Arca Megalitik dan Gempa Bumi Lembah Lore

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

MENJELANG buka puasa terakhir, Sabtu 18 Agustus 2012 pukul 17.41 waktu setempat, tiga kecamatan, Kulawi, Lindu, dan Gumbasa di Provinsi Sulawesi Tengah, diguncang gempa bumi berkekuatan 6,2 pada skala Richter. Guncangan kuatnya dirasakan warga Kota Palu.

Yang menarik dari peristiwa gempa bumi ini, ada nama-nama geografi Kecamatan Lindu, termasuk kecamatan yang terkena guncangan sangat kuat. Walaupun dalam bahasa Kaili, lindu berarti belut yang endemik danau di Sulawesi Tengah. 

Namun, lindu pun sesungghunya mempunyai arti lain, yang dalam Bahasa Kawi berarti gempa bumi. Kata lindu, dipakai menjadi nama kecamatan, yaitu Kecamatan Lindu, juga dipakai dalam nama Taman Nasional Lore Lindu dan Danau Lindu.

Kecurigaan kata lindu lebih berarti gempa bumi, karena nama-nama geografi itu terletak dalam lajur sesar sepanjang Palu-Koro, sesar terpanjang di Sulawesi yang membentang dari Pipikoro di selatan, melintas ke arah utara hingga di Teluk Palu yang berarah tenggara-barat laut.

Kota Palu sendiri berada di ujung utara, tepat berada di atas lajur sesar aktif yang memiliki potensi kegempaan cukup tinggi, dengan pusat gempa umumnya dangkal, antara 0-60 km. Dengan kecepatan pergerakan sesar sekitar 4 cm per tahun, bukan hal yang mustahil, di masa yang akan datang bisa terjadi gempa bumi dengan kekuatan besar, setidaknya sampai 7 pada skala Richter.

Catatan gempa tektonik

Kegiatan tektonik regional yang dinamis di kawasan itu, telah menyebabkan terjadinya gempa bumi, tsunami, longsor, dan letusan gunung api, yang mengancam kehidupan manusia yang tinggal di sana.

Dari kumpulan berita diketahui, gempa bumi yang tercatat dalam sejarah di lajur Sesar Palu-Koro, seperti gempa Watusampu pada tahun 1927 yang menelan korban jiwa sebanyak 50 orang. Pada tahun 1938 terjadi gempa Donggala dengan kekuatan 7,6 pada skala Richter.

Gempa Tambu terjadi pada tahun 1968 dengan kekuatan 6,0 pada skala Richter yang menimbulkan tsunami setinggi 10 meter, menenggelamkan Kampung Lembu, Kambayang, Damsol, menelan korban jiwa ratusan orang.

Gempa Lawe pada tahun 1995 menyebabkan longsor yang menghancurkan rumah-rumah di Kulawi, Gimpu, Lawe, dan Kantewu. Gempa Tonggolobibi terjadi pada tahun 1996, menimbulkan tsunami, menjadikan daratan sekitar pantai berubah menjadi dasar laut. 
Pada Juli tahun 2005 terjadi Gempa Bora dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter, dan pada bulan Oktober tahun yang sama terjadi lagi gempa dengan kekuatan 6,3 pada skala Richter.

Pada tahun 2011 gempa bumi kembali mengguncang kota Palu. Gempa pertama dengan kekuatan 4,2 pada skala Richter, dan gempa kedua dengan kekuatan 4,1 pada skala Richter.

Arca megalitik

Di lajur Sesar Palu-Koro ini terdapat lembah, yang sesungguhnya merupakan bagian kawasan yang turun (graben). Lembah ini dikelilingi rangkaian pegunungan, yang pada saat itu berfungsi sebagai benteng pertahanan yang sangat kokoh bagi Suku Napu, Besoa, dan Bada yang hidup dalam suasana damai dan sejahtera.

Masyarakat dari ketiga suku ini sudah mempunyai teknologi logam yang sangat baik, sehingga dapat menghasilkan karya arca dan kalamba, tempayan batu dari batu yang dibentuk sangat halus. Di tengah Lembah Bada mengalir Sungai Laeriang, cukup menjadikan kawasan ini sebagai penghasil bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan warganya. Arca-arca batu dari budaya megalitik itu merupakan patung yang sangat langka.

Arca-arca itu oleh masyarakat diberi nama sesuai dengan riwayatnya yang terdapat dalam mitos dari masing-masing arca. Boleh jadi mitos-mitos itu merupakan jawaban masyarakat akan keberadaan arca-arca tersebut.

Beberapa contoh arca yang yang sudah bernama dan mempunyai riwayat keberadaannya, yaitu: Arca Tadulako, Polenda, Pekasele, Pekatalinga, Tosalogi, Ari’impohi, Buangke, Loga, dan Tupapa. Arca-arca dan tempayan batu yang ada di Sulawesi Tengah ini diperkirakan dibuat oleh para ahli pahat batu dari ketiga suku itu antara 6.000-3.000 tahun lalu. 

Lembah mati

Lembah yang dihuni oleh Suku Napu, Besoa, dan Bada ini kemudian menjadi lembah yang sunyi. Misteri mengapa lembah ini menjadi kawasan yang mati dan ditinggalkan berpenghuni?

Jawaban yang paling sering dilontarkan para ahli adalah karena terjadinya serangan wabah yang berjangkit sangat dahsyat, sehingga sebagian besar warganya meninggal, dan yang masih kuat lalu berpindah tempat.

Namun, bila melihat lembah ini persis berada di lajur Sesar Palu-Koro, saya menduga, gempa berkekuatan besar pernah terjadi di sini dan menghancurkan segala tatanan kehidupan yang ada.

Untuk membuktikan dugaan ini, sebaiknya para ahli gempa bumi purba perlu mengadakan penggalian di kawasan ini untuk mengetahui struktur lapisan-lapisan tanahnya, yang dapat diketahui sebagai akibat gempa bumi atau bukan, dan umurnya dapat ditarikh di laboratorium, sehingga dapat diketahui periode gempanya.*