Bobotoh, Persib, dan Kaltim

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

KALIMANTAN Timur atau Kaltim tampak seksi untuk diperbincangkan saat ini. Selain Persib yang akan menjalani tur Kaltim mulai Minggu 1 Oktober 2017 ini, juga karena salah satu Bupati yang paling populer berasal dari propinsi ini.

Rita Widyasari Syaukani, Bupati Kutai Kartanegara, bupati perempuan pertama di Indonesia yang pernah diduga terlibat kasus video porno itu baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Namun tentu tulisan ini tidak akan banyak membahas sepak terjang Rita Widyasari, perempuan berparas cantik yang pernah menimba ilmu di Tanah Priangan.

Rangkaian paragraf berikutnya mencoba memberi sedikit gambaran betapa Persib tak akan pernah sendiri setiap kali menjalani laga tandang di Kaltim. Akan selalu ada bobotoh setia yang mengiringi langkah sang Pangeran Biru.

Tulisan ini mencoba menyingkap sisi lain bobotoh Kaltim selain anggota Viking Borneo yang memang terorganisasi. Ini tentang bobotoh dan para simpatisan Persib di luar bendera kelompok suporter.

Dalam kondisi ideal, Maung Bandung bisa bertanding empat kali di Kaltim dalam semusim, alias ada empat kota yang akan dikunjungi. Pertama adalah Balikpapan, markas Persiba, lalu Samarinda Markas PBFC, Kutai Kartanegara, hingga Bontang markas PKT, namun klub yang disebut belakangan tak menjadi kontestan Liga 1 musim ini.

Kendati begitu, Maung Bandung tetap akan bermain di Bontang dalam laga hukuman saat dijamu PBFC. Bagi sebagian bobotoh yang pernah melakukan laga tandang ke Kaltim, hari-harinya tak akan terasa membosankan karena begitu banyak hal baru yang bisa dinikmati.

Akan tetapi, tentu harus menyiapkan energi dan dana memadai mengingat lokasi-lokasi istimewa itu letaknya saling berjauhan. Balikpapan menjadi gerbang pertama petualangan suporter yang ingin tur ke Kaltim.

Unik memang, bandara utama provinsi Kaltim justru tak terdapat di Samarinda sebagai ibu kota provinsi, melainkan bandara Sepinggan Balikpapan

Infrastruktur sepak bola

Belakangan ini, Jawa Barat bisa menepuk dada karena memiliki beberapa stadion dengan kualitas premium untuk melakukan laga-laga resmi. Akan tetapi, Jawa Barat bukanlah yang terdepan jika bicara tentang infrastruktur stadion sepak bola di Indonesia.

Kaltim memiliki standar yang lebih. Stadion dengan kualitas baik dan layak seperti Segiri, Taman Prestasi, ataupun Mulawarman tak akan dianggap stadion papan atas jika kita bicara stadion sepak bola di Kaltim.

Nama-nama tadi hanya dianggap stadion kasta kedua. Jika kita bandingkan dengan daerah lain, Kaltim adalah yang terbanyak memiliki stadion berkualitas internasional, sebut saja Aji Imbut, Palaran, Sempaja, hingga yang paling fenomenal, stadion Batakan.

Stadion baru di Balikpapan itu desainnya mengingatkan kita pada Emirates Stadium di London.

Pembangunan stadion-stadion megah tersebut memang imbas dari penyelenggaraan PON XVII di Kaltim 2008 lalu. Namun rupanya usai PON, pembangunan stadion megah tetap berlanjut. Kondisi geografis khas Borneo yang sangat luas dan tak diintai ancaman vulkanik memang menguntungkan untuk pembangunan-pembangunan mega proyek seperti stadion sepak bola.

Alhasil, proses awal seperti pembebasan tanah yang biasanya menjadi persoalan besar di daerah lain tak akan terjadi jika otoritas setempat berencana melakukan pembangunan infrastruktur.

