Kekuatan yang Lembut

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Tentara Nasional Indonesia, Kamis 5 Oktober 2017, dimeriahkan oleh beragam atraksi menarik dan unjuk kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) matra darat, laut, dan udara yang membanggakan. Profesionalitas dan kekuatan TNI tergambar siang itu.

Modernisasi TNI dari masa ke masa menunjukan hasil. Bukan saja teramati dari deretan prestasi dan penugasan multinasional, namun juga terlihat dari cara-cara TNI membangun kekuatan, baik personel maupun sistem persenjataan.

Melihat kecanggihan sistem persenjataan dan profesionalitas prajurit yang mengawakinya, sulit membayangkan tentara hebat yang dimiliki Indonesia terlahir dari laskar bambu runcing. Para peletak dasar keprajuritan modern tahu betul apa yang harus dilakukan untuk membangun sistem pertahanan modern. Semangat ini terwariskan dan menjadi komitmen turun-temurun.

Pahit getir mengusir penjajah dengan persenjataan seadanya seolah menjadi pil pahit yang berhasil diolah menjadi obat. Namun, pembangunan kekuatan tidak mengenal kata akhir, sebab hakikat ancaman pun terus mengalami pencanggihan.

Musuh tidak selamanya berupa pasukan asing yang berniat menyerang. Ancaman pun tidak lagi berupa fisik, seperti pendudukan wilayah, atau pelanggaran garis perbatasan. Perang pun boleh jadi hanya berupa simulasi tempur, selain beberapa prajurit merasakan langsung dalam penugasan sebagai pasukan penjaga perdamaian.

TNI dan rakyat

Namun, ada dua hal yang tidak boleh berubah, meski musuh sudah bersalin rupa, dan persenjataan sudah terbilang modern. Kesatu, semangat juang. Persenjataan modern penting, namun keberanian bertempur lebih penting. Namun kemauan bertempur saja tidak cukup. Adalah semangat yang dibawa ke dalam medan pertempuran yang akan memenangi perang.

Doktrin seperti ini sering terdengar dari film-film perang ketika pasukan terjebak dalam pertempuran yang mematikan. Banyak prajurit mati, namun tidak membuat prajurit lain enggan kembali ke medan perang. Mereka tahu perang adalah neraka, namun mereka tetap kembali. 

Bahkan mereka bukan hanya kembali, melainkan datang dengan lebih kuat. Mengapa? Karena mereka menyadari mereka adalah petarung, dan tugas utama petarung adalah terus bertarung.

Kedua, seperti tertulis dalam spanduk tentang tema HUT TNI, "Bersama rakyat TNI kuat", ini bermakna rakyat adalah matra keempat, selain angkatan darat, laut, dan utama. Rakyat sebagai sumber kekuatan seperti tercermin dalam doktrin sistem pertahanan rakyat semesta harus terwujud dalam satu kata dan perbuatan antara TNI dan rakyat. 

Bersatunya TNI dan rakyat adalah dalil yang harus diyakini semua prajurit, bukan sekadar dalih untuk mengejar kepentingan tertentu.

Ketulusan tindakan prajurit dalam cara-cara yang dipikirkan dan dirasakan rakyat adalah plasenta yang menghubungkan ikatan emosional dan korsa yang melandasi kebersamaan prajurit dan rakyat. Meski kewibawaan itu penting, namun hal tersebut tidak boleh menjauhkan TNI dan rakyat. 

Kehormatan tidak tumbuh dari rasa takut atau kepura-puraan yang terorganisasi. Apa yang dicetuskan Charles Spurgeon bahwa sincerity makes the very least person to be of more value than the most talented hypocrite amat berguna sebagai bahan refleksi prajurit di tengah kemeriahan hari ulang tahun tersebut.

Dicontohkan presiden

Keputusan Presiden Joko Widodo untuk berjalan sejauh 2,5 kilometer menuju tempat acara di tengah sengatan terik matahari memberi pelajaran penting. Rasa hormat terhadap presiden tidak luntur meski presiden mandi peluh di tengah massa yang kepanasan.

Alih-alih merontokkan muruah kepresidenan, keputusan Presiden Joko Widodo berjalan kaki seolah menjadi oase yang menyejukan massa. Ribuan massa bukan hanya menyaksikan presidennya yang tak segan menyapa warga, namun juga dengan tindakannya menunjukkan perwujudan kredo bersama rakyat TNI kuat.

Jika mau, presiden bisa tetap di dalam mobil yang mewah, dan dengan berbagai cara, prajurit bisa menciptakan rongga agar mobil bisa lewat. Tetapi, presiden memilih jalan lain. Joko Widodo memilih jalan menempuh jalan "sulit" demi mudahnya sebuah urusan. Inilah kekuatan yang lembut. Keberanian menempuh jalan sulit demi mudahnya sebuah urusan.

Demi membangun hubungan dengan kekuaan keempat, TNI harus berani keluar dari groupthink (pikiran kelompok) yang melingkupi tentara dan masuk ke pikiran rakyat. Bisa jadi apa yang dipikirkan rakyat berupa jalan terjal, namun harus ditempuh, demi landainya sebuah perkara. 

Inilah moralitas yang harus dibawa ke tengah-tengah massa, layaknya semangat juang yang dibawa ke medan tempur.***