Saya Ini Kuring

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

DALAM pertemuan resmi, penutur bahasa Sunda lazim menyebut dirinya “simkuring”. Ada kalanya penutur bahasa Sunda mengisi forum resmi dengan kata ganti orang pertama “abdi”. Tidak jarang pula orang memakai kata “pribados” dalam pertemuan sejenis.

Saya sendiri, dalam forum resmi, biasa memakai “simkuring”. Kata ini merupakan kontraksi dari “jisim kuring”. Kata “jisim” kiranya diserap dari bahasa Arab, “jismun”, yang secara harfiah berarti “badan”. Adapun kata “kuring”, yang kiranya pituin Sunda, sering saya dapatkan dalam karangan.   

“Kuring” dan “aing”

Menurut Kamus Danadibrata, kata “kuring” secara harfiah berarti “jelema anu martabatna handap” (orang yang kastanya rendah) alias “cacah” (jelata), atau “batur jenuk balaréa” (orang banyak). Dengan kata lain, dalam struktur sosial jadul, “kuring” adalah lawan kata “ménak” alias bangsawan atau para raden. 

Salah satu kaum yang punya andil mengabadikan kata “kuring” adalah pengusaha restoran. Dalam urusan kuliner, seakan-akan kata itu mengundang asosiasi ke dalam cita rasa Sunda. Di Bandung dan Bogor, misalnya, ada restoran “Saung Kuring”.

Kasus ajaib terdapat di Jakarta. Di ibu kota Republik Indonesia, setahu saya, ada restoran “Raden Kuring”. Apa yang terjadi kiranya bukan menyatunya kaum jelata dan kaum pembesar, melainkan barangkali upaya pengusaha menawarkan masakan Sunda di Jalan Raden Saleh.

Kata “abdi” berasal dari bahasa Arab, abdun, yang secara harfiah berarti “hamba”. Kata ini cenderung saya pakai untuk situasi yang tidak begitu resmi, khususnya ketika menghadapi lawan bicara yang saya hormati. Kalau menghadapi teman akrab sih saya lebih suka memakai “aing”, “uing”, atau “déwék” saja.

Tentu, tidak semua kalangan terkena pengaruh Arab. Tidak sedikit, misalnya saja, bobotoh Persib yang senang sekali memasang slogan “Persib Aing”, bukan “Persib Abdi”. Rasa memiliki terasa menggumpal di situ, sangat besar buat mempengaruhi kebijakan Haji Umuh. 

Adapun kata “pribados” merupakan varian dari kata “pribadi”. Arti harfiahnya kurang lebih sama dengan arti yang terkandung dalam istilah yang sama dalam bahasa Indonesia.

Polemik kata ganti

Pada awal dasawarsa 1920-an, ada silang pendapat di kalangan pemuka masyarakat Sunda perihal kata ganti orang pertama yang layak dipakai dalam pertemuan resmi. Pilih mana: “simkuring”, “abdi”, ataukah “pribados”?

Diskusinya dapat kita ikuti dalam artikel Soeriadiradja, “Koering atawa Pribadi?” dalam surat kabar mingguan Siliwangi edisi 18 November 1922, juga dalam artikel A. Adimihardja, “Djisim Koering, Abdi, sareng Pribados”, dalam surat kabar bulanan Sekar Roekoen edisi Desember 1922. Silang pendapat ini terpaut pada keputusan Kongres Perkumpulan Sekar Roekoen yang memilih kata “pribados”.

Perkumpulan Sekar Roekoen adalah wadah kaum muda Sunda. Menurut sejarawan almarhum Edi S Ekadjati dalam bukunya, Nu Maranggung dina Sajarah Sunda (2006), organisasi ini berdiri di Jakarta pada 26 Oktober 1919, dan perintisnya adalah para siswa Sekolah Guru (Kweekschool).

Organisasi ini ikut serta dalam Kongres Pemuda 1928. Berkala Sekar Roekoen, yang mulai terbit Desember 1921, merupakan media perkumpulan ini.

Sejauh yang dapat saya simak dari kedua tulisan tersebut, kalangan senior seperti Soeriadiradja, seraya menghargai aspirasi kaum muda, rupanya memilih kata “simkuring”.

Kata “pribadi”, bagi mereka, lebih tepat diperlakukan sebagai adjektiva, semisal dalam ungkapan “diri pribadi”. Adapun kaum muda waktu itu rupanya sedang berupaya mencari ungkapan yang pas dengan aspirasi mereka.***