Uniknya, walau secara fisik bangunan stadion tak perlu diragukan, infrastruktur sipil lain seperti jalan raya, tol, dan sebagainya seakan tak mampu mengimbangi akses dan kemegahan stadion.

Seringkali, stadion megah seakan tak terawat dan benar-benar berada di tengah hutan. Rumputnya tak terawat selama libur kompetisi dan acapkali disalahgunakan untuk aktivitas asusila karena penerangan yang minim pada malam hari. Seperti stadion Aji Imbut di Tenggarong, misalnya. 

Tahu Sumedang

Rumus bahwa orang-orang satu daerah akan terlihat lebih erat saat bersama di perantauan berlaku juga untuk urang Sunda di Kaltim.

Selain paguyuban-paguyuban yang rutin mengadakan agenda pertemuan, kita juga dapat menemukan beberapa komunitas yang lebih kecil.

Namun, jika Anda ingin dengan mudah merasakan bahwa Sunda mewarnai Kaltim, silakan tanya kuliner khas saat Anda menuju Samarinda. Tahu Sumedang! Tahu Sumedang adalah oleh-oleh wajib bagi mereka yang melintasi Jalan Raya Balikpapan-Samarinda.

 Jalan ini cukup panjang, panjangnya lebih dari 100 km. Sepanjang jalan hanya ada area hutan lebat yang cukup menyeramkan jika dilalui malam hari. Menjelang sore saja terkadang hewan-hewan buas melintas jalan.

Sepanjang jalan ini nyaris tak ada area peristirahatan. Akan tetapi, di pertengahan jalan, sekitar Bukit Soeharto, Anda akan menemukan rumah makan yang selalu penuh oleh orang-orang yang menempuh perjalanan Samarinda-Balikapapn atau sebaliknya.

Sajian khasnya adalah tahu Sumedang, kuliner khas Sunda. Sambil bersantap atau memesan makanan, gunakan saja bahasa Sunda, niscaya mereka akan paham.

Entah bagaimana asal mulanya tempat ini berdiri namun tahu Sumedang sebagai oleh-oleh wajib memang sudah melegenda. Setiap kali bus yang membawa Persib melewati tempat ini, bisa dipastikan tim akan beristirahat sejenak dan sambutan selalu luar biasa.

Jika kuliner dianggap sebagai duta budaya, bisa jadi tahu Sumedang adalah salah satu contoh nyata di Kaltim sekaligus mengingatkan saya pada nasi kuning Mang Oding yang juga cukup dikenal di Pontianak Kalimantan Barat.

BUMN anu nyunda

Daerah terjauh yang dijajal Persib jika bermain di Kaltim adalah Bontang. Bontang masih beberapa jam lagi dari Samarinda.

Tim kuat asal daerah ini adalah PKT Bontang (sekarang Bontang FC) yang pernah menjadi kekuatan sepak bola di wilayah timur. Saya selalu mengingat dua pemain lawas yang menjadi ikon tim ini yaitu penjaga gawang Sumardi dengan rambut gondrongnya dan legenda Timnas Fachri Husaeni.

Sungguh unik memang tim sepak bola Bontang karena mereka tumbuh dari tim milik salah satu BUMN ternama di Indonesia yaitu Pupuk Kaltim.

Uniknya, ternyata begitu banyak urang Sunda yang bekerja di BUMN ini. Bahkan pejabat-pejabatnya pun berdarah Sunda. Tak perlu heran jika saat bertanding, Anda menemukan karyawan yang menonton sepak bola dan papan nama atau kartu identitas mereka bertuliskan Asep, Dadang, Wawan, dan nama khas Priangan lain.

Namanya juga tim kantor, pada intinya adalah seluruh karyawan BUMN Pupuk Kaltim adalah pendukung PKT Bontang. Akan tetapi ada satu pertandingan ketika PKT justru seakan bermain di kandang lawan walau mereka berlaga di kandang sendiri.

