The Power of Bobotoh Persib

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

SEDIH rasanya ketika sumpah untuk menjadikan bobotoh Persib Ricko Andrian sebagai korban terakhir dalam rusuh suporter sepak bola Indonesia ternyata sama saja dengan sumpah-sumpah sebelumnya, yaitu dilanggar.

Ternyata Ricko bukanlah korban terakhir. Pekan lalu, Banu Rusman, seorang suporter Persita Tangerang meregang nyawa saat dihajar oknum suporter yang diduga anggota TNI. Terkait keterlibatan anggota TNI, ternyata diakui pula oleh ketua umum PSSI yang juga menjabat Pangkostrad.

Walau reaksi besar dan kecaman disuarakan berbagai elemen di Tanah Air, tampaknya daya ”gugatnya” hanya sesaat, komitmen-komitmen dan janji perbaikan disodorkan oleh otoritas sepak bola Tanah Air bersambut dengan menurunnya tensi terkait isu ini.

Tak sampai sepekan, isu ini mulai redup. Silakan Anda cek keriuhan berita terkait kabar ini, tak seberapa jika dibanding dengan seriusnya tragedi. Saya lalu berpikir, insiden yang sama bisa terus menjadi isu setidaknya hingga beberapa pekan ke depan andai Banu adalah seorang bobotoh Persib.

Lips service dan pernyataan diplomatis dari para petinggi sepak bola dijamin tak akan cukup untuk membungkam reaksi bobotoh Persib. Namun tentu saja kejadian seperti itu jangan sampai terjadi karena tak perlu ada episode ”The Power of Bobotoh” kesekian kalinya yang harus berkaitan dengan korban jiwa.

Tulisan ini mencoba menyajikan fakta betapa bobotoh Persib memang memiliki keistimewaan yang khas jika dibanding suporter lain. Sesuatu yang unik dan menjadi pembeda, ketika emosi ala suporter bersua dengan akses teknologi informasi, bolehlah kita menyebutnya sebagai ”The Power of Bobotoh”.

Suporter, daya beli, dan teknologi

Secara umum, kita bisa bersepakat bahwa Bandung adalah barometer terkait banyak hal di Indonesia, dari mulai fashion, musik, olah raga, pendidikan, hingga gaya hidup dan gerakan kreatif.

Bicara dalam konteks suporter sepak bola, sedari dulu, jauh sebelum tren kemunculan kelompok suporter (terutama dengan embel-embel mania), para penggila bola di Bandung memang dikenal garaya.

Berbeda dengan kultur bobotoh Persib sekarang yang terjangkit cukup banyak budaya aneh seperti membajak truk, nyeker ke stadion, mengamen dan lain-lain. Bobotoh Persib generasi sebelumnya, saya kira, jauh lebih gengsian dan tetap mengutamakan gaya jika berangkat ke stadion. Kultur suporter stylish tampaknya berkorelasi positif dengan daya beli yang baik jika dibanding suporter di kota lain.

Karena tidak berniat membanding-bandingkan kemampuan ekonomi apalagi menyombongkan diri, lebih baik kita simak setidaknya 3 fakta berikut.

Pertama, tiket pertandingan Persib dikenal sebagai yang paling mahal di Indonesia dan tetap selalu diburu hingga efek calo biadab yang tentu dipicu royalnya bobotoh Persib. Kedua, jersey original Persib setiap tahun selalu menimbulkan efek daftar tunggu bagi para peminatnya padahal harganya bisa dibilang sangat mahal untuk ukuran klub Indonesia.Ketiga, berkembangnya bisnis merchandise yang harganya terbilang tinggi jika dibanding kota lain.

Belum lagi jika kita lihat fenomena di stadion. Jujur saja, rasanya hanya di Bandung kita bisa melihat orang hendak menonton sepak bola namun menggunakan mobil-mobil pribadi yang jenisnya tergolong kelas premium. Sementara ada kota lain yang akrab dengan aksi membajak angkutan umum sebagai sarana menuju stadion.

Jangan lupakan pula bahwa daya beli yang baik dari suporter tentunya akan menjadi pertimbangan sponsor-sponsor untuk bekerja sama dengan Persib. Indikasi bahwa bobotoh dipersepsikan berdaya beli baik dapat kita lihat dari sponsor-sponsor yang menyatakan puas saat produknya mengalami peningkatan penjualan saat bermitra dengan Persib.

