Gunung Guntur

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

BEGITU memasuki Tarogong, Kabupaten Garut, Gunung Guntur terlihat begitu jelas. Lerengnya masih gersang warna emas kecokelatan. Aliran lava yang meleler pada letusan besar pada tahun 1840, berhenti persis di atas Cipanas. Bentuknya menyerupai sepatu bot raksasa sepanjang 2,75 kilometer. Sebelumnya, 16 kali letusan Gunung Guntur telah melelerkan lava yang saling menindih.

Leleran lava terakhir terlihat seperti sungai kering. Ketika leleran lava itu terkena udara, maka bagian luar lava itu segera kering membatu, sementara bagian dalamnya masih tetap cair, meleler menuruni lereng dengan suhunya yang tinggi. Ketika pasokan magma dari dalam kekuatannya melemah, tersumbat, sebut saja habis, maka akan membentuk lorong panjang yang menurun. Terowongan lava atau gua lava. Karena atap terowongan lava itu tidak mampu lagi menyangga beban, maka atapnya ambruk, membentuk seperti sungai kering.

Hujan yang turun meresap jauh ke dalam tubuh gunung, lalu direbus dengan tungku alam raksasa Gunung Guntur, menjadi air panas yang keluar di Ciengang, Cipanas. Mata air panas ini dimanfaatkan untuk balneoterapi, terapi kesehatan di bak-bak pemandian.

Di kaki Gunung Guntur, kolam dan persawahan tak pernah kekurangan air, menjadi jalan keberkahan bagi masyarakat di sekitarnya. Pohon kelapa berjajar di pematang, tak henti bercermin di kolam yang luas. Inilah sesungguhnya ciri bumi kawasan Tarogong, yang terus memudar berbarengan dengan semakin hilangnya kolam karena diurug untuk permukiman dan penginapan.

Skenario mitigasi

Tak seperti gunung api lain yang pada umumnya berkerucut tunggal atau monokonida, Gunung Guntur berkerucut banyak atau polikonida, dengan kerucut yang berjajar mulai Gunung Masigit, Gunung Sangiangburuan, Gunung Parupuyan, Gunung Kabuyutan, dan Gunung Guntur. Sangat mungkin, karena gunung ini berkerucut banyak, sehingga bentuknya terlihat sangat besar, maka penduduk Garut menyebutnya Gunung Gede.

Gunung polikonida ini mencirikan bahwa titik letusannya terus bergeser. Oleh karena itu, perlu terus dilakukan penelitian yang seksama agar dapat menjawab apakah ada pergeseran titik letusan bila gunung ini meletus di kemudian hari. Presisi jawaban sangat penting artinya untuk tujuan mitigasi. Karena bila terjadi letusan terarah di bagian tenggara dari kawah saat ini, maka dampaknya akan lebih besar dari yang diperkirakan selama ini. Diperlukan skenario mitigasi jauh sebelum bencana itu terjadi.

Gunung Guntur masa lalu pernah meletus dahsyat dan meluncurkan awan panas, jatuhan abu tebal, pasir, kerikil, bom gunung api, dan melelerkan lava. Bila aliran bahan letusan gunung api mengendap di tubuh gunung, lalu bercampur dengan air hujan, maka akan menjadi lahar, menjadi adonan yang dapat meluncur di lereng, di lembah, menguruk apa saja yang dilaluinya. Banjir lahar mahadahsyat inilah yang telah mengubah nama Gunung Gede menjadi Gunung Guntur.

Letusan dahsyat manakah yang menyebabkan banjir lahar yang telah mengubur penduduk dan peradabannya? Apakah letusan 110.000-80.000 tahun yang lalu dengan banjir lahar yang sangat luas, ataukah letusan yang pertama kali tercatat, yaitu pada tahun 1690, yang mengakibatkan kerusakan besar dengan jumlah korban yang banyak? 

Lahar yang melanda kaki gunung itu meluncur sejauh 7,5 kilometer dari pusat letusan dengan lebar sampai 3,5 kilometer. Endapkan material jatuhan yang terjadi pada letusan antara tahun 1840-1847 di Cipanas setebal 24 sentimeter, dan di Tarogong 18 sentimeter. 

Banjir besar

Antara peristiwa banjir lahar yang mahabesar dengan penamaan gunung ini sangat berkaitan. Kata guntur dalam Kamus Bahasa Sunda yang disusun R. Satjadibrata bermakna caah, banjir. Ngaguguntur, membersihkan leutak, lumpur, dari kolam dengan bantuan air untuk mendorongnya. Sedang peribahasa kagunturan madu kaurugan menyan putih, kebanjiran madu, tertimbun menyan putih, maknanya mendapat kegembiraan yang sangat besar. Demikian juga dalam Kamus Basa Sunda yang disusun R.A. Danadibrata, guntur berarti caah gede nepi ka batu-batu nu geledé, tatangkalan kabawa palid, banjir besar yang menghanyurkan batu-batu besar dan pepohonan.

Demikian juga dalam Kamus Jawa Kuna-Indonesia yang disusun P.J. Zoetmulder, guntur berati: 1. Banjir dari letusan gunung api. 2. Meletus, merebah, ambruk, tertimbun (di bawah letusan gunung api). 3. (barangkali juga) bunyi gemuruh. Yang berhubungan dengan lema guntur adalah guntur arga, letusan gunung api, dan léwu guntur, sungai gunung yang sangat deras.

Kata guntur dalam Gunung Guntur lebih bermakna banjir lahar karena letusan gunung api. Sama halnya dengan kejadian yang terdapat dalam sasakala Gunung Guntur, yang mengisahkan Sunan Ranggalawe yang menjadi Raja di Timbanganten, dengan ibu kotanya di Korobokan. Sunan Ranggalawe sangat terpukul ketika melihat wilayah kerajaannya hancur luar biasa. 

Penduduk yang meninggal sebanyak 11.000 jiwa, sebagian lagi mengungsi ke tempat lain, sehingga daerah ini menjadi kawasan yang kosong. Sejak itulah nama gunungnya menjadi Gunung Agung, dan sebagian lagi menyebut Gunung Guntur. Ibu kota Nagari Timbanganten dipindahkan dari Korobokan ke Tarogong. Dalam legenda ini tergambarkan dengan jelas, bahwa kehancuran itu karena adanya banjir tanah dan air.

Sejak tahun 1847 sampai 2017, sudah 170 tahun Gunung Guntur setinggi 2.249 meter di atas permukaan laut ini tidak meletus besar, seakan terlelap dalam tidur panjangnya. Menyiapkan diri dari segala kemungkinan bahaya letusan bila sewaktu-waktu gunung ini meletus adalah tindakan bijaksana. Bagaimana menyiagakan warga di 61 kampung yang berada di dalam radius 5 kilometer dari pusat letusan. Mereka masuk ke dalam kawasan yang berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu pijar, yang sebagian kawasannya ada yang berpotensi terlanda aliran awan panas, lava, lahar, dan kemungkinan terlanda awan panas.

Demikian juga warga di 155 kampung yang berada di dalam radius 8 kilometer yang termasuk ke dalam kawasan yang berpotensi terlanda hujan abu dan kemungkinan dapat terkena lontara batu pijar. Juga sebagian kawasannya ada yang berpotensi terlanda aliran lahar dan terkena perluasan aliran awan panas, lava, dan guguran puing gunung api.

Menyiapkan apa yang harus dilakukan adalah tindakan yang lebih baik daripada panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat terjadi letusan.***