Raheut Manah di Manahan

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

DRAMA laga panas di Stadion Manahan Solo sungguh di luar dugaan. Alih-alih menyajikan pertandingan berkualitas dan pembuktian terbaik, kontroversi yang tersisa dari pertandingan antara Persija dan Persib justru masih berlanjut hingga detik ini. 

Raheut manah (sakit hati) yang dibawa dari Manahan masih terus dibicarakan, tentang aksi brutal Rudi Widodo yang mematahkan tulang fibula Kim Jeffrey Kurniawan, kekeliruan fatal wasit asing yang menganulir gol bersih Eze yang akan terus diingat bobotoh, hingga persoalan serius yang menggelayuti tim Persib yang dinyatakan kalah WO (walk out) dari Persija, yaitu ancaman degradasi.

Walk out

Perdebatan yang terus berlangsung terkait kemenangan WO Persija adalah tentang keputusan WO itu sendiri. Ada yang menganggap wasit memutuskan Persib kalah WO karena memang Persib terindikasi menolak melanjutkan pertandingan serta akumulasi dari sikap tim yang ditafsirkan ke arah mogok bertanding. Namun, versi tandingan yang dilontarkan oleh pihak Persib menyatakan bahwa Persib tak berniat mogok atau menolak melanjutkan pertandingan. Tim hanya menepi ke pinggir lapang untuk berdiskusi dengan ofisial, namun tiba-tiba wasit meniup peluit panjang dan menyatakan Persib kalah WO.

Versi yang mana yang benar tentu tak lagi terlalu penting, karena masing-masing akan meyakini versi sesuai selera untuk memperkuat kebenaran subjektif. Apapun alasan dan tafsir yang berkembang, tetap tak mengubah kenyataan bahwa Persib telah dinyatakan kalah WO ketika pertandingan sudah berjalan. Konsekuensi dan pertimbangannya tentu berbeda dengan kalah WO akibat tidak terlaksananya pertandingan sejak awal.

Jika gagal bertanding bisa karena alasan teknis, akomodasi, force majeure dan sebagainya, maka WO saat pertandingan sudah berjalan akan dianggap WO karena kesengajaan dan kesadaran pihak yang dinyatakan kalah. Fakta ini secara normatif memenuhi rumusan regulasi Liga 1 pasal 13 tentang tim yang menolak melanjutkan pertandingan dan ancaman sanksi adalah terlempar dari Liga 1. Lalu apa nasib Persib memang akan setragis itu?

Ini sepak bola. Ada otonomi, diskresi, kebijakan, hingga lobi politis yang mewarnai. Namun, karena pihak operator sudah telanjur mengancam Persib, maka akan menjadi menarik menunggu otoritas sepak bola negeri ini untuk konsisten menegakkan aturan dan hukum yang telah disepakati, karena apapun hasil keputusannya, akan menimbulkan sisi negatif dan preseden buruk.

Jika Persib lolos dari hukuman yang jelas diatur dan disepakati, maka tentunya publik sepak bola akan mencibir dan semakin skeptis terhadap penegakkan hukum dan objektifitas otoritas sepak bola negeri ini. Namun jika PSSI dan PT LIB konsisten serta mengeluarkan Persib dari kasta tertinggi sepak bola nasional, maka tak perlu kita bahas apa negatif dan buruknya, karena membayangkannya pun kita takkan sanggup.

Wasit asing

Selalu ada hikmah yang dapat diambil walau dalam sebuah tragedi. Drama di Solo Jumat lalu mampu membuka mata kita semua tentang kualitas wasit asing. Bahwa ternyata mengimpor wasit pun bukan sebuah solusi manjur untuk menambal borok kualitas wasit di kompetisi domestik.

Awal penggunaan wasit asing yang sempat membuncahkan asa bisa jadi karena watak sebagian besar masyarakat kita yang "bule minded". Di luar dunia sepak bola kita selalu terpana dan terkesima jika ada orang asing yang bekerja di kantor. Selalu dianggap lebih pintar, lebih paham, dan berkompeten. Padahal tidak selalu begitu.

Tanpa disadari kita semua pasti pernah secara tak sadar otomatis menganggap orang asing asal negara maju itu lebih unggul jika dibandingkan bangsa sendiri. Setidaknya akan ada hormat dan sungkan. Padahal, dengan adanya lisensi dan sertifikasi, maka sepatutnya kita tak lagi berpandangan seperti itu, karena proses dan filosofinya adalah setiap orang akan dianggap berkompeten dan layak dalam suatu bidang tanpa melihat ras, agama, ataupun asal muasalnya.

Sehingga kemampuan orang Indonesia harus dianggap sama dengan semua orang asing asalkan dia memiliki lisensi atau sertifikat yang sama dengan orang asing tersebut untuk suatu bidang tertentu termasuk wasit. Karena persoalannya adalah kewibawaan wasit, mental, serta integritas sang pengadil, sedangkan khilaf dan keputusan keliru adalah hal manusiawi yang bisa dilakukan siapa saja.

