Harga Partai

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

MENURUT Kamus Besar Bahasa Indonesia, "partai" adalah "kumpulan barang dagangan yang tidak tentu banyaknya". Arti lain yang terkandung dalam istilah itu tak perlu saya kutip di sini sebab minat saya kebetulan terpusat pada urusan yang "tidak tentu".

Sebagai pengunjung tetap pasar loak Astanaanyar dan Taman Cilaki, tentu saya tertarik pula oleh "kumpulan barang dagangan". Pada hemat saya, sifat "tidak tentu" dalam urusan barang dagangan berkaitan bukan hanya dengan jumlah, melainkan juga dengan jenis. Di pasar apapun bisa diperjualbelikan dalam jumlah sembarang.

Pasar tumpah ke jalan raya. Rupa-rupa barang dagangan terkumpul. Tuan ada uang, saya ada barang. Pilih kelir, acak corak

Partai besar dan partai kecil

Kalau Anda memborong kol bulat sebanyak dua truk, transaksi Anda termasuk "partai besar". Kalau saya membeli lima potong kepala ayam buat makanan saya dan kucing kesayangan, kesanggupan saya cuma sebatas "partai kecil".

Baik saya petik sebuah advertensi dari AID de Preangerbode, salah satu koran Belanda di Bandung yang dokumennya dapat diakses melalui internet. Dalam edisi 24 Desember 1953, ada pengumuman yang bunyinya begini: "Ditjari kertas bekas bungkus cement partai besar atau ketjil. Dapat berhubungan dengan Madjalah Gembira."

Seberapa besar kegembiraan sebuah majalah sampai-sampai membutuhkan begitu banyak kertas semen, sungguh di luar kesanggupan saya untuk membayangkannya. Yang jelas, partai di situ berkaitan dengan kuantitas, bukan dengan kualitas. Apakah kertas semennya robek atau bau, sepertinya tidak jadi soal. 

Karena besaran diutamakan, partai besarlah yang dominan. Adapun partai kecil seakan cuma jadi pelengkap. Betapapun, baik partai besar maupun partai kecil merupakan bagian dari kesibukan tempat jual beli yang lazim kita sebut pasar. Di Pasar Baru atau Pasar Kosambi niscaya ada kedua partai itu.

Harga mati dan harga nego

Dari sudut pandang pengunjung pasar loak seperti saya, rasa-rasanya tidak ada "harga mati" dalam urusan barang dagangan. Selalu ada tawar-menawar. Niscaya terjadi negosiasi. 

"Sumuhun, abdi nawiskeun sakitu. Mangga, salira nawis sabaraha. Mamanawian baé atuh ngajodo," lebih kurang seperti itulah yang sering saya dengar dari tukang dagang dalam bagian pendahuluan proses tawar-menawar yang alot.

Kalau negosiasi sudah sampai ke titik temu, dalam arti harga barang disepakati oleh kedua belah pihak, tinggal ijab kabul saja. "Nyanggakeun barangna. Nampi artosna," begitulah ucapan pamungkas dari sang pedagang. 

Kalau proses transaksinya berlangsung pagi hari, ketika pasar baru mulai, ia akan menepuk-nepukkan lembaran uang yang baru diterimanya pada barang dagangannya. Gerak tangannya seperti gerak tangan pendeta atau rahib sewaktu mencipratkan air keramat dari dedaunan. 

Dengan kata lain, dalam kerumitan transaksi di pasar, yang jadi soal hanyalah siapa yang berani membeli barang dengan harga tertinggi. Pemilik fulus yang kesanggupannya cuma sekelas partai kecil jangan harap bisa ikut main dalam partai besar. Jelas perlu modal besar buat partai besar. 

"Wealth is power," kata Adam Smith seraya mengutip Thomas Hobbes. Ya, kaya itu berkuasa. Dengan kata lain, kekuasaan ada di tangan "the wealth of nations". Kekuasaan ada di tangan orang kaya.***