Komunikasi Pariwisata

deddymulyana's picture

Deddy Mulyana

Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat dan ­guru besar Fikom Unpad.

Pariwisata kita menduduki peringkat ke-47 dunia tahun ini, sedangkan tahun sebelumnya hanya peringkat ke-100. “Dengan keunggulan alam, budaya, serta keramahtamahan masyarakatnya, serta didukung strategi dan promosi yang tepat, diyakini pariwisata Indonesia akan mampu bersaing dalam kancah internasional, seperti Bali yang baru-baru ini terpilih menjadi destinasi terbaik di dunia pada 2017 oleh Trip Advisor,” kata Garth Simmons, Chief Operating Officer Accor Hotels untuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura (Pikiran Rakyat, 18 Juli 2017).

Harapan Simmons mungkin akan terwujud jika kita melakukan komunikasi pariwisata yang efektif. Memasarkan pariwisata seperti memasarkan produk istimewa. Johnson Johnrose dalam pertemuan puncak Asosiasi Pariwisata di Curacao (2002) menganalogikan pariwisata dengan telur ayam, produk istimewa yang harus selalu ada dan baik meski tak lebih baik dari telur ikan. Padahal, ayam bertelur sehari satu, sedangkan ikan bertelur ribuan sekali waktu. 

Telur ayam lebih laku karena begitu bertelur, ayam merasa bangga dan terus berkokok sehingga didengar dunia, sedangkan ikan berdiam saja. Agar pariwisata didengar dunia, kita harus memberitakannya ke seluruh dunia. Pesan tentang produk kita harus jelas, konsisten, dan jujur. Artinya, wisatawan yang datang tidak merasa dibohongi. Iklannya membuat orang penasaran, misalnya untuk Candi Borobudur, disebutkan ”10 tempat paling cantik yang harus dikunjungi sebelum mati”. 

Agar warga dunia datang ke Indonesia, profil Indonesia yang unik harus dibuat. Bukan hanya dalam bahasa Inggris, melainkan juga dalam bahasa-bahasa utama dunia, seperti Cina (Mandarin), Prancis, Spanyol, Jepang, dan Arab. Profil itu harus disebarkan ke media massa dan internet di negara-negara bersangkutan dengan bahasa nasional mereka, dengan desain menarik, supaya mudah dilirik. Jangkauan media digital diketahui empat kali jangkauan media konvensional. 

Selain itu, setiap kedutaan dan konsulat Indonesia di negara-negara sasaran harus diberi tugas mempromosikan pariwisata kita, terutama lewat pameran dan festival budaya, termasuk saat Indonesia merayakan hari istimewa, seperti HUT Kemerdekaan dan Hari Idulfitri. Tokoh-tokoh nasional dan lokal yang kita undang boleh jadi akan menyebarkan keistimewaan negeri kita melalui berbagai cara dan media, termasuk media sosial.  

Sadar pariwisata

Di pihak lain, masyarakat kita harus disadarkan akan pentingnya pariwisata, juga dididik untuk mempromosikan pariwisata guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka. Keramahtamahan masyarakat Indonesia harus dioptimalkan untuk membuat wisatawan mancanegara (wisman) senang dan betah ke mana pun mereka pergi dan di mana pun mereka menginap di Indonesia, terutama oleh orang-orang yang bergerak langsung dalam pengelolaan pariwisata. Sasaran utama kampanye sadar wisata di dalam negeri, selain pengelola pariwisata, adalah kepala daerah serta pengambil keputusan dan pembuat kebijakan di daerah, juga para tokoh informal seperti kiai yang disegani masyarakat.

Masyarakat, terutama para petugas di bandara, hotel, restoran dan destinasi wisata, terutama pegawai garis-depan (frontline), harus dididik bagaimana mereka dapat menyenangkan para wisman. Kemampuan berbahasa asing saja tidak cukup. Mereka juga harus kompeten dalam bidangnya masing-masing. Kemampuan berkomunikasi secara nonverbal dan pemahaman akan nilai-nilai budaya yang dianut para wisman perlu dipahami agar tidak terjadi miskomunikasi yang berakibat fatal. 

