Fighting Spirit

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

SEORANG dosen senior mengeluhkan kelakuan mahasiswanya yang dinilainya tidak memiliki daya juang (fighting spirit). Keluhannya itu terkait dengan ulah mahasiswa yang tidak bisa menunggu, tak suka tantangan, dan gampang pundung (Jawa, mutung). Bila mau bimbingan, demikian ujar sang dosen itu, mahasiswa tersebut terus bertanya kapan bapak ada waktu. Namun, ketika dijawab sekarang, karena memang sejak pagi sang dosen sudah di kampus, mahasiswa itu bilang, "Aduh maaf belum siap kalau sekarang mah".

Butuh setengah sampai satu jam untuk mempersiapkan diri. Rupanya sang mahasiswa mengontak dosennya terlebih dahulu sebelum ia mandi. Entah untuk memastikan agar kedatangannya ke kampus tidak sia-sia, atau entah untuk alasan apa. Yang pasti, masih menurut dosen senior itu, ini bukan kejadian pertama, dan terjadi juga dengan mahasiswa lainnya. Sampai akhirnya, dosen itu memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan serupa, karena dia pikir ketika mahasiswa bertanya seperti itu bukan untuk memastikan kesiapan dosen, melainkan untuk mengarahkan agar dosen siap pada waktu yang dikehendaki sang mahasiswa.

Menurut sang dosen itu, ini pelanggaran berat dan kemunduran nyata sistem pendidikan nasional. Mengutak-atik menteri dan bongkar-pasang kurikulum hanya untuk menghasilkan generasi muda yang cengeng. Generasi instan yang menyepelekan proses.

Tak perlu dibandingkan dengan perjuangan mahasiswa pada masa ketika ia harus berhadapan dengan dosen yang dikenal killer dan feodal, namun untuk tugas yang dinilai standar pun (seperti mencari buku "babon", kebanyakan mahasiswa dengan enteng bilang tidak ada). Pun ketika transportasi susah, dan persediaan buku terbatas, membuat mahasiswa seangkatannya tahan banting, tak mudah menyerah, dan kreatif mencari jalan keluar.

Sang dosen senior itu bilang berkali-kali seakan membatin, saya tak pernah menuntut agar mereka seperti saya, atau seperti mahasiswa seangkatan saya, karena zaman sudah berubah. Tantangan sudah bersalin rupa. Namun baginya, kepemilikan daya juang itu mutlak. Bila dulu daya juang dibutuhkan untuk mengatasi kelangkaan (scarcity), maka sekarang daya tahan diperlukan untuk menghadapi kemelimpahruahan fasilitas yang membuat hidup serbamudah dan cepat.

Persoalan yang ingin dia kritisi bukan kemudahan yang tercipta karena kemajuan teknologi, karena perubahan seperti itu by design, dan sudah menjadi keniscayaan. Namun yang disesali adalah sikap manja, gampang menyerah (epes meer), "gak tahan susah", bahkan dalam beberapa kasus, menggampangkan persoalan. Padahal, betapa pun serbamudahnya hidup, tantangan akan selalu ada meski dengan bentuk yang tidak tampak menakutkan, rumit, atau menyebalkan. Jadi, seperti halnya orang-orang yang papa, orang yang makmur sekali pun, akan dihadapkan pada tantangan, kesulitan, dan kesusahan. Jadi, daya tahan, daya juang, semangat melawan keadaan harus tetap ada betapa pun kehidupan memanjakannya dengan kemudahan.

Jalan pintas

Menggampangkan persoalan, berorientasi hasil tanpa menghargai proses, dan kecenderungan menempuh jalan pintas, itu tiga poin yang menjadi konsen dosen senior tadi. Namun, bila diarifi lebih dalam, bukankah ketiga persoalan tersebut omnipresent, atau serbahadir, mudah ditemukan di mana-mana. Ketiga gejala tadi muncul dalam wajah yang beragam, mulai dari tindakan ecek-ecek hingga hal serius sekalipun.

Tengok di jalan raya, banyak pengendara motor melawan arus sambil membawa dua atau tiga anaknya ke sekolah. Masih di jalan raya, tengok kanan-kiri, pada baliho yang berderet memburu jabatan bupati/wali kota/gubernur, siapa mereka? Entahlah, yang pasti mereka menempuh jalan pintas untuk popular. Tengok pula ketegangan yang terjadi di Senayan, antara Pansus KPK dengan komisi antirasuah itu. Bukankah korupsi merupakan kejahatan luar biasa, dan karenanya ketika DPR menyeleksi komisioner KPK mereka pilih orang-orang berintegritas dan berdaya juang tinggi, namun mengapa ketika menyentuh nama-nama tenar di Senayan KPK balik diserang?

Betul kecerdasan itu penting, namun daya juang jauh lebih penting. Seperti yang menjadi doktrin tentara pejuang, bertarung saja tidak cukup, yang menentukan adalah semangat yang dibawa ke dalam medan pertempuran, sebab moral bertempurlah yang memenangi pertarungan. Seperti dalam perang Agincourt yang legendaris, 6.000 pasukan Inggris melawan 25.000 tentara Prancis yang serbalengkap dan teratur rapi. Namun, semangat bertempur dan moral mereka terbakar oleh semangat yang diletupkan pemimpin mereka King Henry V, yang berkeliling di sela-sela barisan dan memimpin doa di depan mereka, hingga pasukan kecil yang tampak tidak teratur tersebut menyelamatkan muka kerajaan, dan keluar dari medan pertempuran dengan kemenangan.

Daya juang (fighting spirit) tidak boleh lepas meski kemakmuran sedang memayungi, karena tantangan bukan hak prerogatif orang miskin. Semangat juang kadang seperti obat, terasa pahit namun harus ditelan, bila hidup ingin terus berlanjut. Daya juang memang bukan panacea, namun nasib baik akan mengikuti mereka yang tidak kenal menyerah, memiliki kesabaran berlapis, dan ikhtiar tanpa mengenal kata akhir.***