Justru kesalahan manusiawi itulah yang sebenarnya membuat sepak bola bisa menjadi lebih menarik. Namun, tentunya segala upaya harus tetap dilakukan untuk meminimalisasi kesalahan tersebut. Terlepas dari keputusan keliru atau kesalahan yang nyata dari seorang wasit, bukan berarti keputusannya lantas dianggap tak perlu dipatuhi, sefatal apapun salahnya.

Keputusan wasit adalah mutlak dan mengikat mereka yang berada di wilayah yurisdiksinya, yaitu lapangan tempat sepak bola dimainkan. Keputusan wasit hanya dapat dianulir oleh dirinya sendiri, itupun seketika setelah keputusan sebelumnya dianggap keliru. Namun, jika pertandingan telah usai maka tak ada alasan untuk membatalkan hasil ataupun keputusan wasit.

Pemahaman terkait yurisdiksi dalam sepak bola akan berkaitan pula dengan sikap dan etika para pelaku sepak bola di negeri ini. Sehingga jika sedari awal seluruh pihak tak menyimpan prasangka dan menghormati wasit, rasanya wasit asli Indonesia dengan lisensi, tetap layak memimpin Liga 1.

Namun, tentu saja tuntutan menghormati wasit ini bukan berarti menutup sektor lain yang rentan merusak dunia perwasitan, karena pembenahan dan peningkatan kualitas harus tetap dilakukan secara berkelanjutan dan terus-menerus.

Nyali  

Hal menarik lain yang melekat dalam episode Jumat lalu adalah pernyataan Ismed Sofyan saat konferensi pers. Ia seakan mengatakan bahwa ketiadaan nyali pemain Persiblah yang membuat Persija bisa menuai 3 poin.

Sangat bisa dimaklumi jika pernyataan Ismed langsung menuai respons negatif dari bobotoh. Caci maki dan sumpah serapah yang ditujukan kepada Ismed menghiasi media sosial. Reaksi yang begitu emosional terlebih bobotoh justru menganggap justru tim kesayangan mereka yang teraniaya dan dirugikan.

Dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya apa yang diucapkan oleh Ismed selaras dengan kegelisahan dan tuntutan banyak bobotoh. Bobotoh selalu menuntut agar pemain bermain dengan hati, totalitas, dan sense of belonging. Beberapa pemain dianggap tak memiliki keterikatan emosional dengan tim, mereka mencari nafkah belaka, sehingga bisa tetap tertawa saat Persib kalah.

Salah satu indikator terkait totalitas bobotoh adalah keberanian dan mental bertarung untuk memberi segalanya di lapangan alias nyali seperti yang disebut oleh Ismed Sofyan. Bisa jadi, Ismed sedang tak bergurau dan mengada-ngada ketika mengatakan itu. Ismed telah terlibat laga panas menghadapi Persib berkali-kali bahkan rutin dua kali menggempur lini pertahanan Persib dua kali setiap tahunnya. Tentu dia bisa membedakan tim Persib generasi mana yang membuat gentar.

Kehadiran sosok pemain yang disegani oleh pemain lawan sangat penting untuk mendongkrak mental dan nyali pemain lain. Terlebih dalam laga dengan tensi tinggi semacam lawan Persija. Lalu apakah Persib memilikinya saat ini?

Daripada menebak-nebak mari saya ceritakan kisah memalukan saat putaran pertama di GBLA. Kita masih ingat betul pemain Persija yang merasa dilindungi oleh keamanan maksimal memang bertingkah kurang ajar, provokasi, dan gestur menantang. Walau tampak menyebalkan bagi kita, namun kekurangajaran seperti itu tentu memerlukan nyali yang tinggi, apalagi dilakukan di hadapan puluhan ribu bobotoh.

Jika ada pemain yang paling kurang ajar malam itu bagi bobotoh tentulah itu adalah Ismed Sofyan. Dia benar-benar mampu membakar emosi seisi stadion. Rupanya Ismed Sofyan tak hanya tengil di lapang, saat di lorong menuju ruang ganti pun dirinya terus berulah, menantang dan meneriaki para pemain Persib.

Lalu, apakah ada pemain Persib yang menanggapi atau membeli tantangan Ismed? Tidak! Pemain hanya menunduk dan berlalu seakan tak terjadi apa-apa. Jika dikaitkan dengan sifat baik dan budi pekerti, mungkin sikap para pemain bisa menuai pujian. Namun, jika ditanya apa mereka takut dengan Ismed Sofyan? Bisa jadi jawabannya iya juga.

Maka bisa dibayangkan betapa leluasa dan ngalunjak-nya Ismed Sofyan sepanjang pertandingan di GBLA, karena dia melakukan tes sendiri dan mengetahui bahwa pemain Persib "menghormati" dirinya sehingga separah apapun konflik dan benturan di lapangan maka ia akan aman-aman saja.

