Presiden Rosid

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

PELUKIS Rosid lagi senang dengan karyanya yang baru. Berdasarkan potret, dia menggambar wajah tujuh presiden Republik Indonesia, dari Soekarno hingga Joko Widodo. Pada kanvas yang masing-masing berukuran sekitar 150x120 cm, ia menggoreskan pensil hitam dan putih, bertumpuk, saling bertaut, membentuk raut. Bung Karno, Pak Harto, Eyang Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, Pak Beye, dan Mas Jokowi seakan jadi tamu penting di Cigadung.

"Ngapain, Mang, paké ngelukis orang-orang besar segala? Apa sudah bosan ngelukis ayahmu sendiri?" celetuk saya baru-baru ini ketika singgah di Studio Rosid. Terletak di Cigadung Raya Tengah 40, Kota Bandung, studio itu teduh dan sarat dengan alat pertanian serta perabotan rumah tangga dari zaman kuda ngégél beusi.

"Pesanan dari Perpustakaan Nasional, Kang. Buat dipasang di gedungnya yang baru, dekat Monas," jawab Rosid. 

"Proyek besar dong."

"Gedungnya mau diresmikan tanggal 14 September. Katanya, mau diresmikan oleh Pak Jokowi."

"Wah, bakal ketemu presiden, dong. Hebat ente, Mang!"

"Alhamdulillah, Kang. Berekah."

Selagi Rosid bergegas turun dari lantai dua, hendak ke masjid buat salat Asar berjemaah, saya memelototi lukisan-lukisan itu, satu demi satu. Nyanyian Iwan Abdulrachman, tetangganya, terdengar mengalun dari mesin pemutar CD di pojok ruangan.

Tanpa seizin pelukisnya, diam-diam saya potret lukisan Jokowi dengan ponsel, lalu citraan itu saya kirim melalui WA kepada Teten Masduki dengan keterangan seperlunya. Beberapa detik kemudian, Kang Pejabat membalas pesan saya dengan ikon jempol.

"Kang Rosid téh lulusan mana?" tambahnya kemudian.

"Sakola alam, asak di jalan," jawab saya sekenanya.

Setahu saya, Rosid berasal dari Parigi, Ciamis. Lahir pada 1969, ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya, Dapin, wafat dalam usia sekitar 94 tahun. Ibunya, Supiyem, wafat dalam usia sekitar 86 tahun. Sewaktu ia masih duduk di bangku SMA di desanya, Rosid sering membuat lukisan potret. Selepas sekolah, ia pindah ke Bandung, ikut tinggal bersama kakaknya yang jadi polisi.

Bakatnya dalam seni rupa antara lain diasah selama lebih kurang dua tahun di Sanggar Olah Seni, Babakan Siliwangi, pimpinan mendiang Tony Yusuf. Ia juga pernah membantu di Studio R-66 milik Bu Heyi Ma’mun. Pernah pula ia mengikuti workshop di studio Pak Naryo (pematung Sunaryo). Pada gilirannya, lukisan-lukisannya mendapat perhatian banyak kalangan. Nama Rosid tercatat antara lain dalam buku "Modern Indonesian Art: from Raden Saleh to the Present Day" (2010) suntingan Koes Karnadi dan Garrett Kam. 

Khusus buat Jokowi, Rosid juga memakai media kayu jati berukuran sekitar 120x60 cm. Wajah Pak Presiden dilukiskan tidak hanya di atas kanvas, melainkan juga di atas kayu. Rupanya, sebagai penggemar perabotan jadul dari kayu jati, sang pelukis menaruh perhatian khusus pada latar belakang profesi di bidang mebel yang turut menandai perjalanan karier pemimpin republik hari ini. 

Waktu saya menulis kolom ini di Ledeng, baru saya ingat bahwa presiden Rosid sebetulnya masih perlu ditambah. Sekurang-kurangnya, ada satu nama lagi selain ketujuh nama yang telah diabadikan dalam lukisan itu tadi. 

"Mang, sebetulnya, ada satu presiden lagi loh yang belum dilukis," ujar saya melalui telefon.

"Saha, Kang?" tanya Rosid.

"Sjafruddin Prawiranegara."

Sejauh yang saya baca, di penghujung tahun 1940-an, tatkala Belanda mengadakan agresi militer yang kedua, dan para pemimpin seperti Soekarno dan Hatta diasingkan, republik toh tidak sampai berhenti. Dalam keadaan gawat, para pemimpin negara membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Ketuanya adalah Sjafruddin Prawiranegara. Biar istilahnya "darurat", kedudukan Pak Sjafruddin toh setingkat presiden.

Dengan kata lain, jika presiden Rosid ada tujuh, presiden saya ada delapan. Itulah antara lain yang mendorong saya buat kembali berkunjung ke Cigadung. Siapa tahu, saya bisa ikut belajar cara menggambar wajah yang hendak diingat.***