Bedil dan Belati

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

PEKAN lalu, untuk kedua kalinya, saya ikut ngadu bako soal penca di kedai kopi Los Cihapit, Bandung. Kalau sebelumnya kami membicarakan buku penca, kali itu kami membicarakan film penca. Itulah film arahan Gareth Evans, buatan tahun 2011, yang judul Inggrisnya, ”The Raid”. Iang Darmawan, teman kuliah saya di Unpad dan salah seorang aktor dalam film tersebut, turut hadir.

Sebelum sawala, kami menonton bersama. Film dari laptop disorotkan dengan sebuah proyektor ke salah satu dinding kedai. Seru. Banyak adegan gelut dan tembak-menembak. Namanya juga film laga, gayanya Hollywood pula. Ceritanya sudah akrab dengan diri kita. Seregu polisi menyerbu sekomplotan penjahat dan terjebak dalam baku tembak dan baku pukul mati-matian.   

Buat mereka yang tidak mengenal penca, seperti kata Iang “Gofar” Darmawan, film ini menyuguhkan adegan laga nan seru. Buat mereka yang mengenal pencak silat, atraksi Iko Uwais dan kawan-kawan niscaya memperkaya sumber apreasiasi atas seni bela diri khas Indonesia. Silat terlihat dari awal hingga tamat. Tidak berlebihan kiranya jika Mang Mody Afandi, pejudo dan penulis yang jadi moderator sore itu, melihat film ini sebagai “perkembangan” tersendiri dalam sejarah film silat.

Saya sendiri, sebagai pemula di bidang penca, tertarik oleh dua hal yang terlihat menonjol dalam film tersebut, yakni senjata api dan seni bela diri. Dalam pandangan saya yang rabun, keduanya sangat berlainan, seperti trayek yang mengarah ke dua jurusan. Yang satu bisa membunuh musuh dari jarak jauh, yang lain bisa menaklukkan lawan dalam kedekatan.

Di jagat senjata api, bahkan adegan duel pun lazimnya dimulai dengan langkah mundur saling menjauh. Di dunia persilatan, atraksi dua jago lazimnya diawali dengan langkah saling mendekat. Sulit membayangkan semacam peran sniper dalam cerita silat. Kalaupun ada perilaku main belakang atau ngabongohan, niscaya hal itu tetap menuntut jarak dekat.

Dalam ”The Raid”, seperti juga dalam banyak film lain, keduanya dipertemukan. Dalam hal ini saya tertarik oleh sebuah adegan yang diperankan oleh Yayan Ruhian dan Joe Taslim.

Yayan jadi Mad Dog, Joe jadi Jaka. Di tengah konflik keduanya berhadap-hadapan. Mad Dog memegang pistol, Jaka menggenggam pisau. Kata sang pemegang pistol, amatlah mudah bagi dia untuk membunuh sang polisi. Tinggal tekan picu, selesai. Namun, katanya pula, tindakan seperti itu ”tidak asyik”.

Memang, tidak elok melihat aktor terbunuh oleh sebutir peluru, apalagi dalam jarak yang begitu dekat. Rasanya, tidak ada ”seni” dalam adegan demikian. Mungkin itu sebabnya, drama penembakan dalam film kerap diolah dari gestur korban yang melayang, terpelanting, lantas jatuh berdebam. Alternatifnya pastilah cipratan darah.

Dengan kata lain, Mad Dog mengajak Jaka berduel dalam semacam seni penca. Kita pun dapat melihat koreografi yang luar biasa. Pendekar dan aktor seperti Kang Yayan kelihatannya sudah piawai berguling-guling sejak lahir. Saya terbengong-bengong melihat bahasa tubuhnya yang pejal, lentur, dan bertenaga. Ototnya tidak mentul-mentul macam Rambo, tapi tenaganya dahsyat benar. Untuk meremukkan tulang-belulang yang menopang tubuh penulis kolom ini, dia pasti tidak perlu berkeringat.

Satu-satunya hal yang membuat saya agak ragu dari film ini adalah akhir konfliknya. Hampir semua adegan pertarungan dalam film ini berakhir dengan terbunuhnya salah satu pihak. Luka dan cedera rupanya tidak dianggap cukup. Ya, namanya juga cerita perang, kalau tidak membunuh, niscaya terbunuh. Yang jelas, saya sendiri cenderung membayangkan kemungkinan lain, misalnya pihak musuh mungkin tak harus terbunuh melainkan cukup berubah pikiran.

Anda mungkin menilai saya hanya mengada-ada. Baiklah saya kutip salah satu adegan seru dalam dongeng silat karangan mendiang S Sukandar yang terkenal, “Si Buntung Jago Tutugan”. Ketika Andi, jagoan serial radio itu, bertarung dengan salah seorang kaki-tangan begundal Bah Rowi, ia tidak sampai membunuh lawan mainnya. Setelah musuhnya menyadari kekeliruannya, Si Buntung Andi pergi melanjutkan perjalanannya.

Seperti kata seorang teman, pembuat serial televisi yang turut hadir dalam diskusi, jagat silat menyediakan begitu banyak bahan bagi para pembuat produk budaya di kemudian hari. Salah satu di antaranya, sudah pasti, tak lain dari filsafat silat itu sendiri.

Nah, kalau sudah sampai ke lubuk filsafat, ngadu bako seperti yang kami lakukan sore itu, sambil minum kopi, sebaiknya memang dihentikan dulu. Dunia persilatan, sebagaimana dunia perkoloman, toh masih akan dilanjutkan. Mudah-mudahan.***