Cerita tentang ini bisa anda tanyakan kepada mereka yang menyaksikan, karena para petugas pun cukup tercengang dengan aksi provokasi maksimal dari Ismed malam itu. Dalam lingkup terbatas, cerita ini sekaligus menjadi obrolan tentang pentingnya sosok pemain senior yang dihormati secara luas, yang bisa menjadi pengayom dan menjamin rasa percaya diri serta mampu membakar semangat pemain-pemain Persib yang secara teknis tentu tak perlu diragukan lagi.

Maka, jelaslah peranan pemain semacam Firman Utina beberapa tahun lalu. Ia mungkin secara fisik telah menurun namun kewibawaannya mampu membuat pemain tim lain berpikir ulang untuk melecehkan Persib.

Dalam konteks yang mirip, ini sekaligus mengingatkan pada cerita masa lalu saat Persib berjaya di era Perserikatan, Persib disegani karena pemain-pemainnya pun "doyan berkelahi". Pemain seperti Ajat Sudrajat misalnya, legeg-nya pun diimbangi dengan aksi dan nyali.

Bahkan, ada cerita tentang pemain yang tak ragu menyelesaikan persoalan dengan pemain tim lain yang belum tuntas di lapangan, misalnya mendatangi hotel tim lawan dan mencari pemain yang bersangkutan.

The power of bobotoh

Sisi lain yang tak mungkin ditepikan begitu saja tentu adalah kembali munculnya "The Power of Bobotoh" seperti apa yang telah didefinisikan dalam tulisan saya terdahulu. Kali ini, bahkan saya yang terkena bully baik di Twitter maupun Instagram.

Persoalannya simpel. Pekan lalu saya menulis tulisan tentang Bambang Pamungkas dan tulisan itu dianggap sangat memihak sang pemain. Sementara Bambang Pamungkas justru menjadi "bobotoh enemy" saat laga Jumat kemarin. Pasalnya, Bepe berada tepat di hadapan bola dan menjadi saksi utama bahwa sebenarnya bola yang disundul oleh Eze memang telah masuk ke gawang. Namun, Bepe dianggap tak fair karena tak mengakuinya.

Terlalu berlebihan tentunya untuk membahas pilihan dan sikap Bambang Pamungkas dalam forum ini. Namun, tentunya tuntutan agar saya merevisi tulisan agar tak menyebut Bepe sebagai legenda dan panutan pun tak kalah lebay.

Karena sesungguhnya seorang yang akan diingat lama memang tak perlu menjelma sebagai sosok suci yang dicintai oleh semua pihak, beberapa pemain bahkan melegenda karena ketidaksempurnaannya. Terlebih apresiasi saya dalam tulisan pekan lalu pun tidak bertentangan dengan apa yang terjadi Jumat lalu.

Saya membahas tentang sikap Bepe terhadap fans rival, tentang keberanian Bepe memperkarakan klub yang dicintainya, perjuangannya untuk hak-hak pesepakbola melalui APPI. Kiprah dan eksistensinya sebagai brand di luar sepak bola yang menghasilkan secara komersial maupun sosial. Semuanya tetap menginspirasi dan tak ternoda dengan penilaian sebagian orang Jumat lalu.

The power of bobotoh pun menimpa komentator kondang Valentino Simanjuntak alias Bung Jebret karena postingannya di Instagram yang dianggap menyinggung bobotoh (postingan tersebut sudah dihapus). Sebenarnya untuk level Valentino, memang tak mungkin juga dia sebodoh itu membuat postingan yang akan berpotensi membuat dirinya menjadi public enemy, sehingga bisa jadi dia menganggap postingannya itu netral tanpa tendensi apapun. Saya yakin, hingga detik ini pun Bung Jebret tak mengerti apa kesalahan yang dia perbuat.

Tapi inilah sepak bola. Emosi suporter selalu membuatnya menarik karena emosi membuat persepsi terkait satu hal menjadi tak sama. Misalnya saja panditfootball.com yang mencoba menjelaskan terkait yurisdiksi wasit dan keputusannya dalam suatu pertandingan. Tentu penjelasan ini sangat aman dan mendidik jika dalam kondisi biasa. Namun, karena bobotoh sedang murka terhadap wasit, maka akun Twitter panditfootball pun ramai-ramai diblok dan dilaporkan sebagai spam. Tentunya setelah dicaci-maki juga karena dianggap memihak wasit.

Terlepas dari itu semua, kita para bobotoh memang harus berdialog dan berdiskusi serta terbiasa menerima perbedaan. Karena persepsi orang yang sama-sama menyukai Persib pun ternyata bisa berlainan dan berbeda frekuensi. Namun, inilah kekayaan dan keistimewaan bobotoh, dengan akses teknologi dan jumlah yang begitu banyak semoga pemikiran-pemikiran terus dikeluarkan tanpa perlu ditahan-tahan.

Suatu saat energi positif ini pastilah berdampak baik untuk klub dan para pendukungnya. Terlebih emosi dan ekspresi walau negatif sekalipun, menunjukkan bahwa selama ada Persib maka akan selalu ada alasan untuk mencintai sepak bola di negeri ini. Jikalau ada, konflik itu semata harga yang harus dibayar untuk keberlangsungan suatu peradaban sepak bola bernama Persib Bandung.***