Daya beli yang baik pun berimbas positif dengan kemampuan mengakses teknologi dan informasi. Tak berlebihan jika kita generalisasi bahwa hampir seluruh bobotoh Persib sangat familiar dengan internet.

Indikatornya banyak. Media online terkait Persib sangat banyak dan tetap tak kehilangan peminat. Segmennya selalu ada dan jumlah media online jenis ini bisa jadi menjadi yang terbanyak di segmen pemberitaan klub lokal.

Pengguna media sosial dari kalangan bobotoh pun luar biasa banyaknya. Silakan cek Facebook, Twitter, ataupun Instagram. Selalu ada cerita tentang Persib dan bobotoh yang bisa kita lihat termasuk tagar #persibday yang seringkali menjadi trending topic tatkala Persib akan bertanding.

Bukti nyata bahwa bobotoh dan internet serta teknologi informasi sudah sangat mesra adalah dinobatkannya Persib sebagai tim paling populer di Asia oleh AFC. Salah satu indikatornya adalah fanpage Persib yang memiliki jumlah pengikut hampir 10 juta akun, sungguh bukan hal yang bisa disepelekan.

kim jeffrey ikut bobotoh aksi koin untuk pssi.jpg

Wajar pula jika aksi ”Koin untuk PSSI” beberapa waktu lalu terbilang sukses karena salah satu metode dan sarananya adalah aksi persuasif di dunia maya sehingga gerakan ini begitu cepat direspons secara masif, tentunya karena bobotoh pun tak gagap teknologi.

Terkadang mengerikan

Awal tulisan ini mengirimkan pesan pengandaian yang tak diharapkan terkait kekuatan bobotoh karena dalam beberapa hal yang saya maksud adalah potensi negatif seperti bully massal. Walau berposisi sebagai sekutu, namun kita memang harus berhitung jika bertindak terkait Persib dan bobotoh.

Hal yang teranyar adalah apa yang dirasakan oleh Wildansyah. Video saat dia menghardik bobotoh usai pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat menjadi viral.

Akibat tindakan tak simpatiknya itu, maka kecewa dan kecaman langsung meluas di dunia maya. Sialnya adalah bahwa ternyata Wildansyah memiliki akun media sosial Twitter dan Instagram.

Maka dengan mudah, semua hujatan itu di tag dan disampaikan langsung ke Wildansyah melalui akun media sosial. Suka atau tidak, Wildansyah mengetahui ucapan-ucapan itu. Masalahnya, gangguan berlangsung terus-menerus dan tentu sangat membuat tidak nyaman.

Mereka yang tak terbiasa dan hanya siap menerima pujian serta hal baik tentu tak akan tahan. Alhasil, Wildansyah merasa perlu melakukan pemblokiran terhadap akun-akun yang berpotensi menjadi penyebab ketidaknyamanan dalam menjalani hidup termasuk akun Twitter @ekomaung yang sebenarnya belum melakukan apa-apa.

Terlepas dari persoalan ini, langkah Wildansyah untuk segera meminta maaf secara terbuka harus kita apresiasi karena itulah satu-satunya cara agar perisakan segera berlalu dan yang bersangkutan kembali nyaman bermedsos ria.

Jika pemain Persibnya saja dirisak sedemikian rupa saat berbuat khilaf, dapat kita bayangkan apa yang terjadi saat bobotoh mengetahui bahwa Agus Fauzan Arifin, wasit yang memimpin pertandingan antara tuan rumah Persiba Balikpapan vs Persib beberapa waktu lalu ternyata memiliki akun Instagram.

Terakhir saya lihat, kolom komentar di akun Instagram @fauzanarifin2 berjumlah hampir 90.000 komentar. Tentu saja, hampir semuanya adalah cacian dan hujatan dari para bobotoh yang merasa Persib dirugikan oleh kepemimpinan sang pemilik akun.

Asal tahu saja, 90.000 komentar dalam akun instagram seseorang adalah jumlah yang sangat banyak dan dapat dikatakan luar biasa bahkan gila.

Sebagai perbandingan, Cristiano Ronaldo saja yang pengikut akunnya berjumlah 113 juta orang tak pernah mendapat komentar hingga 30.000 dalam postingan-postingan populernya.

Bandingkan dengan Agus Fauzan yang memiliki follower tak seberapa namun mampu menuai hampir 90.000 komentar di akun Instagram-nya. Luar biasa? Jelas! Hanya ”The Power of Bobotoh” yang bisa menyebabkan itu terjadi, rada paur memang.***