Huhujanan

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

MAWAR sepertinya tidak suka hujan. Kalau hujan mengguyur, bunganya cepat gugur. Itu sebabnya, saya angkut pot kembang ke loteng, biar mawar terlindung tudung. Sayang, cahaya di situ kelewat teduh. Batang mawar kurus kering, bunganya jarang. Duri melulu. Saya pikir, repot juga mengurus kecantikan yang rapuh ini.

Hari-hari ini hujan turun deras sekali. Saya lupakan mawar seraya menyadari tiadanya bakat mengurus kembang. Dalam hati saya bertanya-tanya, tidakkah saya seperti mawar juga, cenderung melihat hujan sebagai bencana? Kalau genting bocor dan selokan mampat, kerap hujan yang disalahkan. 

Sikap demikian, tentu, kurang beralasan. Setidaknya, dalam bahasa Indonesia, begitu banyak variasi dari kata dasar "hujan", dan tak sedikit di antaranya yang artinya menggembirakan. Tegasnya, persepsi tentang hujan memang bisa macam-macam.

Baiklah saya ambil contoh. Kehujanan dan berhujan adalah dua hal yang berlainan. Adapun berhujan-hujan lain pula urusannya. Anda sedia payung biar tidak kehujanan di jalan. Mau berhujan atau berpanas, polisi lalu-lintas tetap bertugas. Pada masa kanak saya senang sekali berhujan-hujan sambil bermain bola atau semacamnya.

Dalam bahasa ibu saya, ketiga contoh pengalaman itu terwadahi oleh kata huhujanan. Setahu saya, jika penutur bahasa Sunda memakai ungkapan huhujanan, artinya bisa kehujanan, berhujan, atau bisa juga berhujan-hujan. Karena lupa membawa payung, Anda berangkat ke kantor huhujanan. Apa boleh buat, polisi mengatur lalu-lintas sambil huhujanan. Waktu kecil saya dan teman-teman senang sekali huhujanan

Contoh huhujanan dalam arti riang gembira terdapat dalam buku "Sumedang Harita" (in edita) karya mendiang pengarang Supriatna dari Jatinangor. Tentang kebiasaannya waktu kecil bermain bola di kala hujan, ia menulis, "Pék deuih kana maénbal bari huhujanan bubulucunan".

Siklus hujan

Sungguh menyenangkan pula membaca lukisan siklus hujan dalam Panggelar Boedi, buku bacaan murid sekolah di Tatar Sunda pada zaman kolonial karangan Moehamad Rais dan W. Keizer. Dalam jilid kedua, ada karangan yang bertajuk "Toekang Njanjabaan Anoe Taja Katjapé (Pengelana yang tak Kenal Lelah)". Itulah personifikasi yang cantik sekali tentang siklus air. Air jadi uap. Uap jadi awan. Awan jadi hujan.

Waktu hujan sore hari, baru-baru ini, saya berbincang-bincang dengan Kang Titi Bachtiar di Bandung. Dalam perbincangan tentang pentingnya membuat catatan dalam perjalanan, ahli geografi yang suka berkeluyuran itu mengingatkan saya pada alat pengukur curah hujan. Seingat saya, dulu, di setiap halaman kantor kecamatan, ada perangkat dimaksud. 

Kebiasaan mencatat perkembangan cuaca demikian rupanya sudah berlangsung lama. Dalam "Volksalmanak Soenda" (1919), misalnya, ada keterangan demikian: 

"Di Sababaraha nagara di Hindia-Walanda, pikeun peringetan, sakoemaha lobana hoedjan téh ditjatetkeun, ditoelis oenggal-oenggal hoedjan sakoemaha m.M. loehoerna, sarta sanggeus sababaraha boelan lilana, didjoemblahkeun, nja dibagi koe lobana boelan."

(Di beberapa wilayah di Hindia Belanda, sebagai peringatan, curah hujan dicatat, dituliskan berapa milimeter tingginya setiap kali hujan turun, dan berapa bulan berlangsungnya hujan, kemudian setelah berjalan beberapa bulan angkanya dijumlahkan, dibagi per bulan)

Hutan dan sawah

Dalam berkala yang sama, dan dalam edisi yang sama, terdapat pula karangan tentang pentingnya leuweung tutupan, semacam hutan lindung yang antara lain diperlukan buat menampung air. Tertulis di situ: "...tétéla pisan, jén goenoeng-goenoeng bisa njerot tjai ti awang-awang. Djadi soepaja pikeun sawah-sawah aja hoedjan téja, perloe pisan aja leuweung di goenoeng téh. (...tak pelak lagi, betapa gunung-gunung dapat menyerap air dari langit. Jadi, agar sawah-sawah dapat tersiram hujan, betapa pentingnya ada hutan di gunung)."

Jika hutan tak lagi hadir di gunung, turunnya hujan memang dapat menimbulkan cerita murung. Gambarannya dapat kita baca dalam salah satu karangan dalam Roesdi djeung Misnem, buku bacaan murid-murid sekolah Sunda dari awal abad ke-20. 

Begini bunyinya: "Dina hidji poé, basa hoedjan gedé, kabéh waloengan-waloengan, soesoekan-soesoekan tjaraah. Sawah-sawah, balong-balong kakeueum, malah réa pisan sasak-sasak noe paralid. (Pada suatu hari, waktu hujan deras, semua kali dan selokan banjir. Sawah-sawah, kolam-kolam, terendam, bahkan banyak sekali jembatan hanyut)."

Lambat-laun terpikir oleh saya bahwa barangkali mawar bukannya tidak suka hujan. Ia mungkin punya takaran tentang seberapa besar curah hujan, juga terpaan cahaya matahari, yang diperlukan. Saya jadi yakin bahwa jika keseimbangan alam terjaga, huhujanan memang bisa menyenangkan.***