Dongeng Silat

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

PADA 28 Agustus lalu seorang pendengar di Bandung menyampaikan usul kepada Kang Dori dari Radio Cakra. Dia ingin mendengar lagi dongeng radio "Si Buntung Jago Tutugan". Seraya mengenang para pendahulunya, yakni Wa Képoh, Abah Kabayan, Aki Balangantrang, dan Mang Barna, penyiar dan penyanyi yang piawai menyuarakan puluhan karakter itu menjawab bahwa sekiranya naskah cerita silat itu masih lengkap, ia bersedia membacakannya. 

Sebagai pendengar radio, saya sebetulnya punya usul yang sama. Di telinga saya, judul "Si Buntung Jago Tutugan" punya daya tarik tersendiri. Waktu saya mengobrol dengan Ki Daus, maestro silat aliran Sera dari Jatihandap, cerita silat itu turut disebut-sebut.

Ki Daus bahkan berangan-angan untuk mengangkatnya ke dalam film. Begitu pula waktu saya membaca naskah memoar almarhum Supriatna, pengarang Sunda dari Jatinangor, cerita yang sama juga tidak dilupakan. Bagi saya, itulah pertanda begitu populernya cerita itu pada zamannya.

"Si Buntung Jago Tutugan" adalah salah satu cerita silat karangan mendiang S. Sukandar. Seperti yang dicatat oleh Kang Supriatna, dari tangan S. Sukandar juga lahir cerita silat "Gumilar", "Si Ruyung Kawung", dan "Waliwis Bodas". Menurut catatan Dadan Sutisna, pengarang Sunda dari Tanjungsari, buku "Si Buntung Jago Tutugan" terbit di Bandung secara berseri pada 1969, hingga 40 jilid. 

Radio turut mempopulerkannya, agaknya dengan jangkauan yang jauh melebihi jangkauan buku. "Dongeng radio" adalah sebutan populer buat cerita yang dibacakan oleh seorang penyiar yang piawai membawakan suara berbagai karakter rekaan. Adapun S. Sukandar adalah salah seorang pengarang Sunda yang memberikan sumbangan besar terhadap tradisi dongeng radio.

Kisah pendekar 

Pendekar rekaan S. Sukandar adalah Andi. Ia berasal dari Cipancar, dan menjadi korban kekerasan pada masa kecil. Ayahnya, Ki Rais, tewas dalam pertarungan melawan para begal di Leuweung Tiis. Andi sendiri, dalam insiden itu, kehilangan pergelangan tangan kirinya akibat sabetan golok begal.

Bengal sejak kecil, ia tumbuh jadi pendekar. Bagian tangannya yang buntung disambung dengan potongan besi dan dibungkus dengan kulit. Ia piawai bertarung dengan tangan kosong, juga mahir bertarung dengan memakai senjata. Sosoknya tambah menarik dengan Si Ruyuk, seekor elang yang pernah ia tolong dan menjadi sahabatnya yang loyal. 

Dendam atas kematian ayahnya menjadi motif utama dalam plot cerita ini. Ia pergi meninggalkan kampungnya buat mencari para pembunuh ayahnya. Bumbu romansa turut mempersedap cerita. Adapun bagian yang paling seru, sudah pasti, adalah kisah pertarungan, tak terkecuali pertarungan antara Andi dan Bah Rowi, pemimpin begal yang pernah jadi guru Andi sendiri. 

Dongeng radio masa kini

Dalam kisah pertarungan itu, S. Sukandar sering menggarap detail, misalnya berapa derajat kaki atau tangan petarung berputar atau bergeser. Jurus atau gerakan petarung sering pula diberi nama tersendiri, semisal gerakan cacar bolang, gerakan cakar heulang, gerakan panggal muih, gerakan heulang ngagalaprak, gerakan neumbrag jagat, gerakan bahé kélé, dan banyak lagi. 

"Mitra kaum dangu, kasempetan hadé keur Andi. Jorélat muru Ardasim anu keur ngabangkieung kénéh lantaran katotog ku leungeun buntung. Teu miceun témpo, bek deui leungeun buntung baranghakan ngahanca iga burung. Ardasim ngagerung teu béda ti mobil nu ngadadak mogok," begitu antara lain deskripsi pertarungan antara Andi dan Bah Rowi dan konco-konconya sebagaimana yang pernah dibacakan oleh Mang Barna.

Mang Barna adalah salah seorang pembaca dongeng radio yang belakangan turut mempopulerkan "Si Buntung Jago Tutugan". Ia membacakan kisah populer ini melalui Radio Lita di Bandung pada tahun 2014. Penyiar asal Garut ini wafat Mei 2017 lalu, tapi suaranya masih dapat kita simak melalui YouTube. Dalam presentasi Mang Barna, kisah Andi terpaksa meloncat dari masa kanak ke masa remaja. Katanya, buku ke-5 tidak tersedia di tangannya.

Tanggapan Kang Dori atas usulan penggemarnya itu tadi memang sejalan dengan situasi dongeng radio kini. Pengarangnya barangkali tak sebanyak dulu, naskahnya mungkin tak terdokumentasikan secara baik. Betapapun, dongeng radio tetap hidup, dan di antara para pengarang Sunda, masih ada yang setia berkarya dalam rumpun tulisan yang satu ini.

Kang Dori sendiri, sejak 23 September lalu, membacakan kisah "Si Rawing Jago Tanding" karya Yat R. Saya turut menyimaknya.***