatuan putih kekuningan. Di dindingnya terlihat kaolin, tanah liat yang halus.

Pecahan kuarsa yang putih, bercampur dengan bebatuan lainnya yang kekuningan, menjadi dasar jalan setapak berair yang kami turuni. Adanya urat kuarsa bisa dijadikan penanda batuan itu mengandung emas.

Di dalam bumi Bandung selatan, selain terdapat patahan-patahan yang memanjang, juga banyak gunung api purba, sehingga di dalamnya terjadi proses hidrothermal. Kandungan air yang panas dan asam itu melarutkan batuan andesit yang keras yang dihasilkan dari magma yang menerobos mendekati permukaan bumi.

Dalam larutan itu terjadi pengayaan mineral-meneral tertentu, seperti emas, lalu mengisi celah-celah patahan yang terdapat dalam perut bumi. Celah-celah yang diisi kuarsa dan emas inilah yang oleh para penambang disebut urat emas. Urat-urat inilah yang terus ditelusuri dan digali para pencari emas sampai dia mampu menggalinya. 

Emas dan perjalanan waktu

Adanya emas dalam urat kuarsa ini sudah sejak lama diperkirakan. Herodotus, 425 SM menceritakan akan adanya emas dalam urat-urat kuarsa di Distrik Krissites di Yunani. Penggunaan mineral sudah dikenal sejak zaman paleolitik, seperti terlihat dalam penggunaan kuarsa, kalsedon, serpentin, obsidian, pirit, jasper, jadeit kalsit, ametist, dll. dalam kehidupan masyarakatnya.

Sebut saja penggunaan obsidian untuk perkakas. Sedangkan emas dan tembaga baru dikenal pada zaman neolitik. Pada zaman ini dikenal juga batuan nefrit, sillimanit, dan turquois.

Di lembah curam, sempit, dan basah, para penambang emas setiap harinya terus menggali urat-urat kuarsa. Mereka datang dari berbagai daerah, dari Bunikasih, Kabupaten Bandung, yang paling dekat, kemudian dari Kabupaten Garut, dan yang paling jauh dari Rangkasbitung, Banten.

Berada di lembah Cibaliung, serasa bukan berada di Bandung yang penuh kerumitan. Paku tiang yang oleh penduduk disebut bagedor, menjulang seperti payung. Pohon-pohon asli dengan epifit yang menempel di dahannya menambah keasrian hutan hujan tropis yang tersisa.

Gemuruh air sungai yang bertangga-tangga mampu meredam berbagai suara, menimbulkan irama keheningan alam yang dingin dan syahdu. Gemuruh air terjun setinggi 50 meter semakin mempertegas keasrian alam dan semakin menambah basahnya lembah ini. 

Kehidupan penambang

Sejak pagi, para penambang (disebut sebagai penambang liar) sudah memahat batuan kuarsa yang keras, lalu memasukkannya dalam karung. Penggalian urat kuarsa ini kadang harus menerobos terowongan yang disangga dengan kayu-kayu gelondongan.

Lorong sempit seukuran badan saat jongkok, memanjang atau menurun secara vertikal. Karung-karung berisi pecahan batu yang basah berlumpur dan tajam-tajam yang diperkirakan mengandung emas itu dipikulnya ke saung.

Di sana batuan ditumbuk hingga berukuran biji kacang. Butiran-butiran itu dimasukkan ke dalam gulundung, besi berbentuk selinder sebesar galon air meneral, lalu diputar dengan bantuan tenaga air selama 12 jam hingga halus.

Bila pagi hari tumbukan batuan itu dimasukkan gulundung, sore harinya dibuka. sebaliknya, kalau sore dimasukkan, pagi harinya dibuka, lalu diproses dengan bantuan air raksa, hingga emasnya terkumpul. Hasil jerih payah seharian itu menghasilkan emas antara 0,2-0,5 gram.

Keberadaan Pendi dan Kasdim yang belum berkeluarga ini tidak diketahui orangtuanya. Orangtuanya hanya tahu mereka berdua berada di penambangan emas Pongkor di Bogor. Karena di sana perebutan bahan bakunya terlalu berat dengan situasi yang terlalu ramai, akhirnya tempat itu mereka tinggalkan.

Secara kebetulan, Engkus warga Garut yang juga pernah sama-sama mengadu nasib di Pongkor mengajaknya ke Cibaliung. Di lembah yang basah itulah kini mereka membuat saung untuk tinggal berbulan-bulan. 

Kabut tebal menutupi seluruh hamparan kebun teh, lalu selimut putih itu tersibak oleh kencangannya angin yang meniup membawa terbang ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Anak-anak yang bermain bola di lapangan seukuran lapangan basket itu menjadi tak terlihat, sehingga arah tendangannya menjadi tak jelas lagi.

Aroma pupuk kandang yang menyengat sudah terasa begitu sampai di Bunikasih. Di sini, setiap minggunya, para penambang menimbang hasil galiannya. Bandar emas sudah siap membeli butiran-butiran logam paling dicari di dunia. 

Setelah dipotong biaya hidup selama seminggu, “Ya, lumayan, dari pada diam di rumah”, kata penambang tertua sambil mengangkat karung-karung berisi batuan keras dan tajam.

Ia baru saja mengangkatnya dari lorong-lorong penggalian. Akibat penambangan emas ini ada dua akibat yang dinilai paling besar, yaitu merkuri yang dibuang ke sungai, yang di hilirnya dimanfaatkan oleh masyarakat.

Air terjun terus bergemuruh. Angin dan kabut berarak. Elang hitam melayang-layang. Para penambang juga terus menggali. Semuanya itu adalah cermin bahwa kehidupan harus dilakoni, bukan untuk disesali. Dalam gerak itulah tersembunyi keindahan hidup yang mengalir.***