Laga itu adalah saat PKT menjamu Persib. Hampir seluruh karyawan Pupuk Kaltim menunjukkan sisi ke-bobotoh-annya. Alih-alih memberi semangat tim kantor, mereka justru mendukung tim tamu, Maung Bandung.

Urang Sunda yang merantau ke Kaltim relatif merata di berbagai segmen profesi, dari mulai perniagaan, pertambangan, hingga mereka yang menempa karier di pemerintahan, kepolisian, serat militer.

Ada cerita menarik saat Maung Bandung melakukan perjalanan ke stadion segiri Samarinda saat dijamu Persisam beberapa waktu lalu. Pengawalan begitu semarak. Terlebih, karena melibatkan unsur militer. Padahal hal itu bukan standar pengawalan yang disediakan panpel.

Ternyata itu adalah inisiatif orang Priangan yang memiliki otoritas di sana, juga karena mereka adalah relasi manajer Persib Umuh Muchtar. Maka jadilah iring-iringan Persib justru jauh lebih “menakutkan” daripada tim tuan rumah.

Jika Maung Bandung bermain di Kaltim, bobotoh yang bekerja di sektor pertambangan dan perminyakan pasti tak akan melewatkannya. Tak hanya tambang dan minyak sebenarnya, tapi yang jelas kondisi geografis Kaltim memang cocok untuk para insinyur lapangan, terlebih masih terbuka banyak peluang untuk membangun infrastruktur.

Maka tak heran jika banyak lulusan teknik sipil Unpar dan ITB bekerja di Kaltim. Bekerja dengan gaji besar namun terjebak rutinitas yang membosankan membuat mereka begitu haus akan hiburan.

Kehadiran tim lokal kesayangan begitu dinanti. Bicara tentang hiburan, banyak juga mojang Bandung yang bekerja di segmen hiburan malam, utamanya di Balikpapan dan Samarinda.

Khusus di Balikpapan, tempat hiburan malam memang menjadi daya tarik dan suatu keniscayaan karena menjadi pelarian para pria untuk melepas penat. Maklum saja, mayoritas pendatang bekerja di sektor yang keras dan terkadang menjemukan.

Jika Anda masuk ke tempat karaoke papan atas di Balikpapan, cobalah kenakan baju Persib. Tak perlu terkejut jika ada suara-suara seperti ”Hidup Persib” terdengar dari mulut perempuan-perempuan cantik.

Jika cocok, maka dekati dan coba saja pancing dengan berbincang bahasa Sunda. Jika sang gadis merespons, rasa nyaman karena bertemu orang sedaerah di perantauan akan muncul.

Provinsi Bola

Walau tak semeriah dan sepesat Jawa, jumlah populasi minim berbanding terbalik dengan luas daerah kaltim. Namun semakin hari, Kaltim memang terus menarik perhatian. Salah satunya adalah melalui kiprah kub-klub sepak bolanya.

harus diakui bahwa sepak terjang klub asal Kaltim memang senantiasa stabil dari musim ke musim, ditambah stadion-stadion megah yang terus dibangun di sana. Layaklah jika Kaltim sudah bisa disebut sebagai Provinsi Sepak bola.

Secara konsep, pembinaan dan jenjang sepak bola memang tak terdengar merdu dari Kaltim, jauh dengan iklim sepak bola di pulau Jawa.

AKan tetapi, kekuatan dana dan kapitalisasi sepak bola yang baik membuat prestasi klub-klub asal Kaltim termasuk konsisten.

Ingat saja siapa yang menyingkirkan Persib dari babak semifinal Piala Presiden 2017 lalu.

Sumber daya yang melimpah dan khas dari tiap daerah di Kaltim memang membuat banyak investor betah berlama-lama di Kaltim. Eksesnya tentu ada bagi kemapanan finansial klub-klub di sana, entah bagaimana caranya.***