Pandikira dan Pendekar

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SAYA menonton pertunjukan pencak silat dalam "Temu Pendekar Internasional" ke-2 di Bandung, 20-23 Oktober 2017 lalu. Persaudaraan Satria Suci dari Sumatra Selatan memungkas koreografi silat dengan gerakan penutup salat. Gajah Putih dari Kabupaten Bandung Barat memadukan ibing penca dengan tarian ketuk tilu. Seni drama di Balai Kota, dengan iringan kendang, goong, dan tarompét, memberikan atmosfer tersendiri bagi pertemuan antarsesama peminat pencak silat.

Di Gedung Indonesia Menggugat dan Aula SDN Banjarsari, ada pula workshop silat. Di dunia persilatan, workshop alias lokakarya adalah forum tempat berbagi teknik seni bela diri. Para guru yang memandunya biasanya memberikan pula pengetahuan dasar perihal perguruan yang mereka asuh atau aliran yang mereka hayati. Dalam forum inilah para peserta bisa berlatih bersama. Saya ikut workshop aliran Haji Salam dari Serang, Banten, di bawah arahan Pak Sumianto dan rekan-rekan.

Seusai ikut mencoba gerakan "alip sambut" yang diperagakan oleh Pak Nurudin, saya pulang dengan menggenjot sepeda dari Jalan Merdeka ke Ledeng. Paha, lutut, dan betis pegal nian. Punggung dan bahu jadi linu. Namun, semua itu tidak sebanding dengan kesedihan bobotoh yang terkapar di depan televisi sore hari begitu Persib kalah di Lamongan. Bahkan, untuk sekadar mempertahankan reputasi "raja remis" pun, Maung Bandung rupanya tak sanggup. Sore itu, lagi-lagi, saya diyakinkan bahwa pencak dan sepeda memang lebih menarik ketimbang bola. 

Kamus dan sejarah

Untuk mengendalikan diri dari kemungkinan menendang layar televisi tanpa alasan yang cukup masuk akal, saya berpaling kepada kamus dan buku sejarah, menelusuri seluk-beluk istilah "pendekar". Dari manakah datangnya?

Buku sejarah Hindu-Jawa karya N.J. Krom, Hindoe-Javaansche Geschiedenis (1926), menyebut-nyebut istilah "pendekar" sambil lalu. Katanya, istilah dalam bahasa Melayu itu bersangkut-paut dengan istilah "Pandikira". Adapun "Pandikira" muncul dalam uraian mengenai zaman Airlangga tatkala perdagangan di lautan (zeehandel) berkembang, dan bermacam-macam bangsa muncul dalam panorama. Seraya mengacu pada inskripsi, Krom mencatat daftar multikultural itu, yakni "Kling, Aryya, Singhala, Pandikira, Drawida, Campa, Remen, Kmir".

Nama "Pandikira", sebagaimana "Aryya", mendapat catatan tersendiri. Jika nama-nama lainnya jelas menunjukkan bangsa tertentu, semisal "Kmir" terpaut pada Kamboja, "Pandikira" dan "Aryya" rupanya menunjuk ke kasta atau lapisan masyarakat tertentu. 

"Pandikira, yang masih hidup dalam istilah Melayu pendekar, akan menjadi pejuang Tamil dan Aryya adalah nama terkenal untuk kasta ‘Arian’"... (Pandikira, nog levend in het Maleische pendekar, zouden de Tamil-voorvechters zijn en Aryya de bekende naam voor de "Arische" kasten...)," urai Krom.

Kamus Jawa Kuna-Indonesia (1995) dari P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson, juga seraya memetik sebuah prasasti, menerangkan bahwa istilah pandikira menunjuk kepada "negara tertentu ... dan rakyatnya". Tak tahulah negaranya di mana. Penyusun kamus belum tuntas menelusurinya.

Pendekar kaumnya

Baik Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia mengartikan istilah "pendekar" sebagai pesilat. Istilah "pendekar" dalam KBBI (2008) diterangkan sebagai "orang yang pandai bersilat (bermain pedang dsb)" dan "orang yang gagah berani (suka membantu yang lemah dsb)" atau "pahlawan". 

Pada praktiknya, bukan hanya para pesilat yang akrab dengan istilah "pendekar". Dari kamus kita dapat mencatat beragam konotasi. "Pendekar lidah" adalah jago pidato, sedangkan "pendekar pena" berarti orang yang piawai menulis. Apapun bidangnya, orang tak lupa dengan peribahasa yang berbunyi "tak ada pendekar yang tak bulus". Artinya, tidak ada orang yang tidak pernah berbuat salah.

KBBI juga memuat kata "jawara" yang diartikan sebagai "pendekar, tukang pukul, jagoan". Kandungan arti "tukang pukul" dan "jagoan", pada hemat saya, menjadikan istilah "jawara" agak berbeda dari istilah "pendekar". Apalagi dalam kata "pendekar" terkandung pula sikap kepahlawanan dan kesanggupan menolong sesama.

Figur seperti Kartini, ibu kita dari Rembang, dijuluki sebagai "pendekar kaumnya", bahkan "pendekar bangsa". Begitu luhur tanggung jawab dan kesanggupan yang tersirat di balik istilah "pendekar". Barangkali, itulah sebabnya dalam perhelatan di dunia persilatan yang baru lalu itu, istilah yang dipilih adalah "temu pendekar".***