Keefektifan komunikasi kita dapat diukur tak hanya berdasarkan bukti bahwa para wisman merasa puas, tetapi juga berdasarkan keinginan mereka untuk kembali ke negeri kita. Mekanisme umpan balik perlu dibuat untuk menanyai para wisman menjelang dan setelah kunjungan mereka berakhir untuk mendapatkan informasi mengenai tingkat kepuasan mereka atas kunjungan mereka dan bagaimana saran mereka untuk perbaikan pelayanan pariwisata kita ke depan.

Semboyan (tagline) pariwisata kita, “Wonderful Indonesia”, harus disebarkan ke seluruh dunia, seperti semboyan Malaysia “Truly Asia” (Sebenar-benarnya Asia). Promosi pariwisata Malaysia, terutama lewat semboyannya, dinilai berhasil. Selama beberapa tahun terakhir, rata-rata wisman ke Malaysia di atas 20 juta orang per tahun, sedangkan Indonesia kurang dari 10 juta orang per tahun. 

Jumlah 20 juta wisman baru dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata pada tahun 2019. Padahal, wilayah Indonesia jauh lebih luas, lebih variatif, dan lebih indah daripada Malaysia. Khusus dalam pariwisata halal (untuk umat Islam), pada tahun 2015, misalnya, berdasarkan catatan Global Muslim Travel Index (GMTI), terdapat 117 juta Muslim yang gemar berwisata, termasuk ke Malaysia 6 juta orang (peringkat pertama) yang jauh melebihi jumlah pengunjung Muslim ke Indonesia sebanyak 1,2 hingga 2 juta orang (Pikiran Rakyat, 26 Maret 2017)

Segala sesuatu, bahkan daerah kumuh dan padat di suatu kota (Cicadas di Bandung misalnya) atau cara menanam padi di sawah, mengolah tanahnya, menangkap ikan serta mengembala ternak dapat menjadi objek wisata, asal dikelola dan disajikan dengan menarik serta disampaikan oleh penerjemah yang mumpuni, diselingi dengan cerita dan humor yang segar. Akan selalu ada wisman yang tertarik untuk menjelajahi sisi-sisi ganjil atau aneh suatu negeri.

Objek wisata yang sarat dengan legenda bahkan mitos seperti Gunung Tangkubanparahu di Jawa Barat akan menarik jika para wisman tidak hanya melihat objek nyatanya, tetapi juga mendengarkan cerita tentang Sangkuriang yang jatuh cinta kepada Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri.

Pariwisata halal

Pariwisata halal prospektif di Indonesia, terutama bagi masyarakat Timur Tengah. Kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi dan rombongannya ke negeri kita, khususnya Bali tempo hari, seyogianya menginspirasi kita, betapa banyak devisa yang akan kita peroleh jika banyak orang Arab kaya berkunjung ke Indonesia. Kampanye pariwisata dalam bahasa Arab perlu dilakukan secara masif, tetapi kita harus siap menerima kunjungan mereka. 

Penyediaan makanan halal dan higienis, jaminan keamanan, aktivitas serta hiburan atau kesenangan yang sesuai dengan syariat Islam harus menjadi prioritas. Jika saja kita memiliki banyak tenaga pariwisata yang paham bahasa Arab, boleh jadi lebih banyak lagi orang Arab, termasuk para pangerannya, yang mau berkunjung ke negeri kita.

Sebagai ilmu dan keterampilan, Komunikasi Pariwisata potensial untuk dikembangkan di negeri kita. Pengembangan disiplin ini bisa dimulai sebagai satu dua sesi pelatihan atau lokakarya yang setara dengan satu dua sesi kuliah dalam Mata Kuliah Komunikasi Lintasbudaya atau mata kuliah lain yang relevan di perguruan tinggi pada tingkat D3 dan S1, untuk kemudian dikembangkan menjadi mata kuliah tersendiri, sebagai konsentrasi, dan kelak sebagai program studi,  bahkan pada tingkat S2 dan S3.***