Prajurit Silat

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

GERIMIS turun di Pasiripis. Saya turun dari motor Jepang yang dikemudikan oleh Bambang Tanoeatmadja dari Maspi (Masyarakat Pencak Silat Indonesia). Asep Gurwawan, Ketua Umum Maspi, menyambut kami di teras rumahnya, di antara rumpun bugenvil merah dan tiang-tiang kayu penyangga atap rumah tempat beberapa ekor anjing kecil terikat. Hari sudah siang tapi hawa di situ seakan selalu pagi. Rumah-rumah penduduk dipeluk hawa sejuk.

Kang Asep mempelajari pencak sejak ia masih berumur 15 tahun. Putra Bandung ini terlatih di perguruan Himpunan Pencak Silat Panglipur. Ia melanglang jagat baik sebagai pendekar maupun sebagai atlet sebagaimana almarhum O’ong Maryono, rekannya di dunia persilatan. Pernah ia melatih para pesilat Vietnam di Hanoi. Pernah pula ia melatih para pesilat Thailand. Sekarang ia tinggal di Pasiripis, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Beberapa bulan lalu, Kang Asep dan kawan-kawan memperagakan pencak silat dalam forum UNESCO di Paris, Prancis.

Baru beberapa menit kami duduk di situ, datang Thomas Sciarrino, pesilat dari Montpellier, Prancis. Ia mempelajari silat Cimande, dan mengajarkan silat di negerinya. Katanya, waktu Kang Asep dan kawan-kawan tampil di Paris, ia tak sempat menyaksikan langsung. Peristiwa itu hanya ia lihat melalui Youtube. Ia tertarik oleh keelokan pencak Kang Asep. Maksud kedatangannya ke Lembang siang itu adalah belajar kepada Kang Asep perihal jurus-jurus pencak yang memikat hatinya.

Selagi kami mengobrol, Bu Asep menyuguhkan susu sapi hangat yang baru diangkat dari tungku. Singkong goreng tak ketinggalan. Hujan berkepanjangan, demikian pula obrolan. Yang lebih hebat adalah giliran makan bersama. Nasi hangat, goreng ikan peda, goreng tahu, sambal terasi, dan irisan mentimun sungguh menggenapkan silaturahmi.

Waktu hujan reda, dan Thomas pergi hendak melihat-lihat pemandangan sekitar, saya mendapat kesempatan leluasa buat menggali cerita dari maestro pencak di hadapan saya. Pak Odik, pesilat dari perguruan Panglipur, serta Pak Bambang turut berbincang dalam pertemuan pada Sabtu, 7 Oktober lalu itu.

Silat dan Upacara

Pokok perbincangan, dan minat saya hari itu, bergulir di sekitar tradisi pencak silat dan potensi institusi militer dalam pemeliharaan dan pengembangan tradisi tersebut. Kebetulan, dalam pertemuan yang tidak direncanakan itu, Kang Asep mengenakan T-shirt merah bertuliskan “Marinir”. Saya merasa mendapat pintu masuk yang tepat dan datang kepada orang yang tepat. Ia mengajarkan pencak silat dan ibing-nya kepada marinir di Cilandak sejak sekitar Juli tahun ini. Ia adalah salah seorang instruktur di balik pertunjukan pencak silat kolosal oleh prajurit TNI pada 5 Oktober lalu.

Di hadapan Panglima TNI dan Presiden RI, pada perayaan ulang tahun TNI yang ke-72 di Cilegon, 1.600 tentara dari ketiga angkatan mempertunjukkan pencak silat dan atraksi debus. Saya menyaksikan pertunjukan itu melalui televisi. Kepada istri saya yang antusias menonton sambil menyetrika pakaian anak-anak, saya bilang bahwa pertunjukan itulah yang menjadikan HUT TNI kali ini tampak istimewa. Retorika yang cemas perihal politik militer sih, buat saya, begitu-begitu saja. Atraksi pencak silatlah yang sungguh layak diperhatikan.

IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan MASPI berperan dalam pertunjukan itu. Perannya ditopang oleh sejumlah perguruan, antara lain Persatuan Hati, Perisai Putih, Merpati Putih, Cempaka Putih, Tapak Suci, Persaudaraan Setia Hati Teratai, Perisai Batin Ilmu Laduni, Panglipur, Ciung Wanara Domas, Pager Kencana, Budi Kencana, dan Macan Tutul. Para pendekar melatih prajurit seni pencak silat lengkap dengan iringan musiknya.

Barisan tentara berlari seraya meneriakkan semacam battle cry “TNI”. Celana PDL loreng dan sepatu lars dipadukan dengan kain batik Nusantara. Diiringi terompet yang membawakan lagu “Sang Bango”, mereka mengawali atraksi dengan memperagakan gerak dasar pencak silat. Dalam pertunjukan itu penonton dapat melihat kekayaan gerak pencak silat, tak terkecuali yang dibakukan oleh IPSI. Ibing-nya tak ketinggalan, antara lain tepak tilu, golémpang, dan padungdung. Penabuh kendang tidak kurang dari 100 orang.

“TNI juga melestarikan pencak silat yang mewakili budaya dan tradisi Indonesia sebagai bangsa petarung,” kata pembawa acara.

Di Luar Kata

Di Pasiripis, sambil mengobrol dengan Kang Asep, saya ingat-ingat lagi kata-kata pembawa acara dalam upacara itu tadi. Sekiranya kata-kata itu terealisasikan dalam kebijakan institusi militer, maka tradisi pencak silat khas Indonesia tentu dapat memperkaya keterampilan profesional prajurit Indonesia. Demikian pula institusi militer Indonesia dapat memastikan andilnya dalam pemeliharaan dan pengembangan tradisi itu.

Kalau sampai demikian, terbayang oleh saya betapa perguruan-perguruan silat di sini akan mendapat tambahan dorongan dalam kerja kolektif mengolah tradisi dan mendedikasikannya bagi pembentukan, penggemblengan, dan pembinaan karakter bangsa. Di pihak lain, jika barisan tentara Indonesia diperkaya dengan keterampilan dan disiplin pencak silat, tentu mereka juga akan menjadi prajurit kebudayaan.

Baiklah, saya hanya berandai-andai. Yang pasti, hari itu saya mendapat tambahan pengetahuan dari Pasiripis. Pak Bambang dan saya pulang menjelang petang setelah hujan reda.***